alexametrics
26.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Serunya Bukber Di Kunming

Mobile_AP_Rectangle 1

Siapa pun tahu: beli tiket mendadak itu sulit. Terutama menjelang Lebaran seperti ini. Tapi saya harus pulang. Semendadak ini. Menjelang lebaran. Istri saya masuk rumah sakit. Batu di ginjalnya bikin infeksi. Dengan segala komplikasinya.

Segi baiknya: istri saya terpaksa mau dioperasi. Setelah sekian lama sulit dirayu.

Saya tahu tidak mud cari tiket pulang. Dari Amerikanya sih mudah. Tapi setelah tiba di Asia akan sulit cari sambungan ke Indonesia. Terutama dari jurusan gemuk: Hongkong, Tokyo, Shanghai, Beijing, Xiamen, Singapura, Kuala Lumpur, Dubai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saya harus cari jurusan ke Indonesia dari kota-kota yang tidak populer. Begitulah kiat saya. Pilihannya: Hongkong-Hanoi-Ho Chi Min City-Jakata. Atau Hongkong-Kunming-Xiamen-Jakarta. Atau lewat Manila-Jakarta. Atau Brunai Darussalam-Surabaya.

Maka untuk bisa cepat tiba di tanah air akhirnya saya dapat tiket dengan jurusan muter-muter: dari Amerika mendarat di Hongkong. Lalu terbang satu jam ke Hanoi (Vietnam). Di Hanoi sempat mengikuti berita demo anti Tiongkok. Yang akan diberi izin menambah lagi tiga special economic zone. Dari 18 SEZ yang sudah ada. Dengan izin tanah 99 tahun.

Dari Hanoi terbang satu jam ke Kunming, Tiongkok. Nah, dari Kunming ini barulah saya dapat tiket pulang: Kunming – Xiamen – Jakarta.

Awalnya saya melihat ada pilihan lain: Hongkong-Brunai-Surabaya. Bermalam di Brunai dulu. Gak masalah. Bisa langsung Surabaya. Masih ada lima seat: aman. Saya mulai keluarkan dompet. Ambil kartu kredit. Siap membayar. Eh…. telat: dalam sekejap itu lima seat tadi lenyap.

Pilihan lain juga ada: Hongkong-Manila-Jakarta. Bermalam satu malam di Manila. Tapi saya pilih yang ke Jakarta lewat Kunming-Xiamen itu.

Hanya saja saya juga harus bermalam di Kunming. Gak masalah. Lebih menarik Kunming daripada Manila. Saya bisa cari masjid di Kunming. Untuk buka puasa.

Saya sudah beberapa kali ikut berbuka puasa di kota-kota lain di Tiongkok. Tapi belum pernah di Kunming. Setiap ke Kunming selalu saja bukan di bulan puasa.

Menurut Paman Baidu (Pak Googlenya Tiongkok), ada lima masjid di Kunming. Saya pilih yang paling pusat kota: di jalan Cheng-yi. Pusatnya kya-kya di Kunming. Ribuan orang cuci mata di situ. Mobil tidak boleh masuk. Wisata kota tua juga ada di jalan itu.

Masjid Cheng-yi tidak terlihat dari jalan. Bagian depannya gedung enam tingkat: hotel milik masjid. Dan perkantoran milik masjid. Di sebelah gedung itu ada gang masuk: ke halaman masjid. Masjidnya luas: di lantai dua. Lantai bawahnya untuk restoran halal.

Restoran itu tutup selama bulan puasa. Fungsinya diubah hanya untuk tempat buka puasa bersama. Setiap hari.

Saya tiba di masjid itu pukul 18.30. Beberapa orang mulai datang. Kian banyak. Pukul 18.20an orang tua itu keluar dari ruangan masjid: adzan. (Lihat video).

Saya bertanya ke anak muda di sebelah saya: adzan untuk apa itu?

”Untuk sembahyang ashar,” kata anak muda itu.

