alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Drummer Cewek, Aksinya Garang namun Tetap Feminin

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari beberapa alat musik yang ada, drum menjadi satu-satunya alat musik perkusi yang dipukul menggunakan stik. Biasanya pemain drum atau drummer memainkan secara solo ataupun untuk menuntun sebuah lagu dalam sebuah grup musik. Agar tetap seirama, seorang drummer memerlukan kejelian dan yang tak kalah penting adalah skill mumpuni.

BACA JUGA : Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Alat musik yang membutuhkan ketangkasan pada kaki dan tangan itu biasanya digandrungi kalangan pria. Namun, bukan berarti kaum hawa tiada yang tertarik. Justru hal itulah yang menjadikan bermain drum diminati banyak kalangan dan kelompok usia. Seperti keempat perempuan ini misalnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mereka sengaja memilih drum untuk menyalurkan hobinya karena suatu alasan dan motivasi tertentu. “Saya menyukai drum karena ayah saya juga pemain drum. Rasanya seru saja, dan drummer cewek itu jarang, dan menariknya di situ,” kata Olga Ollena Syahadath, drummer asal Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Bagi Ollena, bermain drum memicu kreativitasnya dalam bermusik. Ia merasa ada kepuasan tersendiri ketika memukul drum, lalu menghasilkan nada tanpa khawatir fals. Ia juga lebih merasa bebas ketika berlama-lama bermain drum tanpa khawatir kesibukannya yang lain terganggu. Terlebih, selain menekuni hobi bermain drum, remaja 28 tahun itu juga mengembangkan usaha kuliner di rumahnya. “Basic atau teknik-teknik dasar sudah dikuasai. Jadi, pas latihan tinggal mengasahnya saja dengan meng-cover lagu-lagu,” kata drummer Be Next Band itu.

Serupa tapi berbeda. Ada dua bersaudara, Aprilla Putri Calista dan Septa Putri Calantha, yang juga bermain drum karena termotivasi oleh kiprah sang ayah yang seorang drummer. Kakak-adik itu telah mulai mendalami bermain drum sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar. “Suka main drum karena tangan dan kaki semuanya bermain,” katanya.

Meskipun secara fisik keduanya terbilang memiliki tubuh yang mungil, namun Calista dan Calantha cukup percaya diri menggebuk drum. Tangan dan kakinya seolah sudah menyatu dengan alat musik tersebut. Keduanya juga rutin berlatih di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar. “Pengennya jadi drummer kaya ayah,” aku kedua pelajar SMA 4 Jember itu.

Selain kakak-adik itu dan Ollena, cerita tak kalah menarik juga datang dari Jaza Anil Qusna, drummer asal Kaliwates. Drummer yang ke mana-mana selalu tampil berhijab itu menjatuhkan pilihannya untuk mendalami drum. Kendati sebenarnya ia juga bisa olah vokal maupun bermain gitar. “Rasanya main drum itu saya bebas berekspresi,” kata Jaza.

Kala memainkan drum, mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Jember itu mengaku menyukai musik beraliran pop-rock dan reggae. Karena dalam permainan drumnya yang nge-hits, dan sesekali tempo tinggi. Meskipun ia seorang drummer single player di Komunitas Musisi Jember (KMJ), namun Jaza mengaku masih kerap mengasah kemampuannya dengan berlatih ataupun jamming bareng. “Riuh kejut penonton kala tampil itu bikin saya makin berenergi lagi,” imbuh perempuan 31 tahun itu.

Muhammad Iskandar, drummer Tatto Band, mengatakan, tren bermain drum sudah merambah ke berbagai kalangan. Bahkan menyasar anak-anak perempuan yang masih kecil. Hal itu yang kemudian menjadikan alat musik ini begitu hits. Bahkan modifikasi di bagian-bagiannya, mulai dari snare, bass, tom-tom, cymbal, hihat stand, cymbal stand, snare stand, tom stand, dan lain-lain, sudah sering menghiasi penampilan drumer-drumer yang ada sekarang. “Kalau saya sukanya drum setting-an standar,” akunya.

Dia juga menjelaskan beberapa kunci dasar bermain drum. Bagi pemula, ia menyarankan memulainya dari teknik sticking, mengatur ketukan pukulan menggunakan stik drum. “Sticking ini mengatur ketukan, tempo, antara tangan kanan dan kiri sekiranya tidak dobel. Dan di sticking ini pula juga diajari kunci irama,” kata ayah dari Aprilla dan Calantha itu.

Lebih jauh, jika teknik dasar sticking itu belum dikuasai, ia biasanya belum mempersilakan muridnya untuk lanjut ke teknik-teknik berikutnya. “Teknik dasar ini paling cepat delapan bulan. Kalau ada yang lebih cepat dari itu, pasti belum begitu matang. Itu sudah terukur, ketika materi satu minggu sekali, anak-anak diharapkan sudah bisa menguasai satu materi itu hingga ke pertemuan minggu berikutnya,” tukas pria yang juga instruktur drum di Purwacaraka Kaliwates itu. (mau/c2/nur)

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari beberapa alat musik yang ada, drum menjadi satu-satunya alat musik perkusi yang dipukul menggunakan stik. Biasanya pemain drum atau drummer memainkan secara solo ataupun untuk menuntun sebuah lagu dalam sebuah grup musik. Agar tetap seirama, seorang drummer memerlukan kejelian dan yang tak kalah penting adalah skill mumpuni.

