alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Harga Cabai di Jember masih Belum Stabil, Petani Harap-harap Cemas

Khawatir Hasil Tak Sebanding dengan Biaya Operasional

Mobile_AP_Rectangle 1

PUGER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani cabai di beberapa tempat mulai memanen tanaman cabai mereka. Namun demikian, harga cabai yang belum stabil membuat petani gusar. Mereka khawatir di tengah musim panen ini malah buntung.

“Harga cabai rawit hijau di pasar masih Rp 2 ribuan per kilogramnya. Kalau lombok sret (cabai keriting, Red) di kisaran Rp 25-30 ribu per kilo,” terang Wati, petani cabai asal Balung, saat memanen cabainya di sekitar persawahan Desa Jambearum, Kecamatan Puger, kemarin (8/8).

Sebagai petani, lanjut dia, harga itu belum normal. Bahkan masih murah. Apalagi jika cabai petani diserahkan ke tengkulak. Selisih harganya makin murah. “Ini kadang saya panen cabai, dijual langsung ke pedagang-pedagang di pasar. Tidak ke pengepul,” aku petani yang sudah beberapa musim menanam cabai itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harga itu membuat hasil jual cabai petani tidak sebanding dengan ongkos operasional mereka. Sebab, sejak masa tanam, perawatan, sampai panen, jelas banyak biaya yang dikeluarkan petani cabai ini.

Selain harga cabai rawit yang murah, harga cabai keriting juga diakui belum normal. Di pasaran hingga sampai ke konsumen, harganya masih di kisaran Rp 30-35 ribu per kilogram. Itu sudah yang jenis super.

“Kesulitannya memang petani dan pedagang hanya menjual dan membeli. Pemasok atau tengkulak ini yang kadang sulit ditebak. Kadang petani panen, tengkulak mendatangkan cabai banyak dari luar. Itu sudah pasti murah harganya,” tambah Hisyam, pedagang di Pasar Reboan, Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

- Advertisement -

PUGER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani cabai di beberapa tempat mulai memanen tanaman cabai mereka. Namun demikian, harga cabai yang belum stabil membuat petani gusar. Mereka khawatir di tengah musim panen ini malah buntung.

“Harga cabai rawit hijau di pasar masih Rp 2 ribuan per kilogramnya. Kalau lombok sret (cabai keriting, Red) di kisaran Rp 25-30 ribu per kilo,” terang Wati, petani cabai asal Balung, saat memanen cabainya di sekitar persawahan Desa Jambearum, Kecamatan Puger, kemarin (8/8).

Sebagai petani, lanjut dia, harga itu belum normal. Bahkan masih murah. Apalagi jika cabai petani diserahkan ke tengkulak. Selisih harganya makin murah. “Ini kadang saya panen cabai, dijual langsung ke pedagang-pedagang di pasar. Tidak ke pengepul,” aku petani yang sudah beberapa musim menanam cabai itu.

Harga itu membuat hasil jual cabai petani tidak sebanding dengan ongkos operasional mereka. Sebab, sejak masa tanam, perawatan, sampai panen, jelas banyak biaya yang dikeluarkan petani cabai ini.

Selain harga cabai rawit yang murah, harga cabai keriting juga diakui belum normal. Di pasaran hingga sampai ke konsumen, harganya masih di kisaran Rp 30-35 ribu per kilogram. Itu sudah yang jenis super.

“Kesulitannya memang petani dan pedagang hanya menjual dan membeli. Pemasok atau tengkulak ini yang kadang sulit ditebak. Kadang petani panen, tengkulak mendatangkan cabai banyak dari luar. Itu sudah pasti murah harganya,” tambah Hisyam, pedagang di Pasar Reboan, Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

PUGER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani cabai di beberapa tempat mulai memanen tanaman cabai mereka. Namun demikian, harga cabai yang belum stabil membuat petani gusar. Mereka khawatir di tengah musim panen ini malah buntung.

“Harga cabai rawit hijau di pasar masih Rp 2 ribuan per kilogramnya. Kalau lombok sret (cabai keriting, Red) di kisaran Rp 25-30 ribu per kilo,” terang Wati, petani cabai asal Balung, saat memanen cabainya di sekitar persawahan Desa Jambearum, Kecamatan Puger, kemarin (8/8).

Sebagai petani, lanjut dia, harga itu belum normal. Bahkan masih murah. Apalagi jika cabai petani diserahkan ke tengkulak. Selisih harganya makin murah. “Ini kadang saya panen cabai, dijual langsung ke pedagang-pedagang di pasar. Tidak ke pengepul,” aku petani yang sudah beberapa musim menanam cabai itu.

Harga itu membuat hasil jual cabai petani tidak sebanding dengan ongkos operasional mereka. Sebab, sejak masa tanam, perawatan, sampai panen, jelas banyak biaya yang dikeluarkan petani cabai ini.

Selain harga cabai rawit yang murah, harga cabai keriting juga diakui belum normal. Di pasaran hingga sampai ke konsumen, harganya masih di kisaran Rp 30-35 ribu per kilogram. Itu sudah yang jenis super.

“Kesulitannya memang petani dan pedagang hanya menjual dan membeli. Pemasok atau tengkulak ini yang kadang sulit ditebak. Kadang petani panen, tengkulak mendatangkan cabai banyak dari luar. Itu sudah pasti murah harganya,” tambah Hisyam, pedagang di Pasar Reboan, Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/