“Boleh?”

“Silakan. Dengan senang hati”.

Saya pun diminta mencopot sepatu. Untuk dititipkan di ruang sebelah. Yang saya maksud ruang adalah jalan raya yang dipagari tali rafia.

Semua sepatu di parkir di situ. Di atas hamparan plastik. Di lajur jalan yang ditutup itu.

Petugas lain mencarikan saya penutup kepala. Yakni kain segitiga berwarna merah. Yang ada tulisan Hindi-nya.

Tenda kuning ini besar sekali. Penuh dengan umat yang bersila di atas hamparan karet. Lebih 1000 orang. Semua berpenutup kepala warna merah.

Di panggung musiknya seru sekali. Gendang India-nya sangat dinamis. Yang menyanyi semangat sekali. Semua syairnya berisi selawat pada Hanoman.

Yang dipuja ada di backdrop panggung: foto lukisan Hanoman besar. Bersama dewa-dewa lainnya.

Sesekali mereka yang duduk bersila ikut menyanyi. Juga bertepuk-tepuk tangan. Sesekali musik India-nya ngerock. Ada yang berjoget di panggung. Dan di depan panggung.

Meriah. Gembira. Jadi satu.

Baru di India kali ini saya menyadari: pemujaan terhadap Hanoman luar biasa.

Hanoman adalah dewa kekuatan. Juga dewa pengabdian. Di samping dewa kesetiaan.

Saya menyukai Hanoman sejak kecil –meski lebih suka lagi pada Dursasana.

Tidak hanya dalam lakon Rama-Sita. Di semua lakon Hanoman adalah kesatria hebat, cerdik, sakti, setia pada kebenaran, dan tidak ingkar janji. Jenaka pun bisa.

Hampir di semua Bajaj ada gambar Hanoman di kaca depan. Hanya di New Delhi kaca mobil dilarang dihiasi dewa-dewa –dari agama apa pun.

Pemujaan pada Hanoman itu berlangsung selama dua jam. Pulangnya setiap orang diberi tas kresek kain kuning. Saya menahan diri untuk segera tahu isinya.

Saya mengucapkan terima kasih pada panitia. Lalu berfoto dengan polisi dan tentara yang menjaga acara itu.

Saya pun berjalan ke perempatan –mencari Bajaj di pinggir jalan.

Ups, teman saya ternyata masih menunggu di situ –dua jam!

“Waktu ke Varanasi nanti saya akan ke Kuil Hanoman,” ujar saya.

“Tidak ke Gangga?”

“Itu yang pertama”.

Sampai di hotel saya buka tas kain kuning itu. Isinya: buku-buku doa Hanoman, plakat akrilik bergambar Hanoman dan gulungan kalender tahun 2020 bergambar Hanoman.

Saya pun buka-buka buku doa itu. Membayangkan lagunya dan musiknya dan gendangnya –tapi tidak bisa membacanya: huruf Hindi semuanya.(Dahlan Iskan)