alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Mengenal Hastra 132, Patrol Jember sejak 1980

Panggilan hati membuat Didik Afrianto meneruskan perjuangan bapak mertuanya untuk mengasuh Hastra 132. Itu dilakukan agar musik patrol tetap eksis di rumah aslinya. Dia ingin menumbuhkembangkan musik khas Jember tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai relawan seni, Didik Afrianto dengan telaten mengurus anggota grup musik patrol yang diketuainya. Hastra 132 ialah salah satu grup yang tergabung dalam Paguyuban Seni Musik Patrol Jember (PSMPJ), yang terbentuk pada 1980. Sejak 2017, Didik mulai memegang tongkat estafet sebagai penerus dari bapak mertuanya.

BACA JUGA : Akhirnya Jalan Multiyears Cakru Selesai

Dengan niat agar musik asli Jember ini tetap lestari, dia pelan-pelan mulai belajar. Baik mengarahkan sampai terjun secara langsung ikut memahami teknik permainan musiknya. Meskipun, kata Didik, dirinya belum terlalu lihai memainkannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini, anggota grupnya sudah sampai pada generasi ketiga. Ada 12 orang anggota senior dan 8 orang junior sebagai regenerasi. Semuanya memiliki pegangan alat masing-masing. Mulai dari remo, bas, kontra bas, tengtong keter, selingan, gendang, tamborin, kenong, hingga seruling.

Hanya ada satu penyanyi di dalam musik grup patrol itu. Didik mengungkapkan, sangat sulit mencari penyanyi musik patrol yang benar-benar mau. Menurutnya, selain tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, alasan gengsi membuat penyanyi tak mau untuk bergabung. “Sebenarnya alasan utamanya adalah gengsi,” ucapnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kenanga, Gebang, Rabu (18/4).

Dia menuturkan, jumlah anggota grup musik patrol di tiap-tiap grup memang rata-rata sedikit. Dia menganggap bahwa minat masyarakat mulai meredup. Ditambah dengan minimnya dukungan dari pemkab untuk masa depan musik patrol di Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai relawan seni, Didik Afrianto dengan telaten mengurus anggota grup musik patrol yang diketuainya. Hastra 132 ialah salah satu grup yang tergabung dalam Paguyuban Seni Musik Patrol Jember (PSMPJ), yang terbentuk pada 1980. Sejak 2017, Didik mulai memegang tongkat estafet sebagai penerus dari bapak mertuanya.

BACA JUGA : Akhirnya Jalan Multiyears Cakru Selesai

Dengan niat agar musik asli Jember ini tetap lestari, dia pelan-pelan mulai belajar. Baik mengarahkan sampai terjun secara langsung ikut memahami teknik permainan musiknya. Meskipun, kata Didik, dirinya belum terlalu lihai memainkannya.

Kini, anggota grupnya sudah sampai pada generasi ketiga. Ada 12 orang anggota senior dan 8 orang junior sebagai regenerasi. Semuanya memiliki pegangan alat masing-masing. Mulai dari remo, bas, kontra bas, tengtong keter, selingan, gendang, tamborin, kenong, hingga seruling.

Hanya ada satu penyanyi di dalam musik grup patrol itu. Didik mengungkapkan, sangat sulit mencari penyanyi musik patrol yang benar-benar mau. Menurutnya, selain tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, alasan gengsi membuat penyanyi tak mau untuk bergabung. “Sebenarnya alasan utamanya adalah gengsi,” ucapnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kenanga, Gebang, Rabu (18/4).

Dia menuturkan, jumlah anggota grup musik patrol di tiap-tiap grup memang rata-rata sedikit. Dia menganggap bahwa minat masyarakat mulai meredup. Ditambah dengan minimnya dukungan dari pemkab untuk masa depan musik patrol di Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai relawan seni, Didik Afrianto dengan telaten mengurus anggota grup musik patrol yang diketuainya. Hastra 132 ialah salah satu grup yang tergabung dalam Paguyuban Seni Musik Patrol Jember (PSMPJ), yang terbentuk pada 1980. Sejak 2017, Didik mulai memegang tongkat estafet sebagai penerus dari bapak mertuanya.

BACA JUGA : Akhirnya Jalan Multiyears Cakru Selesai

Dengan niat agar musik asli Jember ini tetap lestari, dia pelan-pelan mulai belajar. Baik mengarahkan sampai terjun secara langsung ikut memahami teknik permainan musiknya. Meskipun, kata Didik, dirinya belum terlalu lihai memainkannya.

Kini, anggota grupnya sudah sampai pada generasi ketiga. Ada 12 orang anggota senior dan 8 orang junior sebagai regenerasi. Semuanya memiliki pegangan alat masing-masing. Mulai dari remo, bas, kontra bas, tengtong keter, selingan, gendang, tamborin, kenong, hingga seruling.

Hanya ada satu penyanyi di dalam musik grup patrol itu. Didik mengungkapkan, sangat sulit mencari penyanyi musik patrol yang benar-benar mau. Menurutnya, selain tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, alasan gengsi membuat penyanyi tak mau untuk bergabung. “Sebenarnya alasan utamanya adalah gengsi,” ucapnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kenanga, Gebang, Rabu (18/4).

Dia menuturkan, jumlah anggota grup musik patrol di tiap-tiap grup memang rata-rata sedikit. Dia menganggap bahwa minat masyarakat mulai meredup. Ditambah dengan minimnya dukungan dari pemkab untuk masa depan musik patrol di Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/