Jalan menuju kuil Hanoman ini ruwet sekali.

Ups, salah.

Semua jalan di kota suci Varanasi ini ruwet sekali. Dan berdebu. Semua jenis kendaraan berebut aspal. Juga bersaing dalam adu keras membunyikan klakson. Dan adu cepat –siapa yang klakson duluan.

Inilah kota yang paling ruwet lalu-lintasnya –di antara kota ruwet yang saya kunjungi.

Dan kotor.

Kekotoran di sekitar kuil ini hanya kalah dari kekumuhan di sekitar Masjid Jami Old Delhi. Atau Kota Old Delhi secara keseluruhan.

Meski saya tinggal di New Delhi saya selalu datang ke Old Delhi –karena masjid bersejarahnya ada di situ.

Saya pernah ke Delhi untuk belajar bagaimana mengatasi pencurian listrik.

Waktu itu tingkat pencurian listrik di Indonesia 12 persen. Yang tertinggi di daerah ehm – -mencapai 16 persen. Terendah di Jateng –hanya 7 persen.

Saya tidak jadi belajar. Pencurian listrik di Delhi – -ketika itu– ternyata 35 persen. Yang saya maksud Delhi adalah gabungan antara New dan Old Delhi.

Waktu itu saya tidak membayangkan suatu saat saya akan ke Varanasi. Bahkan nama kota ini pun belum pernah saya dengar. Saya bisa membayangkan tingkat pencurian listriknya. Terlihat dari ruwetnya kabel di mana-mana –bercampur aduk dengan segala macam kabel telekomunikasi.

Tapi saya ke Varanasi tidak untuk kabel. Saya mau ke Kuil Hanoman. Yang di antara Kuil Hanoman seluruh India yang di Varanasi inilah yang dianggap paling tinggi.

Saya tahu itu saat di Amritsar. Sepulang dari tempat lahirnya aliran Islam Ahmadiyah. Atau sepulang dari perbatasan Pakistan –yang ada pertunjukan adu lucu antar tentara perbatasan itu (Baca juga: Nasionalisme Atraktif)

Hari itu matahari sudah tenggelam. Menjelang masuk hotel saya mendengar alunan suara musik keras. Musik India. Diselingi lagu-lagu dari orang banyak. Bayangan saya seperti lagi ada konser selawat Habib Syech.

“Apa itu?” tanya saya pada yang mengantarkan saya. Ia seorang India Katolik –sejak kakek-neneknya dulu. Tapi kalau lagi ada acara-acara resmi ia mengenakan topi orang Sikh –sebagai orang asli Punjab.

“Itu perayaan Hari Raya Hanoman,” jawabnya.

“Kita ke sana. Kedengarannya tidak jauh,” kata saya.

“Anda tidak akan mengerti,” katanya.

“Anda capek?”

“Tidak. Tapi saya tidak mau ke sana”.

“Anda drop saja saya di sana. Tidak usah ditunggu. Nanti saya pulang sendiri ke hotel. Pakai Bajaj”.

Saya diantar sampai di sebuah perempatan. Ternyata agak jauh. Berarti pengeras suaranya yang sangat kuat.

“Mobil hanya bisa sampai di sini. Jalan ditutup,” katanya sambil meminggirkan mobil.

Ini jalan kembar. Masing-masing dua lajur. Di tengah kota. Tapi lajur kirinya ditutup. Justru untuk acara yang ingin saya datangi itu.

Banyak tentara dan polisi di situ. Juga banyak yang antre masuk ke dalam tenda besar. Dekorasinya meriah. Kuning merah hijau. Lampu penerangannya banyak. Demikian juga lampu hiasnya. Termasuk lampu diskonya.

Saya berdiri termangu di depan tenda. Sambil mengamati apa yang terjadi di dalam tenda. Tidak jelas. Saya longokkan wajah. Tidak jelas juga.

“Silakan masuk,” ujar seorang petugas muda yang mendatangi saya.