alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kapan Jember Punya Pusat Kesenian?

Lokasi Jadi Kendala Utama Pegiat Seni

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tepuk tangan penonton menyambut berakhirnya pementasan teater di Gedung Graha Insani Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, belum lama ini. Puluhan orang itu lantas duduk melingkar dan memulai apresiasi pementasan.

Salah seorang penonton, Iqbal Cahyadi, mengeluhkan lokasi pementasan yang selalu berubah. Tentu saja hal tersebut membuat para seniman harus beradaptasi dengan tempat yang baru. Mulai dari penataan panggung hingga keperluan lain.

Menurut alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jember tersebut, pandemi Covid-19 memang membuat para mahasiswa pegiat seni tidak bisa bergeliat di lingkungan kampus. Efeknya, mereka berinisiasi di luar. “Jika dicermati, hal ini sudah terjadi jauh hari sebelum pandemi Covid-19 merebak,” ungkap pria berusia 24 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tidak adanya gedung kesenian di Jember mengakibatkan semua seniman terbengkalai. Termasuk seluruh seniman di Kabupaten Jember. Salah seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Eko Sumargono, berpendapat bahwa seni dan budaya Jember membutuhkan wadah yang bisa digunakan untuk mengaktualisasikan diri.

“Pemerintah sebagai pengampu juga perlu belajar untuk memfasilitasi para seniman dengan merealisasikan adanya taman budaya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/4).

Nantinya, taman budaya tersebut berisi ruang-ruang kreasi untuk beragam kesenian Jember. Mulai dari seni tradisional hingga seni modern. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jember (DKJ) itu menuturkan bahwa selama ini tidak adanya gedung kesenian sangat berdampak bagi perkembangan seni dan budaya di Kabupaten Jember. “Akhirnya, memaksa pegiat seni untuk mencari tempat mana pun yang mampu mewakili panggung yang sesungguhnya,” katanya.

Jelas, hal itu membuat para seniman tidak fokus terhadap karya masing-masing lantaran harus selalu beradaptasi. Selain itu, minim ruang untuk apresiasi sekaligus evaluasi per pementasan.

Jika ditempatkan pada satu tempat, fokus penikmat juga akan menjadi satu dan tidak carut-marut seperti sekarang. Pihaknya berharap pemerintah memiliki upaya untuk memajukan seni budaya Jember. “Jangankan membuat gedung. Jika tak memiliki motivasi, memikirkannya saja tak akan mungkin,” candanya.

Ditanya tentang ada tidaknya motivasi pengadaan gedung kesenian, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Jember Dhebora Krisnowati Sumarhiningsih mengungkapkan bahwa pihaknya memang memiliki wacana bakal mendirikan Art Center.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tepuk tangan penonton menyambut berakhirnya pementasan teater di Gedung Graha Insani Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, belum lama ini. Puluhan orang itu lantas duduk melingkar dan memulai apresiasi pementasan.

Salah seorang penonton, Iqbal Cahyadi, mengeluhkan lokasi pementasan yang selalu berubah. Tentu saja hal tersebut membuat para seniman harus beradaptasi dengan tempat yang baru. Mulai dari penataan panggung hingga keperluan lain.

Menurut alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jember tersebut, pandemi Covid-19 memang membuat para mahasiswa pegiat seni tidak bisa bergeliat di lingkungan kampus. Efeknya, mereka berinisiasi di luar. “Jika dicermati, hal ini sudah terjadi jauh hari sebelum pandemi Covid-19 merebak,” ungkap pria berusia 24 tahun itu.

Tidak adanya gedung kesenian di Jember mengakibatkan semua seniman terbengkalai. Termasuk seluruh seniman di Kabupaten Jember. Salah seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Eko Sumargono, berpendapat bahwa seni dan budaya Jember membutuhkan wadah yang bisa digunakan untuk mengaktualisasikan diri.

“Pemerintah sebagai pengampu juga perlu belajar untuk memfasilitasi para seniman dengan merealisasikan adanya taman budaya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/4).

