alexametrics
26.4 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tertunda Dua Tahun, Monolog “Inggit Garnasih” Akhirnya Dipentaskan

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Setelah tertunda akibat pandemi COVID-19 selama dua tahun, teater musikal monolog “Inggit Garnasih” akan dipentaskan. Acara tersebut akan digelar untuk publik secara langsung di atas panggung yang dijadwalkan Jumat dan Sabtu (21/5) di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. “Dua tahun dalam penantian, mencoba untuk tidak berpindah media. Awalnya tergoda untuk pindah platform, di online segala macam. Tapi kami tetap bersiteguh bahwa ini bukan (seolah-olah) ‘Waiting for Godot‘, suatu saat ini pasti akan datang,” kata sutradara pementasan Wawan Sofwan saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/5) malam.

Sebelumnya, Titimangsa Foundation sempat mementaskan Monolog Inggit sebanyak 13 kali pada periode 2011 hingga 2014 di Jakarta dan Bandung. Pada pementasan kali ini, Titimangsa kembali menghadirkan “Monolog Inggit” secara berbeda dari sebelumnya dalam bentuk teater musikal.

Musikal monolog “Inggit Garnasih” menandai produksi ke-53 Titimangsa yang diproduseri oleh Happy Salma. Ia mengatakan produksi ke-53 ini menjadi bukti kesungguhan dirinya menjadi produser seni pertunjukan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menyatukan kembali energi di antara pelaku-pelaku seni yang terlibat menjadi tantangan tersendiri bagi Happy dalam mewujudkan pentas teater secara langsung mengingat dua tahun pandemi membuat orang terbiasa menonton secara gratis dan daring. Walau begitu, Happy mengatakan pihaknya tetap percaya energi untuk menonton pentas secara langsung tidak akan tergantikan.

“Dan saya percaya, ini memang ceritanya sama (dari pentas sebelumnya) karena sumbernya juga sama dari bukunya Ramadhan KH, tetapi gairah dalam bentuk pertunjukan pasti akan selalu berbeda,” kata Happy.

Untuk mewujudkan pentas, Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Sleepbuddy. Selain Happy dan Wawan yang terlibat, ada pula Marsha Timothy yang menjadi co-produser.

Pentas juga menghadirkan arahan musikal dari Dian HP sebagai komposer, Avip Priatna sebagai konduktor, dan diiringi lantunan musik Jakarta Concert Orchestra serta suara dari Batavia Madrigal Singers.
Ditulis oleh Ratna Ayu Budhiarti yang terinsipirasi dari roman “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH, musikal monolog menyuguhkan cerita Inggit Garnasih yang kala itu mendampingi perjalanan Soekarno sebelum menjadi Presiden Pertama Indonesia.
Sebagai istri kedua yang bertahan dalam 20 tahun pernikahan, Inggit setia mengantar Bung Karno mulai dari mendampinginya lulus dari sekolah Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB); mendukung ekonomi keluarga saat Bung Karno memulai pergerakan di organisasi; hingga mendampingi Bung Karno dalam pengasingan di Ende dan Bengkulu.

Inggit memilih mempertahankan martabatnya sebagai perempuan dan menolak dimadu ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi. Meski Inggit dijanjikan menjadi istri utama, ia memilih mengatakan tidak kepada Bung Karno.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Setelah tertunda akibat pandemi COVID-19 selama dua tahun, teater musikal monolog “Inggit Garnasih” akan dipentaskan. Acara tersebut akan digelar untuk publik secara langsung di atas panggung yang dijadwalkan Jumat dan Sabtu (21/5) di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. “Dua tahun dalam penantian, mencoba untuk tidak berpindah media. Awalnya tergoda untuk pindah platform, di online segala macam. Tapi kami tetap bersiteguh bahwa ini bukan (seolah-olah) ‘Waiting for Godot‘, suatu saat ini pasti akan datang,” kata sutradara pementasan Wawan Sofwan saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/5) malam.

Sebelumnya, Titimangsa Foundation sempat mementaskan Monolog Inggit sebanyak 13 kali pada periode 2011 hingga 2014 di Jakarta dan Bandung. Pada pementasan kali ini, Titimangsa kembali menghadirkan “Monolog Inggit” secara berbeda dari sebelumnya dalam bentuk teater musikal.

Musikal monolog “Inggit Garnasih” menandai produksi ke-53 Titimangsa yang diproduseri oleh Happy Salma. Ia mengatakan produksi ke-53 ini menjadi bukti kesungguhan dirinya menjadi produser seni pertunjukan.

Menyatukan kembali energi di antara pelaku-pelaku seni yang terlibat menjadi tantangan tersendiri bagi Happy dalam mewujudkan pentas teater secara langsung mengingat dua tahun pandemi membuat orang terbiasa menonton secara gratis dan daring. Walau begitu, Happy mengatakan pihaknya tetap percaya energi untuk menonton pentas secara langsung tidak akan tergantikan.