BACA JUGA : Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Alat musik yang membutuhkan ketangkasan pada kaki dan tangan itu biasanya digandrungi kalangan pria. Namun, bukan berarti kaum hawa tiada yang tertarik. Justru hal itulah yang menjadikan bermain drum diminati banyak kalangan dan kelompok usia. Seperti keempat perempuan ini misalnya.

Mereka sengaja memilih drum untuk menyalurkan hobinya karena suatu alasan dan motivasi tertentu. “Saya menyukai drum karena ayah saya juga pemain drum. Rasanya seru saja, dan drummer cewek itu jarang, dan menariknya di situ,” kata Olga Ollena Syahadath, drummer asal Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Bagi Ollena, bermain drum memicu kreativitasnya dalam bermusik. Ia merasa ada kepuasan tersendiri ketika memukul drum, lalu menghasilkan nada tanpa khawatir fals. Ia juga lebih merasa bebas ketika berlama-lama bermain drum tanpa khawatir kesibukannya yang lain terganggu. Terlebih, selain menekuni hobi bermain drum, remaja 28 tahun itu juga mengembangkan usaha kuliner di rumahnya. “Basic atau teknik-teknik dasar sudah dikuasai. Jadi, pas latihan tinggal mengasahnya saja dengan meng-cover lagu-lagu,” kata drummer Be Next Band itu.

Serupa tapi berbeda. Ada dua bersaudara, Aprilla Putri Calista dan Septa Putri Calantha, yang juga bermain drum karena termotivasi oleh kiprah sang ayah yang seorang drummer. Kakak-adik itu telah mulai mendalami bermain drum sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar. “Suka main drum karena tangan dan kaki semuanya bermain,” katanya.

Meskipun secara fisik keduanya terbilang memiliki tubuh yang mungil, namun Calista dan Calantha cukup percaya diri menggebuk drum. Tangan dan kakinya seolah sudah menyatu dengan alat musik tersebut. Keduanya juga rutin berlatih di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar. “Pengennya jadi drummer kaya ayah,” aku kedua pelajar SMA 4 Jember itu.

Selain kakak-adik itu dan Ollena, cerita tak kalah menarik juga datang dari Jaza Anil Qusna, drummer asal Kaliwates. Drummer yang ke mana-mana selalu tampil berhijab itu menjatuhkan pilihannya untuk mendalami drum. Kendati sebenarnya ia juga bisa olah vokal maupun bermain gitar. “Rasanya main drum itu saya bebas berekspresi,” kata Jaza.

Kala memainkan drum, mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Jember itu mengaku menyukai musik beraliran pop-rock dan reggae. Karena dalam permainan drumnya yang nge-hits, dan sesekali tempo tinggi. Meskipun ia seorang drummer single player di Komunitas Musisi Jember (KMJ), namun Jaza mengaku masih kerap mengasah kemampuannya dengan berlatih ataupun jamming bareng. “Riuh kejut penonton kala tampil itu bikin saya makin berenergi lagi,” imbuh perempuan 31 tahun itu.

Muhammad Iskandar, drummer Tatto Band, mengatakan, tren bermain drum sudah merambah ke berbagai kalangan. Bahkan menyasar anak-anak perempuan yang masih kecil. Hal itu yang kemudian menjadikan alat musik ini begitu hits. Bahkan modifikasi di bagian-bagiannya, mulai dari snare, bass, tom-tom, cymbal, hihat stand, cymbal stand, snare stand, tom stand, dan lain-lain, sudah sering menghiasi penampilan drumer-drumer yang ada sekarang. “Kalau saya sukanya drum setting-an standar,” akunya.

Dia juga menjelaskan beberapa kunci dasar bermain drum. Bagi pemula, ia menyarankan memulainya dari teknik sticking, mengatur ketukan pukulan menggunakan stik drum. “Sticking ini mengatur ketukan, tempo, antara tangan kanan dan kiri sekiranya tidak dobel. Dan di sticking ini pula juga diajari kunci irama,” kata ayah dari Aprilla dan Calantha itu.

Lebih jauh, jika teknik dasar sticking itu belum dikuasai, ia biasanya belum mempersilakan muridnya untuk lanjut ke teknik-teknik berikutnya. “Teknik dasar ini paling cepat delapan bulan. Kalau ada yang lebih cepat dari itu, pasti belum begitu matang. Itu sudah terukur, ketika materi satu minggu sekali, anak-anak diharapkan sudah bisa menguasai satu materi itu hingga ke pertemuan minggu berikutnya,” tukas pria yang juga instruktur drum di Purwacaraka Kaliwates itu. (mau/c2/nur)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari beberapa alat musik yang ada, drum menjadi satu-satunya alat musik perkusi yang dipukul menggunakan stik. Biasanya pemain drum atau drummer memainkan secara solo ataupun untuk menuntun sebuah lagu dalam sebuah grup musik. Agar tetap seirama, seorang drummer memerlukan kejelian dan yang tak kalah penting adalah skill mumpuni.

