alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Pencipta Lagu Campursari di Jember Banting Setir jadi Kekinian

Konsisten Gubah Lagu, Usung Kearifan Lokal Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HIASAN wayang kulit menghiasi dinding ruang tamu kediaman Supartu. Kecintaannya terhadap budaya Jawa tidak sekadar dilampiaskan dalam bentuk dekorasi rumah. Pria yang lebih akrab disapa Kang Partu tersebut juga turut menghiasi dunianya lewat gubahan lagu Jawa dengan genre campursari.

Di depan layar komputer, Supartu layaknya anak muda saja. Pria 60 tahun yang telah memiliki empat cucu itu juga mengenakan headphonet. Jari Supartu begitu akrab dengan mouse dan keyboard. Lewat komputer tersebut, Supartu tidak sekadar menikmati lagu atau kegiatan mengetik semata. Tapi, dirinya juga mulai melakukan editing video dan siap untuk diunggah di media sosial. “Wah, karena pandemi, bisa belajar semua hal. Termasuk editing video, ada enam video selama pandemi ini,” katanya.

Lewat kanal YouTube Partu Channel tersebut, karya campursarinya bisa dinikmati khalayak di seluruh dunia. Bahkan, pada 2020 lalu, karya campursari ciptaan Kang Partu menjadi juara satu dalam ajang cipta lagu daerah yang digelar Dewan Kesenian Jatim.

Mobile_AP_Rectangle 2

Supartu sejatinya mulai menciptakan lagu saat duduk di bangku perguruan tinggi. “Kalau dulu sarananya tidak memungkinkan,” imbuhnya. Pria asal Banyuwangi itu juga sempat menciptakan lagu Banyuwangian tahun 2000 juga 2006.

Sempat menjadi penyiar radio dan beken karena memandu segmen campursari membawa wawasan Supartu tentang lagu campursari. Karenanya, tahun 2012 menjadi awal dirinya untuk terus produktif produksi lagu daerah.

Salah satu tembang karya Partu yang mengingatkan tentang Jember yaitu berjudul Gumuk. Gumuke padha ambruk, lemahe digawe uruq, dikrawuki cakar wesi, wis jugruk raisa bali. Gumuke dadi rata, wit-witan wisa ora ana, didusiri dadi pasir, yen udan dadine banjir. Begitulah syair pembuka bahasa Jawa dari lagu tersebut.

Dalam Bahasa Indonesia, sepenggal syair lagu tersebut menggambarkan kondisi gumuk di Jember yang telah runtuh, tanah telah dibuat uruk, telah dihancurkan oleh cakar besi, telah runtuh dan tidak bisa kembali. Gumuknya menjadi datar, pohon-pohon menghilang dan berubah menjadi pasir, jika hujan berubah menjadi banjir.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HIASAN wayang kulit menghiasi dinding ruang tamu kediaman Supartu. Kecintaannya terhadap budaya Jawa tidak sekadar dilampiaskan dalam bentuk dekorasi rumah. Pria yang lebih akrab disapa Kang Partu tersebut juga turut menghiasi dunianya lewat gubahan lagu Jawa dengan genre campursari.

Di depan layar komputer, Supartu layaknya anak muda saja. Pria 60 tahun yang telah memiliki empat cucu itu juga mengenakan headphonet. Jari Supartu begitu akrab dengan mouse dan keyboard. Lewat komputer tersebut, Supartu tidak sekadar menikmati lagu atau kegiatan mengetik semata. Tapi, dirinya juga mulai melakukan editing video dan siap untuk diunggah di media sosial. “Wah, karena pandemi, bisa belajar semua hal. Termasuk editing video, ada enam video selama pandemi ini,” katanya.

Lewat kanal YouTube Partu Channel tersebut, karya campursarinya bisa dinikmati khalayak di seluruh dunia. Bahkan, pada 2020 lalu, karya campursari ciptaan Kang Partu menjadi juara satu dalam ajang cipta lagu daerah yang digelar Dewan Kesenian Jatim.

Supartu sejatinya mulai menciptakan lagu saat duduk di bangku perguruan tinggi. “Kalau dulu sarananya tidak memungkinkan,” imbuhnya. Pria asal Banyuwangi itu juga sempat menciptakan lagu Banyuwangian tahun 2000 juga 2006.

Sempat menjadi penyiar radio dan beken karena memandu segmen campursari membawa wawasan Supartu tentang lagu campursari. Karenanya, tahun 2012 menjadi awal dirinya untuk terus produktif produksi lagu daerah.

Salah satu tembang karya Partu yang mengingatkan tentang Jember yaitu berjudul Gumuk. Gumuke padha ambruk, lemahe digawe uruq, dikrawuki cakar wesi, wis jugruk raisa bali. Gumuke dadi rata, wit-witan wisa ora ana, didusiri dadi pasir, yen udan dadine banjir. Begitulah syair pembuka bahasa Jawa dari lagu tersebut.

Dalam Bahasa Indonesia, sepenggal syair lagu tersebut menggambarkan kondisi gumuk di Jember yang telah runtuh, tanah telah dibuat uruk, telah dihancurkan oleh cakar besi, telah runtuh dan tidak bisa kembali. Gumuknya menjadi datar, pohon-pohon menghilang dan berubah menjadi pasir, jika hujan berubah menjadi banjir.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – HIASAN wayang kulit menghiasi dinding ruang tamu kediaman Supartu. Kecintaannya terhadap budaya Jawa tidak sekadar dilampiaskan dalam bentuk dekorasi rumah. Pria yang lebih akrab disapa Kang Partu tersebut juga turut menghiasi dunianya lewat gubahan lagu Jawa dengan genre campursari.

Di depan layar komputer, Supartu layaknya anak muda saja. Pria 60 tahun yang telah memiliki empat cucu itu juga mengenakan headphonet. Jari Supartu begitu akrab dengan mouse dan keyboard. Lewat komputer tersebut, Supartu tidak sekadar menikmati lagu atau kegiatan mengetik semata. Tapi, dirinya juga mulai melakukan editing video dan siap untuk diunggah di media sosial. “Wah, karena pandemi, bisa belajar semua hal. Termasuk editing video, ada enam video selama pandemi ini,” katanya.

Lewat kanal YouTube Partu Channel tersebut, karya campursarinya bisa dinikmati khalayak di seluruh dunia. Bahkan, pada 2020 lalu, karya campursari ciptaan Kang Partu menjadi juara satu dalam ajang cipta lagu daerah yang digelar Dewan Kesenian Jatim.

Supartu sejatinya mulai menciptakan lagu saat duduk di bangku perguruan tinggi. “Kalau dulu sarananya tidak memungkinkan,” imbuhnya. Pria asal Banyuwangi itu juga sempat menciptakan lagu Banyuwangian tahun 2000 juga 2006.

Sempat menjadi penyiar radio dan beken karena memandu segmen campursari membawa wawasan Supartu tentang lagu campursari. Karenanya, tahun 2012 menjadi awal dirinya untuk terus produktif produksi lagu daerah.

Salah satu tembang karya Partu yang mengingatkan tentang Jember yaitu berjudul Gumuk. Gumuke padha ambruk, lemahe digawe uruq, dikrawuki cakar wesi, wis jugruk raisa bali. Gumuke dadi rata, wit-witan wisa ora ana, didusiri dadi pasir, yen udan dadine banjir. Begitulah syair pembuka bahasa Jawa dari lagu tersebut.

Dalam Bahasa Indonesia, sepenggal syair lagu tersebut menggambarkan kondisi gumuk di Jember yang telah runtuh, tanah telah dibuat uruk, telah dihancurkan oleh cakar besi, telah runtuh dan tidak bisa kembali. Gumuknya menjadi datar, pohon-pohon menghilang dan berubah menjadi pasir, jika hujan berubah menjadi banjir.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/