Istri Pak Iwan (kanan) dan Jessika (tengah).

Kasihan kita ini. Baru satu orang ini yang benar-benar telah jadi donor mata di Jatim: Iwan Santoso.

Ia orang Malang. Meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal. Jumat lalu.

Sore itu hujan lebat. Pak Iwan naik sepeda motor. Dari tugas gereja ke rumah salah satu jemaatnya. Mungkin terkena lubang. Jatuh.

Meninggal dunia.

Usianya 60 tahun.

Baru seminggu sebelumnya Pak Iwan menerima kiriman sertifikat dari Bank Mata Indonesia Jakarta: resmi pemegang kartu pendonor mata.

Tidak terduga. Seminggu kemudian kartu itu membuatnya jadi orang pertama di Jatim yang donor mata.

Putrinyalah yang menghubungi Bank Mata Jakarta. Agar ayahnya itu bisa melaksanakan niatnya jadi pendonor mata.

Bank Mata langsung menghubungi dokter mata Surabaya, Dini Dharmawidiarini. Satu-satunya dokter mata di Surabaya yang punya keahlian transplantasi mata. Alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini belajar transplantasi kornea di universitas di Hyderabad, India.

Di seluruh Indonesia hanya ada enam dokter mata seperti Dini.

Malam itu juga dokter Dini ke Malang. Melakukan pengambilan kornea Pak Iwan. Di RS Syaiful Anwar.

Dokter Dini juga mengambil darah Pak Iwan.

Ambil darah mayat?

“Masih bisa. Meski agak sulit,” ujar dokter Dini. “Setelah pindah tiga tempat baru bisa mendapat sedikit. 5 cc,” tambahnyi.

Pengambilan darah mayat itu dilakukan lewat urat darah leher bawah –dekat bahu.

Jam 02.00 dini hari dokter Dini baru tiba kembali di Surabaya. Dua kornea Pak Iwan langsung disimpan di tempat khusus di RS Mata Undaan Surabaya.

Sedang darah Pak Iwan dimasukkan ke lab. Untuk diperiksa apakah mengandung HIV atau hepatitis.

“Ayah saya sehat. Mestinya tidak mengandung penyakit-penyakit itu,” ujar Jessika Juwithatma Santoso, putri ketiga. “Bapak tidak punya riwayat hepatitis maupun gula darah,” tambahnyi.

Jessika baru tamat SMA. Inginnyi menyusul kakak sulungnyi ke Hawaii. Kuliah di sana.

Jenazah Pak Iwan kini diistirahatkan di rumah duka Gotong Royong Malang. Saya melayat ke situ. Yakni usai mengunjungi sekolah Islam Tazkia.

Setelah menghormati dan berdoa, saya menengok wajah Pak Iwan di dalam peti matinya. Wajahnya teduh. Matanya terpejam sempurna.

Tidak terlihat sama sekali bekas operasi pengambilan kornea.

Pelayat pun tidak akan tahu kalau kornea mata Pak Iwan sudah tidak ada di tempatnya. Kecuali pelayat yang sudah baca DI’s Way ini.

Wajah Pak Iwan baru akan ditutup setelah putri sulung tiba dari Hawaii –pagi ini.

Pak Iwan memang aktivis gereja. Asal Jogjakarta. Marganya Lim. Beristeri orang Jawa asal Malang.