alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Melihat Eksistensi Sardulo Bimo Yudho, Komunitas Reog Milenial di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

Sekelompok milenial mencoba melawan stigma terhadap anak muda yang identik disebut kaum rebahan. Mereka terwadahi dalam Komunitas Reog Sardulo Bimo Yudho. Di balik berdirinya, ada riwayat yang cukup menginspirasi. Dari soal cemoohan orang, hingga cerita saudara saat koma di ruang ICU.

MAULANA, RADARJEMBER.ID

Bunyi gamelan kala senja saat itu cukup mencuri perhatian dari jauh. Saat dicari sumber suaranya, ternyata berasal dari sebuah pelataran rumah. Tepatnya di kompleks Perumahan Kebonsari Indah, Kecamatan Sumbersari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Alunan gong dan gamelan itu rupanya mengiringi lima remaja putri penari jatil. Dengan gaya gemulai dan lenggak-lenggok, mereka memainkan kuda-kudaan dari pelepah kayu. Sementara itu, lainnya memainkan barong gagak merak dan topeng macan.

Belasan anak itu sepertinya tengah latihan. Sebab, keringat masih terlihat membasahi kaus yang mereka kenakan dengan warna serba hitam. “Kita sudah latihan sejak pukul 13.00 tadi,” tutur salah satu dari mereka kala ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Diketahui, mereka adalah anggota dari Kelompok Sardulo Bimo Yudho, komunitas reog yang digawangi anak-anak muda atau milenial. Nama komunitas mereka mungkin tidak setenar paguyuban reog kebanyakan yang ada di Jember. Hebatnya, semua organ dan kepengurusan komunitas reog itu digawangi anak-anak milenial atau masih pelajar SLTA. Bahkan keanggotaannya mencapai sekitar 50 orang.

BACA JUGA: Harumkan Nama Jember lewat Kesenian Khas

Mega Nanda Tegar Prakoso adalah pendiri dan pembina komunitas reog tersebut. Pemuda 21 tahun itu melatih anak-anak seusianya agar piawai bermain reog, menabuh alat musik reog, hingga melatih para penari jatil kalangan remaja putri, yang semuanya adalah kawan seusianya.

Kata Nanda, teman-temannya itu terbiasa latihan sejak siang hingga petang, selepas jam pulang sekolah. Sebab, dalam beberapa pekan mendatang, mereka ada job manggung di beberapa titik. “Sudah banyak undangan penampilan yang kami lewati. Dan Agustus nanti, ada sekitar tiga undangan,” kata pemuda yang memiliki nama lapang Nanda Wicay itu.

Sardulo Bimo Yudho sendiri sebenarnya sudah berdiri cukup lama. Tepatnya sejak  awal 2017 lalu. Selama lima tahun berdiri hingga sekarang, mereka sudah melewati beragam pengalaman. Dari yang manis sampai yang paling pahit. Hebatnya, selama lima tahun itu pula mereka bertahan, tetap konsisten berlatih dan berkarya.

Salah satu pengalaman pahit itu bermula ketika awal komunitas itu terbentuk. Nanda Wicay yang merupakan pentolan Sardulo Bimo Yudho mengaku, sebenarnya dia sudah lama terjun di dunia seni budaya reog. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekitar tahun 2009 silam.

Saat itu, alumnus SMA Islam Kaliwates itu sering mengikuti komunitas reog di Jember dan tampil di berbagai kesempatan. Namun, perjalanannya tak semulus yang diharapkan. “Banyak yang mencibir karena usia saya yang sangat muda. Sampai dicemooh, dihina, dikata-katain ‘percuma ikut tampil ke mana-mana kalau masih ngikut’. Kondisi itu membuat saya sangat frustrasi,” kenang Nanda kala mengisahkan awal terbentuknya sanggar reog berjuluk Matjan Kalem itu.

Puncaknya, pada 2015 lalu, remaja kelahiran Magetan itu benar-benar memutuskan hengkang dari komunitas reog yang sudah lama diikutinya. Dia sudah tidak betah mendengar beragam cibiran. Di saat bersamaan, sang adik saat itu tengah kritis di ruang ICU untuk menjalani perawatan, dan menghendaki sang kakak terus berkiprah di dunia seni budaya reog.

- Advertisement -

Sekelompok milenial mencoba melawan stigma terhadap anak muda yang identik disebut kaum rebahan. Mereka terwadahi dalam Komunitas Reog Sardulo Bimo Yudho. Di balik berdirinya, ada riwayat yang cukup menginspirasi. Dari soal cemoohan orang, hingga cerita saudara saat koma di ruang ICU.

MAULANA, RADARJEMBER.ID

Bunyi gamelan kala senja saat itu cukup mencuri perhatian dari jauh. Saat dicari sumber suaranya, ternyata berasal dari sebuah pelataran rumah. Tepatnya di kompleks Perumahan Kebonsari Indah, Kecamatan Sumbersari.

Alunan gong dan gamelan itu rupanya mengiringi lima remaja putri penari jatil. Dengan gaya gemulai dan lenggak-lenggok, mereka memainkan kuda-kudaan dari pelepah kayu. Sementara itu, lainnya memainkan barong gagak merak dan topeng macan.