Nantinya, taman budaya tersebut berisi ruang-ruang kreasi untuk beragam kesenian Jember. Mulai dari seni tradisional hingga seni modern. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jember (DKJ) itu menuturkan bahwa selama ini tidak adanya gedung kesenian sangat berdampak bagi perkembangan seni dan budaya di Kabupaten Jember. “Akhirnya, memaksa pegiat seni untuk mencari tempat mana pun yang mampu mewakili panggung yang sesungguhnya,” katanya.

Jelas, hal itu membuat para seniman tidak fokus terhadap karya masing-masing lantaran harus selalu beradaptasi. Selain itu, minim ruang untuk apresiasi sekaligus evaluasi per pementasan.

Jika ditempatkan pada satu tempat, fokus penikmat juga akan menjadi satu dan tidak carut-marut seperti sekarang. Pihaknya berharap pemerintah memiliki upaya untuk memajukan seni budaya Jember. “Jangankan membuat gedung. Jika tak memiliki motivasi, memikirkannya saja tak akan mungkin,” candanya.

Ditanya tentang ada tidaknya motivasi pengadaan gedung kesenian, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Jember Dhebora Krisnowati Sumarhiningsih mengungkapkan bahwa pihaknya memang memiliki wacana bakal mendirikan Art Center.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tepuk tangan penonton menyambut berakhirnya pementasan teater di Gedung Graha Insani Jalan Mastrip, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, belum lama ini. Puluhan orang itu lantas duduk melingkar dan memulai apresiasi pementasan.

Salah seorang penonton, Iqbal Cahyadi, mengeluhkan lokasi pementasan yang selalu berubah. Tentu saja hal tersebut membuat para seniman harus beradaptasi dengan tempat yang baru. Mulai dari penataan panggung hingga keperluan lain.

Menurut alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jember tersebut, pandemi Covid-19 memang membuat para mahasiswa pegiat seni tidak bisa bergeliat di lingkungan kampus. Efeknya, mereka berinisiasi di luar. “Jika dicermati, hal ini sudah terjadi jauh hari sebelum pandemi Covid-19 merebak,” ungkap pria berusia 24 tahun itu.

Tidak adanya gedung kesenian di Jember mengakibatkan semua seniman terbengkalai. Termasuk seluruh seniman di Kabupaten Jember. Salah seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Eko Sumargono, berpendapat bahwa seni dan budaya Jember membutuhkan wadah yang bisa digunakan untuk mengaktualisasikan diri.

“Pemerintah sebagai pengampu juga perlu belajar untuk memfasilitasi para seniman dengan merealisasikan adanya taman budaya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/4).

Nantinya, taman budaya tersebut berisi ruang-ruang kreasi untuk beragam kesenian Jember. Mulai dari seni tradisional hingga seni modern. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jember (DKJ) itu menuturkan bahwa selama ini tidak adanya gedung kesenian sangat berdampak bagi perkembangan seni dan budaya di Kabupaten Jember. “Akhirnya, memaksa pegiat seni untuk mencari tempat mana pun yang mampu mewakili panggung yang sesungguhnya,” katanya.

Jelas, hal itu membuat para seniman tidak fokus terhadap karya masing-masing lantaran harus selalu beradaptasi. Selain itu, minim ruang untuk apresiasi sekaligus evaluasi per pementasan.

Jika ditempatkan pada satu tempat, fokus penikmat juga akan menjadi satu dan tidak carut-marut seperti sekarang. Pihaknya berharap pemerintah memiliki upaya untuk memajukan seni budaya Jember. “Jangankan membuat gedung. Jika tak memiliki motivasi, memikirkannya saja tak akan mungkin,” candanya.

Ditanya tentang ada tidaknya motivasi pengadaan gedung kesenian, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Jember Dhebora Krisnowati Sumarhiningsih mengungkapkan bahwa pihaknya memang memiliki wacana bakal mendirikan Art Center.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/