Di tahap ini vaksin penemuan Chen Wei kalah cepat dengan yang cepat tadi.

Sedang vaksin yang ditemukan ahli Amerika Serikat kini masih menunggu hasil uji klinik tahap pertama. Berarti Amerika kalah dua langkah –dari segi kecepatan. Entahlah dari segi kualitas.

Sebenarnya saya masih menunggu perkembangan terbaru dari Tiongkok. Tadi malam. Saya berharap ada berita susulan: tidak diperlukan lagi uji klinik tahap ketiga. Dengan alasan ini kan zaman pandemik.

Tapi yang saya nantikan tidak datang. Padahal saya menunggunya sampai pukul 22.00. Sampai saya terkantuk-kantuk.

Ya sudahlah. Mata sudah tidak kuat lagi. Sudah tidak seperti dulu –yang kuat menunggu hasil pertandingan sepak bola Eropa sampai pukul 1 malam.

Uji klinik tahap ketiga itu sebenarnya ”hanya” untuk extra hati-hati. Tujuannya: apakah vaksin itu secara keseluruhan bisa menghasilkan seperti yang direncanakan.

Karena itu di uji coba tahap ketiga ini orang yang divaksin lebih banyak lagi. Seolah seperti sudah dipergunakan untuk masyarakat luas.

Tujuan lainnya: untuk dibandingkan dengan obat sejenis di penyakit yang sama.

Lho. Dalam hal vaksin Covid-19 ini mau dibandingkan dengan vaksin yang mana? Bukankah belum ada vaksin serupa dengan itu?

Itulah. Sampai saya menunggu jangan-jangan tahap ketiga itu tidak diperlukan.

”Sebenarnya ada klausul untuk mempercepat penemuan obat baru. Yakni klausul pandemik,” ujar satu dari tiga profesor yang saya ajak bicara soal ini tadi malam. Tiga profesor itu semua aktif di bidang penelitian obat dan virus.

Saya sendiri menduga kali ini vaksin baru itu dicukupkan uji kliniknya sampai tahap kedua saja. Berarti proses produksinya akan segera dilakukan. Di Beijing untuk wilayah utara dan di Wuhan untuk wilayah tengah sampai Selatan.

Sedang uji klinik tahap ketiganya bisa dilakukan sambil jalan. Ini kan zaman pandemik.

Dengan dua penemuan vaksin Covid-19 di Tiongkok ini, maka lengkaplah: untuk yang telanjur terkena virus sudah ditemukan Carrimycin (Baca DI’s Way: Pusing Ka-Li-Mi-Cin). Sedang untuk yang belum terkena Vovid-19 bisa divaksinasi.

Tapi kita tetap saja harus lebih bersabar: menunggu keduanya kapan sampai di Indonesia.

Kita senang ketika Covid tidak kunjung bisa masuk Indonesia. Dulu itu. Sampai-sampai kita sangka perizinannya sulit.

Kini kita berharap perizinan masuknya vaksin nanti bisa SSW –set-set-wet, meminjam istilah kecepatan gerakan copet yang kini mulai banyak beraksi. (Dahlan Iskan)