Han Kuo-yu dan Tsai Ing-Wen

Sabtu hari ini Taiwan Pilpres. Sudah tiga hari ini saya di Pulau Formusa itu. Dari Hongkong saya mendarat di Kaoshiung –kota paling Selatan Taiwan. Juga kota terbesar kedua setelah Taipei.

Yang lebih penting, dari kota inilah salah satu calon presiden berasal: Han Kuo-yu.

Ia Wali Kota baru Kaoshiung. Baru setahun lalu terpilih. Ini untuk ketiga kalinya saya ke Kaoshiung.

Setelah dua malam di Kaoshiung saya ke Taipei. Kali ini naik kereta cepat –kecepatan maksimumnya 290 Km/jam. Hanya berhenti sekali di Taichung –kota terbesar ketiga di Taiwan. Kali ini saya tidak mampir Taichung. Sudah terlalu sering ke sini.

Hanya dalam dua jam kereta sudah sampai Taipei. Kota paling utara di Taiwan. Dua jam itulah panjangnya wilayah Taiwan. Dengan penduduk 24 juta orang.

Di Taipei lagi ada keramaian. Kereta bawah tanahnya penuh orang berpakaian warna merah-biru. Juga membawa bendera kecil Taiwan –merah-biru.

Mereka berbondong ke Ketagalan Boulevard. Yang di depan istana presiden itu. Di situ lagi ada kampanye terakhir capres Han Kuo-yu.

Saya ikut larut ke lokasi itu.

Saya perhatikan baik-baik bondongan massa ini. Didominasi orang tua. Jarang sekali terlihat anak mudanya. “Mereka masih bekerja. Habis kerja baru ke sini,” ujar seorang ibu yang saya tanya.

Puncak kampanye itu memang baru jam 19.00 malam.

Tapi sejak jam 15.00 jalan-jalan menuju Boulevard sudah ditutup. Sudah penuh dengan massa.

Banyak yang mengajak serta anjing mereka ke arena kampanye.

Di samping capresnya sendiri, 36 wali kota ikut hadir –termasuk Wali Kota Taipei dan Taichung.

Setahun yang lalu, dalam pilkada serentak, Partai Koumintang memang menang telak. Termasuk Han Kuo-yu yang menang di Kaoshiung.

Dengan modal menang pilkada itulah Koumintang mencalonkan Han. Yang memang mendadak jadi idola. Orangnya dianggap merakyat.

“Han adalah kita”.

Hampir pasti Han menang Pilpres. Semua jajak pendapat mengatakan begitu.

Itu 9 bulan lalu.

Tiga bulan setelah itu meletuslah demo anti-Tiongkok di Hongkong –demonya anak muda dan mahasiswa. Yang berlarut-larut itu. Yang tidak berhenti pun sampai sekarang –selama sudah 7 bulan.

Solidaritas anak muda itu merembet ke Taiwan. Sikap anti-Tiongkok menjalar ke sana.

Itu sangat menguntungkan lawan Han –yang setahun lalu kalah telak di pilkada serentak.

Tsai Ing-wen, wanita yang kalah itu, mendadak naik daun. Dialah simbol sentimen anti-Tiongkok di Taiwan.