“Dan saya percaya, ini memang ceritanya sama (dari pentas sebelumnya) karena sumbernya juga sama dari bukunya Ramadhan KH, tetapi gairah dalam bentuk pertunjukan pasti akan selalu berbeda,” kata Happy.

Untuk mewujudkan pentas, Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Sleepbuddy. Selain Happy dan Wawan yang terlibat, ada pula Marsha Timothy yang menjadi co-produser.

Pentas juga menghadirkan arahan musikal dari Dian HP sebagai komposer, Avip Priatna sebagai konduktor, dan diiringi lantunan musik Jakarta Concert Orchestra serta suara dari Batavia Madrigal Singers.
Ditulis oleh Ratna Ayu Budhiarti yang terinsipirasi dari roman “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH, musikal monolog menyuguhkan cerita Inggit Garnasih yang kala itu mendampingi perjalanan Soekarno sebelum menjadi Presiden Pertama Indonesia.
Sebagai istri kedua yang bertahan dalam 20 tahun pernikahan, Inggit setia mengantar Bung Karno mulai dari mendampinginya lulus dari sekolah Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB); mendukung ekonomi keluarga saat Bung Karno memulai pergerakan di organisasi; hingga mendampingi Bung Karno dalam pengasingan di Ende dan Bengkulu.

Inggit memilih mempertahankan martabatnya sebagai perempuan dan menolak dimadu ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi. Meski Inggit dijanjikan menjadi istri utama, ia memilih mengatakan tidak kepada Bung Karno.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Setelah tertunda akibat pandemi COVID-19 selama dua tahun, teater musikal monolog “Inggit Garnasih” akan dipentaskan. Acara tersebut akan digelar untuk publik secara langsung di atas panggung yang dijadwalkan Jumat dan Sabtu (21/5) di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. “Dua tahun dalam penantian, mencoba untuk tidak berpindah media. Awalnya tergoda untuk pindah platform, di online segala macam. Tapi kami tetap bersiteguh bahwa ini bukan (seolah-olah) ‘Waiting for Godot‘, suatu saat ini pasti akan datang,” kata sutradara pementasan Wawan Sofwan saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/5) malam.

Sebelumnya, Titimangsa Foundation sempat mementaskan Monolog Inggit sebanyak 13 kali pada periode 2011 hingga 2014 di Jakarta dan Bandung. Pada pementasan kali ini, Titimangsa kembali menghadirkan “Monolog Inggit” secara berbeda dari sebelumnya dalam bentuk teater musikal.

Musikal monolog “Inggit Garnasih” menandai produksi ke-53 Titimangsa yang diproduseri oleh Happy Salma. Ia mengatakan produksi ke-53 ini menjadi bukti kesungguhan dirinya menjadi produser seni pertunjukan.

Menyatukan kembali energi di antara pelaku-pelaku seni yang terlibat menjadi tantangan tersendiri bagi Happy dalam mewujudkan pentas teater secara langsung mengingat dua tahun pandemi membuat orang terbiasa menonton secara gratis dan daring. Walau begitu, Happy mengatakan pihaknya tetap percaya energi untuk menonton pentas secara langsung tidak akan tergantikan.

“Dan saya percaya, ini memang ceritanya sama (dari pentas sebelumnya) karena sumbernya juga sama dari bukunya Ramadhan KH, tetapi gairah dalam bentuk pertunjukan pasti akan selalu berbeda,” kata Happy.

Untuk mewujudkan pentas, Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Sleepbuddy. Selain Happy dan Wawan yang terlibat, ada pula Marsha Timothy yang menjadi co-produser.

Pentas juga menghadirkan arahan musikal dari Dian HP sebagai komposer, Avip Priatna sebagai konduktor, dan diiringi lantunan musik Jakarta Concert Orchestra serta suara dari Batavia Madrigal Singers.
Ditulis oleh Ratna Ayu Budhiarti yang terinsipirasi dari roman “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH, musikal monolog menyuguhkan cerita Inggit Garnasih yang kala itu mendampingi perjalanan Soekarno sebelum menjadi Presiden Pertama Indonesia.
Sebagai istri kedua yang bertahan dalam 20 tahun pernikahan, Inggit setia mengantar Bung Karno mulai dari mendampinginya lulus dari sekolah Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB); mendukung ekonomi keluarga saat Bung Karno memulai pergerakan di organisasi; hingga mendampingi Bung Karno dalam pengasingan di Ende dan Bengkulu.

Inggit memilih mempertahankan martabatnya sebagai perempuan dan menolak dimadu ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi. Meski Inggit dijanjikan menjadi istri utama, ia memilih mengatakan tidak kepada Bung Karno.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/