BACA JUGA : Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Alat musik yang membutuhkan ketangkasan pada kaki dan tangan itu biasanya digandrungi kalangan pria. Namun, bukan berarti kaum hawa tiada yang tertarik. Justru hal itulah yang menjadikan bermain drum diminati banyak kalangan dan kelompok usia. Seperti keempat perempuan ini misalnya.

Mereka sengaja memilih drum untuk menyalurkan hobinya karena suatu alasan dan motivasi tertentu. “Saya menyukai drum karena ayah saya juga pemain drum. Rasanya seru saja, dan drummer cewek itu jarang, dan menariknya di situ,” kata Olga Ollena Syahadath, drummer asal Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.

Bagi Ollena, bermain drum memicu kreativitasnya dalam bermusik. Ia merasa ada kepuasan tersendiri ketika memukul drum, lalu menghasilkan nada tanpa khawatir fals. Ia juga lebih merasa bebas ketika berlama-lama bermain drum tanpa khawatir kesibukannya yang lain terganggu. Terlebih, selain menekuni hobi bermain drum, remaja 28 tahun itu juga mengembangkan usaha kuliner di rumahnya. “Basic atau teknik-teknik dasar sudah dikuasai. Jadi, pas latihan tinggal mengasahnya saja dengan meng-cover lagu-lagu,” kata drummer Be Next Band itu.

Serupa tapi berbeda. Ada dua bersaudara, Aprilla Putri Calista dan Septa Putri Calantha, yang juga bermain drum karena termotivasi oleh kiprah sang ayah yang seorang drummer. Kakak-adik itu telah mulai mendalami bermain drum sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar. “Suka main drum karena tangan dan kaki semuanya bermain,” katanya.

Meskipun secara fisik keduanya terbilang memiliki tubuh yang mungil, namun Calista dan Calantha cukup percaya diri menggebuk drum. Tangan dan kakinya seolah sudah menyatu dengan alat musik tersebut. Keduanya juga rutin berlatih di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar. “Pengennya jadi drummer kaya ayah,” aku kedua pelajar SMA 4 Jember itu.

Selain kakak-adik itu dan Ollena, cerita tak kalah menarik juga datang dari Jaza Anil Qusna, drummer asal Kaliwates. Drummer yang ke mana-mana selalu tampil berhijab itu menjatuhkan pilihannya untuk mendalami drum. Kendati sebenarnya ia juga bisa olah vokal maupun bermain gitar. “Rasanya main drum itu saya bebas berekspresi,” kata Jaza.

Kala memainkan drum, mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Jember itu mengaku menyukai musik beraliran pop-rock dan reggae. Karena dalam permainan drumnya yang nge-hits, dan sesekali tempo tinggi. Meskipun ia seorang drummer single player di Komunitas Musisi Jember (KMJ), namun Jaza mengaku masih kerap mengasah kemampuannya dengan berlatih ataupun jamming bareng. “Riuh kejut penonton kala tampil itu bikin saya makin berenergi lagi,” imbuh perempuan 31 tahun itu.

Muhammad Iskandar, drummer Tatto Band, mengatakan, tren bermain drum sudah merambah ke berbagai kalangan. Bahkan menyasar anak-anak perempuan yang masih kecil. Hal itu yang kemudian menjadikan alat musik ini begitu hits. Bahkan modifikasi di bagian-bagiannya, mulai dari snare, bass, tom-tom, cymbal, hihat stand, cymbal stand, snare stand, tom stand, dan lain-lain, sudah sering menghiasi penampilan drumer-drumer yang ada sekarang. “Kalau saya sukanya drum setting-an standar,” akunya.

Dia juga menjelaskan beberapa kunci dasar bermain drum. Bagi pemula, ia menyarankan memulainya dari teknik sticking, mengatur ketukan pukulan menggunakan stik drum. “Sticking ini mengatur ketukan, tempo, antara tangan kanan dan kiri sekiranya tidak dobel. Dan di sticking ini pula juga diajari kunci irama,” kata ayah dari Aprilla dan Calantha itu.

Lebih jauh, jika teknik dasar sticking itu belum dikuasai, ia biasanya belum mempersilakan muridnya untuk lanjut ke teknik-teknik berikutnya. “Teknik dasar ini paling cepat delapan bulan. Kalau ada yang lebih cepat dari itu, pasti belum begitu matang. Itu sudah terukur, ketika materi satu minggu sekali, anak-anak diharapkan sudah bisa menguasai satu materi itu hingga ke pertemuan minggu berikutnya,” tukas pria yang juga instruktur drum di Purwacaraka Kaliwates itu. (mau/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/