alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Hindari Dampak Teknologi, Anak-anak Bentuk Majelis Salawat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sekitar 40 anak berusia 5-10 tahun tergabung dalam Majelis Salawat di Desa Sumberketempa, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Meski baru empat bulan terbentuk, anak-anak itu telah mahir memainkan alat musik hadrah.

Ustad Saiful, pendiri Majelis Salawat ini mengatakan, kelompok tersebut dibentuk karena kekhawatirannya terhadap generasi saat ini. Sebagian beasr anak-anak hampir 24 jam berkutat dengan teknologi, akibat pembelajaran daring dan juga kurangnya kontrol dari orang tua.

Baginya, terpaan teknologi yang terlalu sering dihadapi anak-anak bisa membawa dampak yang buruk. “Selain mengganggu kesehatan mental, fisik mereka juga jarang bergerak. Sehingga berdampak pada kesehatan fisik juga,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, lanjut dia, anak-anak seusia itu seharusnya lebih banyak belajar berinteraksi dengan kawan sejajarnya. Dia mengatakan, anak-anak lebih mudah diatur jika diberikan fasilitas yang menyenangkan bagi mereka. Salah satunya seperti alat musik hadrah.

Begitu dia membentuk Majelis Salawat, anak-anak yang tergabung sangat antusias untuk terus berlatih. Awalnya hanya ada 20 anak yang tergabung. Namun, karena sebagian anak tersebut mengajak temannya, kini majelis salawat itu telah beranggotakan 40 anak.

“Kita komunikasi dengan orang tuanya, ternyata mereka setuju. Karena mereka juga takut anaknya terkontaminasi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya kita inisiatif membemtuk kelompok salawat,” ungkap Saiful yang juga menjadi pengasuh lembaga madrasah di desa setempat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sekitar 40 anak berusia 5-10 tahun tergabung dalam Majelis Salawat di Desa Sumberketempa, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Meski baru empat bulan terbentuk, anak-anak itu telah mahir memainkan alat musik hadrah.

Ustad Saiful, pendiri Majelis Salawat ini mengatakan, kelompok tersebut dibentuk karena kekhawatirannya terhadap generasi saat ini. Sebagian beasr anak-anak hampir 24 jam berkutat dengan teknologi, akibat pembelajaran daring dan juga kurangnya kontrol dari orang tua.

Baginya, terpaan teknologi yang terlalu sering dihadapi anak-anak bisa membawa dampak yang buruk. “Selain mengganggu kesehatan mental, fisik mereka juga jarang bergerak. Sehingga berdampak pada kesehatan fisik juga,” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, anak-anak seusia itu seharusnya lebih banyak belajar berinteraksi dengan kawan sejajarnya. Dia mengatakan, anak-anak lebih mudah diatur jika diberikan fasilitas yang menyenangkan bagi mereka. Salah satunya seperti alat musik hadrah.

Begitu dia membentuk Majelis Salawat, anak-anak yang tergabung sangat antusias untuk terus berlatih. Awalnya hanya ada 20 anak yang tergabung. Namun, karena sebagian anak tersebut mengajak temannya, kini majelis salawat itu telah beranggotakan 40 anak.

“Kita komunikasi dengan orang tuanya, ternyata mereka setuju. Karena mereka juga takut anaknya terkontaminasi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya kita inisiatif membemtuk kelompok salawat,” ungkap Saiful yang juga menjadi pengasuh lembaga madrasah di desa setempat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sekitar 40 anak berusia 5-10 tahun tergabung dalam Majelis Salawat di Desa Sumberketempa, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Meski baru empat bulan terbentuk, anak-anak itu telah mahir memainkan alat musik hadrah.

Ustad Saiful, pendiri Majelis Salawat ini mengatakan, kelompok tersebut dibentuk karena kekhawatirannya terhadap generasi saat ini. Sebagian beasr anak-anak hampir 24 jam berkutat dengan teknologi, akibat pembelajaran daring dan juga kurangnya kontrol dari orang tua.

Baginya, terpaan teknologi yang terlalu sering dihadapi anak-anak bisa membawa dampak yang buruk. “Selain mengganggu kesehatan mental, fisik mereka juga jarang bergerak. Sehingga berdampak pada kesehatan fisik juga,” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, anak-anak seusia itu seharusnya lebih banyak belajar berinteraksi dengan kawan sejajarnya. Dia mengatakan, anak-anak lebih mudah diatur jika diberikan fasilitas yang menyenangkan bagi mereka. Salah satunya seperti alat musik hadrah.

Begitu dia membentuk Majelis Salawat, anak-anak yang tergabung sangat antusias untuk terus berlatih. Awalnya hanya ada 20 anak yang tergabung. Namun, karena sebagian anak tersebut mengajak temannya, kini majelis salawat itu telah beranggotakan 40 anak.

“Kita komunikasi dengan orang tuanya, ternyata mereka setuju. Karena mereka juga takut anaknya terkontaminasi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya kita inisiatif membemtuk kelompok salawat,” ungkap Saiful yang juga menjadi pengasuh lembaga madrasah di desa setempat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/