”Asharnya kok telat sekali ya…,” kata saya dalam hati.

- Advertisement -

Siapa pun tahu: beli tiket mendadak itu sulit. Terutama menjelang Lebaran seperti ini. Tapi saya harus pulang. Semendadak ini. Menjelang lebaran. Istri saya masuk rumah sakit. Batu di ginjalnya bikin infeksi. Dengan segala komplikasinya.

Segi baiknya: istri saya terpaksa mau dioperasi. Setelah sekian lama sulit dirayu.

Saya tahu tidak mud cari tiket pulang. Dari Amerikanya sih mudah. Tapi setelah tiba di Asia akan sulit cari sambungan ke Indonesia. Terutama dari jurusan gemuk: Hongkong, Tokyo, Shanghai, Beijing, Xiamen, Singapura, Kuala Lumpur, Dubai.

Saya harus cari jurusan ke Indonesia dari kota-kota yang tidak populer. Begitulah kiat saya. Pilihannya: Hongkong-Hanoi-Ho Chi Min City-Jakata. Atau Hongkong-Kunming-Xiamen-Jakarta. Atau lewat Manila-Jakarta. Atau Brunai Darussalam-Surabaya.

Maka untuk bisa cepat tiba di tanah air akhirnya saya dapat tiket dengan jurusan muter-muter: dari Amerika mendarat di Hongkong. Lalu terbang satu jam ke Hanoi (Vietnam). Di Hanoi sempat mengikuti berita demo anti Tiongkok. Yang akan diberi izin menambah lagi tiga special economic zone. Dari 18 SEZ yang sudah ada. Dengan izin tanah 99 tahun.

Dari Hanoi terbang satu jam ke Kunming, Tiongkok. Nah, dari Kunming ini barulah saya dapat tiket pulang: Kunming – Xiamen – Jakarta.

Awalnya saya melihat ada pilihan lain: Hongkong-Brunai-Surabaya. Bermalam di Brunai dulu. Gak masalah. Bisa langsung Surabaya. Masih ada lima seat: aman. Saya mulai keluarkan dompet. Ambil kartu kredit. Siap membayar. Eh…. telat: dalam sekejap itu lima seat tadi lenyap.

Pilihan lain juga ada: Hongkong-Manila-Jakarta. Bermalam satu malam di Manila. Tapi saya pilih yang ke Jakarta lewat Kunming-Xiamen itu.

Hanya saja saya juga harus bermalam di Kunming. Gak masalah. Lebih menarik Kunming daripada Manila. Saya bisa cari masjid di Kunming. Untuk buka puasa.

Saya sudah beberapa kali ikut berbuka puasa di kota-kota lain di Tiongkok. Tapi belum pernah di Kunming. Setiap ke Kunming selalu saja bukan di bulan puasa.

Menurut Paman Baidu (Pak Googlenya Tiongkok), ada lima masjid di Kunming. Saya pilih yang paling pusat kota: di jalan Cheng-yi. Pusatnya kya-kya di Kunming. Ribuan orang cuci mata di situ. Mobil tidak boleh masuk. Wisata kota tua juga ada di jalan itu.

Masjid Cheng-yi tidak terlihat dari jalan. Bagian depannya gedung enam tingkat: hotel milik masjid. Dan perkantoran milik masjid. Di sebelah gedung itu ada gang masuk: ke halaman masjid. Masjidnya luas: di lantai dua. Lantai bawahnya untuk restoran halal.

Restoran itu tutup selama bulan puasa. Fungsinya diubah hanya untuk tempat buka puasa bersama. Setiap hari.

Saya tiba di masjid itu pukul 18.30. Beberapa orang mulai datang. Kian banyak. Pukul 18.20an orang tua itu keluar dari ruangan masjid: adzan. (Lihat video).

Saya bertanya ke anak muda di sebelah saya: adzan untuk apa itu?

”Untuk sembahyang ashar,” kata anak muda itu.

