23.9 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Perempuan, Ibu dan Muasal Kekerasan Seksual

Mobile_AP_Rectangle 1

Ayah Oong pun meminta izin mengisap rokok. Para audiensnya mengangguk. Katanya, agar lebih santai dan ia bisa menyampaikan kalimatnya dengan maksimal. Ia lalu mempersilakan audiens mengajukan pertanyaan.

“Jika perempuan sebegitu dihargai dan dihormati dalam agama serta adat kesukuan, lalu mengapa masih ada kasus pelecehan seksual? Apa ada yang tidak dipahami oleh manusia-manusia yang lain?” tanya seorang pemudi berkerudung.

Kretek di tangan ia isap dalam-dalam. Sejurus kemudian, Ayah Oong mengembuskannya dan berdeham. Ia pun menjawab dengan satu kata. “Makanan,” sebutnya. Maksudnya adalah apa yang dikonsumsi oleh pelaku kekerasan seksual itulah yang menjadi penyebab tindak laku itu terjadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau Anda sekalian ingat kasus yang pelakunya kiai dari sebuah pesantren, maka pasti berpikir bukankah kiai itu memiliki fondasi agama yang kuat? Bukankah kiai itu hafal kitab suci Allah? Bukankah kiai itu sudah mengaji banyak kitab para Imam?” ucapnya.

Lalu, Ayah Oong mengajak teman-teman diskusinya untuk berpikir. Pasti ada yang salah dalam proses si kiai mendapatkan segala yang Ayah Oong sebutkan tadi. Sehingga tidak ada keberkahan dalam akal dan hidupnya. Kemudian, kiai itu dengan tega merusak manusia istimewa bernama perempuan.

Ayah Oong kembali membahas perempuan bernama ibu. Menurutnya, ibu adalah sekolah pertama dan bahasa bagi anaknya. “Ibu adalah rumah bagi anak sejak sebelum ia dilahirkan. Maka, mau setua apapun anak itu nanti, tempat pulangnya tetap sang ibu,” ujarnya.

Ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya, Ayah Oong merujuk pada syair Hafiz Ibrahim, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thoyyibal a’ra. Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika dipersiapkannya anak itu dengan baik, maka sama halnya dengan menyiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya,” sebut syair itu.

Ibu sebagai bahasa, karena dari ibulah seorang anak belajar pertama kali mengenal dan mendengar kata-kata. “Dari sejak dalam kandungan, ibu sudah berkomunikasi dengan sang anak. Dan hanya seorang ibu yang mampu menerjemahkan bahasa anak, mulai dari dalam kandungan,” ucap Ayah Oong.

- Advertisement -

Ayah Oong pun meminta izin mengisap rokok. Para audiensnya mengangguk. Katanya, agar lebih santai dan ia bisa menyampaikan kalimatnya dengan maksimal. Ia lalu mempersilakan audiens mengajukan pertanyaan.

“Jika perempuan sebegitu dihargai dan dihormati dalam agama serta adat kesukuan, lalu mengapa masih ada kasus pelecehan seksual? Apa ada yang tidak dipahami oleh manusia-manusia yang lain?” tanya seorang pemudi berkerudung.

Kretek di tangan ia isap dalam-dalam. Sejurus kemudian, Ayah Oong mengembuskannya dan berdeham. Ia pun menjawab dengan satu kata. “Makanan,” sebutnya. Maksudnya adalah apa yang dikonsumsi oleh pelaku kekerasan seksual itulah yang menjadi penyebab tindak laku itu terjadi.

“Kalau Anda sekalian ingat kasus yang pelakunya kiai dari sebuah pesantren, maka pasti berpikir bukankah kiai itu memiliki fondasi agama yang kuat? Bukankah kiai itu hafal kitab suci Allah? Bukankah kiai itu sudah mengaji banyak kitab para Imam?” ucapnya.

Lalu, Ayah Oong mengajak teman-teman diskusinya untuk berpikir. Pasti ada yang salah dalam proses si kiai mendapatkan segala yang Ayah Oong sebutkan tadi. Sehingga tidak ada keberkahan dalam akal dan hidupnya. Kemudian, kiai itu dengan tega merusak manusia istimewa bernama perempuan.

Ayah Oong kembali membahas perempuan bernama ibu. Menurutnya, ibu adalah sekolah pertama dan bahasa bagi anaknya. “Ibu adalah rumah bagi anak sejak sebelum ia dilahirkan. Maka, mau setua apapun anak itu nanti, tempat pulangnya tetap sang ibu,” ujarnya.

Ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya, Ayah Oong merujuk pada syair Hafiz Ibrahim, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thoyyibal a’ra. Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika dipersiapkannya anak itu dengan baik, maka sama halnya dengan menyiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya,” sebut syair itu.

Ibu sebagai bahasa, karena dari ibulah seorang anak belajar pertama kali mengenal dan mendengar kata-kata. “Dari sejak dalam kandungan, ibu sudah berkomunikasi dengan sang anak. Dan hanya seorang ibu yang mampu menerjemahkan bahasa anak, mulai dari dalam kandungan,” ucap Ayah Oong.

Ayah Oong pun meminta izin mengisap rokok. Para audiensnya mengangguk. Katanya, agar lebih santai dan ia bisa menyampaikan kalimatnya dengan maksimal. Ia lalu mempersilakan audiens mengajukan pertanyaan.

“Jika perempuan sebegitu dihargai dan dihormati dalam agama serta adat kesukuan, lalu mengapa masih ada kasus pelecehan seksual? Apa ada yang tidak dipahami oleh manusia-manusia yang lain?” tanya seorang pemudi berkerudung.

Kretek di tangan ia isap dalam-dalam. Sejurus kemudian, Ayah Oong mengembuskannya dan berdeham. Ia pun menjawab dengan satu kata. “Makanan,” sebutnya. Maksudnya adalah apa yang dikonsumsi oleh pelaku kekerasan seksual itulah yang menjadi penyebab tindak laku itu terjadi.

“Kalau Anda sekalian ingat kasus yang pelakunya kiai dari sebuah pesantren, maka pasti berpikir bukankah kiai itu memiliki fondasi agama yang kuat? Bukankah kiai itu hafal kitab suci Allah? Bukankah kiai itu sudah mengaji banyak kitab para Imam?” ucapnya.

Lalu, Ayah Oong mengajak teman-teman diskusinya untuk berpikir. Pasti ada yang salah dalam proses si kiai mendapatkan segala yang Ayah Oong sebutkan tadi. Sehingga tidak ada keberkahan dalam akal dan hidupnya. Kemudian, kiai itu dengan tega merusak manusia istimewa bernama perempuan.

Ayah Oong kembali membahas perempuan bernama ibu. Menurutnya, ibu adalah sekolah pertama dan bahasa bagi anaknya. “Ibu adalah rumah bagi anak sejak sebelum ia dilahirkan. Maka, mau setua apapun anak itu nanti, tempat pulangnya tetap sang ibu,” ujarnya.

Ibu sebagai sekolah pertama bagi anaknya, Ayah Oong merujuk pada syair Hafiz Ibrahim, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thoyyibal a’ra. Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika dipersiapkannya anak itu dengan baik, maka sama halnya dengan menyiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya,” sebut syair itu.

Ibu sebagai bahasa, karena dari ibulah seorang anak belajar pertama kali mengenal dan mendengar kata-kata. “Dari sejak dalam kandungan, ibu sudah berkomunikasi dengan sang anak. Dan hanya seorang ibu yang mampu menerjemahkan bahasa anak, mulai dari dalam kandungan,” ucap Ayah Oong.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca