alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tiru Sunan Kalijaga, Motivasinya Ingin Nguri-Nguri Budaya Jawa

Jadi orang Jawa yang njawani. Prinsip inilah yang jadi pegangan Rangga Wibisono. Di usia yang masih muda, 17 tahun, ia sudah paham bagaimana menjadi orang Jawa yang kental dengan filosofi kehidupan. Falsafah itulah yang ia tuangkan melalui budaya pewayangan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Blangkon hitam dan keris melekat di tubuh remaja saat pertunjukan wayang di Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, belum lama ini. Bak seorang dalang kawakan, Rangga begitu lihai menyabetkan wayang. Semua mata pun tertuju padanya. Langgam bernada khas dari sinden mengiringi alur cerita pewayangan hingga membuat pengunjung terkesima. Penonton cukup antusias menyimak lakon yang dibawa Rangga, malam itu.

Ia tak kelihatan canggung sama sekali, apalagi grogi. Penuh percaya diri, Ki Rangga, sapaan akrabnya, menarik-tancapkan wayang-wayang yang ia buat sendiri. Iringan musik dari kenong, gender, gong, dan kendang yang dimainkan para panjak, sangat rancak mengikuti gerakan tangan dalang remaja tersebut. Pertunjukan itu berlangsung sekitar dua jam.

Ya, remaja bernama lengkap Rangga Wibisono itu memang seorang dalang dalam lakon itu. Dia juga yang membikin sendiri wayang yang dimainkan tersebut. Bahkan, sanggar juga dipimpinnya sendiri. Sebenarnya, nama aslinya Mohammad Rangga Oktariyan. Nama Wibisono ia dapatkan karena seringnya tampil sebagai dalang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepada Jawa Pos Radar Jember, remaja 17 tahun itu mengisahkan, awal ia menaruh perhatian ke salah satu budaya Jawa ini saat masih duduk di bangku kelas 2 SD. “Ibu saya (almarhum, Red) adalah orang Lampung. Sepulang mudik dari Lampung dulu, sempat nonton wayang, dan melihat dalang. Dari situ muncul ketertarikan,” kenangnya, mengawali kisah.

Kata dia, seorang dalang sangat mendalami nilai-nilai kehidupan atau filosofi kehidupan orang Jawa. “Seperti Kanjeng Sunan Kalijaga, dia berdakwah melalui wayang,” ujarnya. Karena dinilai terdapat kedalaman filosofi kehidupan itu, ia tak hanya tertarik ke dalang, tapi juga mulai belajar tentang wayang dan pedalangan. “Sejak kelas lima dan enam SD, mulai rajin belajar wayang dan dalang,” ungkapnya.

Keseriusannya belajar wayang benar-benar ia tunjukkan. Sejak lulus SD dan masa SMP, Rangga membuat wayang dari semua karakter. Seperti halnya wayang kulit yang biasa dikenal saat ini. Di rumahnya sendiri, Dusun Krajan Gang IV, Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, ada semua jenis karakter wayang yang ia buat. Namun, wayang bikinan Rangga bukan terbuat dari kulit seperti wayang pada umumnya. Melainkan dari kayu dan kertas tebal, mirip seperti rotan. “Saya berikan nama Wayang Klotek. Karena suaranya klotek-klotek yang ditimbulkan dari suara kayu yang beradu. Dan alat musiknya juga banyak dari campuran kayu,” tuturnya.

Ia mengakui, sebenarnya dia ingin membuat wayang seperti wayang kulit dan alat musik yang benar-benar khas budaya Jawa itu. Seperti kenong, gong, kendang, dan lain-lainnya. “Namun biayanya besar. Jadi, saya bikin wayang sendiri. Tujuannya masih sama, nguri-nguri budaya Jawa,” akunya.

Remaja yang kini kelas XI di SMK Hidayatul Mubtadiin, Sidodadi, Tempurejo ini, mengaku, selama masa belajar, ia lebih banyak autodidak. Memanfaatkan kanal YouTube dan beberapa kenalan dalang kondang favoritnya. Seperti Ki Bayu Aji dan Ki Seno Nugroho, dalang asal Yogyakarta, dan Ki Wiwit Wicaksono, asal Curahnongko, Tempurejo. “Saya suka beliau-beliau. Karena pembawaannya menjiwai, luwes, luas, dan tiap penuturannya penuh pelajaran hidup,” katanya.

Ia sendiri benar-benar mendeklarasikan Wayang Klotek tepatnya sejak 2016 lalu. Rangga juga bertindak ganda, sebagai dalang sekaligus pimpinan penabuh alat musiknya. Bahkan, Rangga bisa disebut satu-satunya dalang Wayang Klotek di Jember. “Alhamdulillah, semua wayang dan alat milik saya sendiri. Dan musiknya dibantu teman-teman, serta anak-anak muda rekan saya,” imbuh remaja yang tergabung di organisasi Ikatan Pelajar NU (IPNU) Ranting Pontang Ambulu itu.

Rangga menambahkan, wayang bikinannya memang memiliki segmentasi penggemar tersendiri. Jika wayang kulit, mungkin golongan dewasa dan usia tua, tapi Wayang Klotek miliknya, menyasar kalangan pemuda seusianya.

Tak heran, Wayang Klotek milik Rangga dominan memiliki warna yang mencolok. Itu memang khasnya yang mengadopsi gaya anak muda kekinian. Kendati wayang dibuat seadanya, ia berharap, dari lakon sebagai dalang dalam Wayang Klotek itu, ia tidak sekadar nguri-nguri budaya Jawa yang hampir tinggal cerita. Namun, lebih dari itu. Sebab, menurut dia, budaya Jawa itu sangat luas dan mendalam. “Eman, jika para pemudanya sudah mulai emoh nguri-nguri budayanya sendiri,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Blangkon hitam dan keris melekat di tubuh remaja saat pertunjukan wayang di Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, belum lama ini. Bak seorang dalang kawakan, Rangga begitu lihai menyabetkan wayang. Semua mata pun tertuju padanya. Langgam bernada khas dari sinden mengiringi alur cerita pewayangan hingga membuat pengunjung terkesima. Penonton cukup antusias menyimak lakon yang dibawa Rangga, malam itu.

Ia tak kelihatan canggung sama sekali, apalagi grogi. Penuh percaya diri, Ki Rangga, sapaan akrabnya, menarik-tancapkan wayang-wayang yang ia buat sendiri. Iringan musik dari kenong, gender, gong, dan kendang yang dimainkan para panjak, sangat rancak mengikuti gerakan tangan dalang remaja tersebut. Pertunjukan itu berlangsung sekitar dua jam.

Ya, remaja bernama lengkap Rangga Wibisono itu memang seorang dalang dalam lakon itu. Dia juga yang membikin sendiri wayang yang dimainkan tersebut. Bahkan, sanggar juga dipimpinnya sendiri. Sebenarnya, nama aslinya Mohammad Rangga Oktariyan. Nama Wibisono ia dapatkan karena seringnya tampil sebagai dalang.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, remaja 17 tahun itu mengisahkan, awal ia menaruh perhatian ke salah satu budaya Jawa ini saat masih duduk di bangku kelas 2 SD. “Ibu saya (almarhum, Red) adalah orang Lampung. Sepulang mudik dari Lampung dulu, sempat nonton wayang, dan melihat dalang. Dari situ muncul ketertarikan,” kenangnya, mengawali kisah.

Kata dia, seorang dalang sangat mendalami nilai-nilai kehidupan atau filosofi kehidupan orang Jawa. “Seperti Kanjeng Sunan Kalijaga, dia berdakwah melalui wayang,” ujarnya. Karena dinilai terdapat kedalaman filosofi kehidupan itu, ia tak hanya tertarik ke dalang, tapi juga mulai belajar tentang wayang dan pedalangan. “Sejak kelas lima dan enam SD, mulai rajin belajar wayang dan dalang,” ungkapnya.

Keseriusannya belajar wayang benar-benar ia tunjukkan. Sejak lulus SD dan masa SMP, Rangga membuat wayang dari semua karakter. Seperti halnya wayang kulit yang biasa dikenal saat ini. Di rumahnya sendiri, Dusun Krajan Gang IV, Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, ada semua jenis karakter wayang yang ia buat. Namun, wayang bikinan Rangga bukan terbuat dari kulit seperti wayang pada umumnya. Melainkan dari kayu dan kertas tebal, mirip seperti rotan. “Saya berikan nama Wayang Klotek. Karena suaranya klotek-klotek yang ditimbulkan dari suara kayu yang beradu. Dan alat musiknya juga banyak dari campuran kayu,” tuturnya.

Ia mengakui, sebenarnya dia ingin membuat wayang seperti wayang kulit dan alat musik yang benar-benar khas budaya Jawa itu. Seperti kenong, gong, kendang, dan lain-lainnya. “Namun biayanya besar. Jadi, saya bikin wayang sendiri. Tujuannya masih sama, nguri-nguri budaya Jawa,” akunya.

Remaja yang kini kelas XI di SMK Hidayatul Mubtadiin, Sidodadi, Tempurejo ini, mengaku, selama masa belajar, ia lebih banyak autodidak. Memanfaatkan kanal YouTube dan beberapa kenalan dalang kondang favoritnya. Seperti Ki Bayu Aji dan Ki Seno Nugroho, dalang asal Yogyakarta, dan Ki Wiwit Wicaksono, asal Curahnongko, Tempurejo. “Saya suka beliau-beliau. Karena pembawaannya menjiwai, luwes, luas, dan tiap penuturannya penuh pelajaran hidup,” katanya.

Ia sendiri benar-benar mendeklarasikan Wayang Klotek tepatnya sejak 2016 lalu. Rangga juga bertindak ganda, sebagai dalang sekaligus pimpinan penabuh alat musiknya. Bahkan, Rangga bisa disebut satu-satunya dalang Wayang Klotek di Jember. “Alhamdulillah, semua wayang dan alat milik saya sendiri. Dan musiknya dibantu teman-teman, serta anak-anak muda rekan saya,” imbuh remaja yang tergabung di organisasi Ikatan Pelajar NU (IPNU) Ranting Pontang Ambulu itu.

Rangga menambahkan, wayang bikinannya memang memiliki segmentasi penggemar tersendiri. Jika wayang kulit, mungkin golongan dewasa dan usia tua, tapi Wayang Klotek miliknya, menyasar kalangan pemuda seusianya.

Tak heran, Wayang Klotek milik Rangga dominan memiliki warna yang mencolok. Itu memang khasnya yang mengadopsi gaya anak muda kekinian. Kendati wayang dibuat seadanya, ia berharap, dari lakon sebagai dalang dalam Wayang Klotek itu, ia tidak sekadar nguri-nguri budaya Jawa yang hampir tinggal cerita. Namun, lebih dari itu. Sebab, menurut dia, budaya Jawa itu sangat luas dan mendalam. “Eman, jika para pemudanya sudah mulai emoh nguri-nguri budayanya sendiri,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Blangkon hitam dan keris melekat di tubuh remaja saat pertunjukan wayang di Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, belum lama ini. Bak seorang dalang kawakan, Rangga begitu lihai menyabetkan wayang. Semua mata pun tertuju padanya. Langgam bernada khas dari sinden mengiringi alur cerita pewayangan hingga membuat pengunjung terkesima. Penonton cukup antusias menyimak lakon yang dibawa Rangga, malam itu.

Ia tak kelihatan canggung sama sekali, apalagi grogi. Penuh percaya diri, Ki Rangga, sapaan akrabnya, menarik-tancapkan wayang-wayang yang ia buat sendiri. Iringan musik dari kenong, gender, gong, dan kendang yang dimainkan para panjak, sangat rancak mengikuti gerakan tangan dalang remaja tersebut. Pertunjukan itu berlangsung sekitar dua jam.

Ya, remaja bernama lengkap Rangga Wibisono itu memang seorang dalang dalam lakon itu. Dia juga yang membikin sendiri wayang yang dimainkan tersebut. Bahkan, sanggar juga dipimpinnya sendiri. Sebenarnya, nama aslinya Mohammad Rangga Oktariyan. Nama Wibisono ia dapatkan karena seringnya tampil sebagai dalang.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, remaja 17 tahun itu mengisahkan, awal ia menaruh perhatian ke salah satu budaya Jawa ini saat masih duduk di bangku kelas 2 SD. “Ibu saya (almarhum, Red) adalah orang Lampung. Sepulang mudik dari Lampung dulu, sempat nonton wayang, dan melihat dalang. Dari situ muncul ketertarikan,” kenangnya, mengawali kisah.

Kata dia, seorang dalang sangat mendalami nilai-nilai kehidupan atau filosofi kehidupan orang Jawa. “Seperti Kanjeng Sunan Kalijaga, dia berdakwah melalui wayang,” ujarnya. Karena dinilai terdapat kedalaman filosofi kehidupan itu, ia tak hanya tertarik ke dalang, tapi juga mulai belajar tentang wayang dan pedalangan. “Sejak kelas lima dan enam SD, mulai rajin belajar wayang dan dalang,” ungkapnya.

Keseriusannya belajar wayang benar-benar ia tunjukkan. Sejak lulus SD dan masa SMP, Rangga membuat wayang dari semua karakter. Seperti halnya wayang kulit yang biasa dikenal saat ini. Di rumahnya sendiri, Dusun Krajan Gang IV, Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, ada semua jenis karakter wayang yang ia buat. Namun, wayang bikinan Rangga bukan terbuat dari kulit seperti wayang pada umumnya. Melainkan dari kayu dan kertas tebal, mirip seperti rotan. “Saya berikan nama Wayang Klotek. Karena suaranya klotek-klotek yang ditimbulkan dari suara kayu yang beradu. Dan alat musiknya juga banyak dari campuran kayu,” tuturnya.

Ia mengakui, sebenarnya dia ingin membuat wayang seperti wayang kulit dan alat musik yang benar-benar khas budaya Jawa itu. Seperti kenong, gong, kendang, dan lain-lainnya. “Namun biayanya besar. Jadi, saya bikin wayang sendiri. Tujuannya masih sama, nguri-nguri budaya Jawa,” akunya.

Remaja yang kini kelas XI di SMK Hidayatul Mubtadiin, Sidodadi, Tempurejo ini, mengaku, selama masa belajar, ia lebih banyak autodidak. Memanfaatkan kanal YouTube dan beberapa kenalan dalang kondang favoritnya. Seperti Ki Bayu Aji dan Ki Seno Nugroho, dalang asal Yogyakarta, dan Ki Wiwit Wicaksono, asal Curahnongko, Tempurejo. “Saya suka beliau-beliau. Karena pembawaannya menjiwai, luwes, luas, dan tiap penuturannya penuh pelajaran hidup,” katanya.

Ia sendiri benar-benar mendeklarasikan Wayang Klotek tepatnya sejak 2016 lalu. Rangga juga bertindak ganda, sebagai dalang sekaligus pimpinan penabuh alat musiknya. Bahkan, Rangga bisa disebut satu-satunya dalang Wayang Klotek di Jember. “Alhamdulillah, semua wayang dan alat milik saya sendiri. Dan musiknya dibantu teman-teman, serta anak-anak muda rekan saya,” imbuh remaja yang tergabung di organisasi Ikatan Pelajar NU (IPNU) Ranting Pontang Ambulu itu.

Rangga menambahkan, wayang bikinannya memang memiliki segmentasi penggemar tersendiri. Jika wayang kulit, mungkin golongan dewasa dan usia tua, tapi Wayang Klotek miliknya, menyasar kalangan pemuda seusianya.

Tak heran, Wayang Klotek milik Rangga dominan memiliki warna yang mencolok. Itu memang khasnya yang mengadopsi gaya anak muda kekinian. Kendati wayang dibuat seadanya, ia berharap, dari lakon sebagai dalang dalam Wayang Klotek itu, ia tidak sekadar nguri-nguri budaya Jawa yang hampir tinggal cerita. Namun, lebih dari itu. Sebab, menurut dia, budaya Jawa itu sangat luas dan mendalam. “Eman, jika para pemudanya sudah mulai emoh nguri-nguri budayanya sendiri,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/