”Asharnya kok telat sekali ya…,” kata saya dalam hati.

Siapa pun tahu: beli tiket mendadak itu sulit. Terutama menjelang Lebaran seperti ini. Tapi saya harus pulang. Semendadak ini. Menjelang lebaran. Istri saya masuk rumah sakit. Batu di ginjalnya bikin infeksi. Dengan segala komplikasinya.

Segi baiknya: istri saya terpaksa mau dioperasi. Setelah sekian lama sulit dirayu.

Saya tahu tidak mud cari tiket pulang. Dari Amerikanya sih mudah. Tapi setelah tiba di Asia akan sulit cari sambungan ke Indonesia. Terutama dari jurusan gemuk: Hongkong, Tokyo, Shanghai, Beijing, Xiamen, Singapura, Kuala Lumpur, Dubai.

Saya harus cari jurusan ke Indonesia dari kota-kota yang tidak populer. Begitulah kiat saya. Pilihannya: Hongkong-Hanoi-Ho Chi Min City-Jakata. Atau Hongkong-Kunming-Xiamen-Jakarta. Atau lewat Manila-Jakarta. Atau Brunai Darussalam-Surabaya.

Maka untuk bisa cepat tiba di tanah air akhirnya saya dapat tiket dengan jurusan muter-muter: dari Amerika mendarat di Hongkong. Lalu terbang satu jam ke Hanoi (Vietnam). Di Hanoi sempat mengikuti berita demo anti Tiongkok. Yang akan diberi izin menambah lagi tiga special economic zone. Dari 18 SEZ yang sudah ada. Dengan izin tanah 99 tahun.

Dari Hanoi terbang satu jam ke Kunming, Tiongkok. Nah, dari Kunming ini barulah saya dapat tiket pulang: Kunming – Xiamen – Jakarta.

Awalnya saya melihat ada pilihan lain: Hongkong-Brunai-Surabaya. Bermalam di Brunai dulu. Gak masalah. Bisa langsung Surabaya. Masih ada lima seat: aman. Saya mulai keluarkan dompet. Ambil kartu kredit. Siap membayar. Eh…. telat: dalam sekejap itu lima seat tadi lenyap.

Pilihan lain juga ada: Hongkong-Manila-Jakarta. Bermalam satu malam di Manila. Tapi saya pilih yang ke Jakarta lewat Kunming-Xiamen itu.

Hanya saja saya juga harus bermalam di Kunming. Gak masalah. Lebih menarik Kunming daripada Manila. Saya bisa cari masjid di Kunming. Untuk buka puasa.

Saya sudah beberapa kali ikut berbuka puasa di kota-kota lain di Tiongkok. Tapi belum pernah di Kunming. Setiap ke Kunming selalu saja bukan di bulan puasa.

Menurut Paman Baidu (Pak Googlenya Tiongkok), ada lima masjid di Kunming. Saya pilih yang paling pusat kota: di jalan Cheng-yi. Pusatnya kya-kya di Kunming. Ribuan orang cuci mata di situ. Mobil tidak boleh masuk. Wisata kota tua juga ada di jalan itu.

Masjid Cheng-yi tidak terlihat dari jalan. Bagian depannya gedung enam tingkat: hotel milik masjid. Dan perkantoran milik masjid. Di sebelah gedung itu ada gang masuk: ke halaman masjid. Masjidnya luas: di lantai dua. Lantai bawahnya untuk restoran halal.

Restoran itu tutup selama bulan puasa. Fungsinya diubah hanya untuk tempat buka puasa bersama. Setiap hari.

Saya tiba di masjid itu pukul 18.30. Beberapa orang mulai datang. Kian banyak. Pukul 18.20an orang tua itu keluar dari ruangan masjid: adzan. (Lihat video).

Saya bertanya ke anak muda di sebelah saya: adzan untuk apa itu?

”Untuk sembahyang ashar,” kata anak muda itu.

”Asharnya kok telat sekali ya…,” kata saya dalam hati.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/