Belasan anak itu sepertinya tengah latihan. Sebab, keringat masih terlihat membasahi kaus yang mereka kenakan dengan warna serba hitam. “Kita sudah latihan sejak pukul 13.00 tadi,” tutur salah satu dari mereka kala ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Diketahui, mereka adalah anggota dari Kelompok Sardulo Bimo Yudho, komunitas reog yang digawangi anak-anak muda atau milenial. Nama komunitas mereka mungkin tidak setenar paguyuban reog kebanyakan yang ada di Jember. Hebatnya, semua organ dan kepengurusan komunitas reog itu digawangi anak-anak milenial atau masih pelajar SLTA. Bahkan keanggotaannya mencapai sekitar 50 orang.

BACA JUGA: Harumkan Nama Jember lewat Kesenian Khas

Mega Nanda Tegar Prakoso adalah pendiri dan pembina komunitas reog tersebut. Pemuda 21 tahun itu melatih anak-anak seusianya agar piawai bermain reog, menabuh alat musik reog, hingga melatih para penari jatil kalangan remaja putri, yang semuanya adalah kawan seusianya.

Kata Nanda, teman-temannya itu terbiasa latihan sejak siang hingga petang, selepas jam pulang sekolah. Sebab, dalam beberapa pekan mendatang, mereka ada job manggung di beberapa titik. “Sudah banyak undangan penampilan yang kami lewati. Dan Agustus nanti, ada sekitar tiga undangan,” kata pemuda yang memiliki nama lapang Nanda Wicay itu.

Sardulo Bimo Yudho sendiri sebenarnya sudah berdiri cukup lama. Tepatnya sejak  awal 2017 lalu. Selama lima tahun berdiri hingga sekarang, mereka sudah melewati beragam pengalaman. Dari yang manis sampai yang paling pahit. Hebatnya, selama lima tahun itu pula mereka bertahan, tetap konsisten berlatih dan berkarya.

Salah satu pengalaman pahit itu bermula ketika awal komunitas itu terbentuk. Nanda Wicay yang merupakan pentolan Sardulo Bimo Yudho mengaku, sebenarnya dia sudah lama terjun di dunia seni budaya reog. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekitar tahun 2009 silam.

Saat itu, alumnus SMA Islam Kaliwates itu sering mengikuti komunitas reog di Jember dan tampil di berbagai kesempatan. Namun, perjalanannya tak semulus yang diharapkan. “Banyak yang mencibir karena usia saya yang sangat muda. Sampai dicemooh, dihina, dikata-katain ‘percuma ikut tampil ke mana-mana kalau masih ngikut’. Kondisi itu membuat saya sangat frustrasi,” kenang Nanda kala mengisahkan awal terbentuknya sanggar reog berjuluk Matjan Kalem itu.

Puncaknya, pada 2015 lalu, remaja kelahiran Magetan itu benar-benar memutuskan hengkang dari komunitas reog yang sudah lama diikutinya. Dia sudah tidak betah mendengar beragam cibiran. Di saat bersamaan, sang adik saat itu tengah kritis di ruang ICU untuk menjalani perawatan, dan menghendaki sang kakak terus berkiprah di dunia seni budaya reog.

Sekelompok milenial mencoba melawan stigma terhadap anak muda yang identik disebut kaum rebahan. Mereka terwadahi dalam Komunitas Reog Sardulo Bimo Yudho. Di balik berdirinya, ada riwayat yang cukup menginspirasi. Dari soal cemoohan orang, hingga cerita saudara saat koma di ruang ICU.

MAULANA, RADARJEMBER.ID

Bunyi gamelan kala senja saat itu cukup mencuri perhatian dari jauh. Saat dicari sumber suaranya, ternyata berasal dari sebuah pelataran rumah. Tepatnya di kompleks Perumahan Kebonsari Indah, Kecamatan Sumbersari.

Alunan gong dan gamelan itu rupanya mengiringi lima remaja putri penari jatil. Dengan gaya gemulai dan lenggak-lenggok, mereka memainkan kuda-kudaan dari pelepah kayu. Sementara itu, lainnya memainkan barong gagak merak dan topeng macan.

Belasan anak itu sepertinya tengah latihan. Sebab, keringat masih terlihat membasahi kaus yang mereka kenakan dengan warna serba hitam. “Kita sudah latihan sejak pukul 13.00 tadi,” tutur salah satu dari mereka kala ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Diketahui, mereka adalah anggota dari Kelompok Sardulo Bimo Yudho, komunitas reog yang digawangi anak-anak muda atau milenial. Nama komunitas mereka mungkin tidak setenar paguyuban reog kebanyakan yang ada di Jember. Hebatnya, semua organ dan kepengurusan komunitas reog itu digawangi anak-anak milenial atau masih pelajar SLTA. Bahkan keanggotaannya mencapai sekitar 50 orang.

BACA JUGA: Harumkan Nama Jember lewat Kesenian Khas

Mega Nanda Tegar Prakoso adalah pendiri dan pembina komunitas reog tersebut. Pemuda 21 tahun itu melatih anak-anak seusianya agar piawai bermain reog, menabuh alat musik reog, hingga melatih para penari jatil kalangan remaja putri, yang semuanya adalah kawan seusianya.

Kata Nanda, teman-temannya itu terbiasa latihan sejak siang hingga petang, selepas jam pulang sekolah. Sebab, dalam beberapa pekan mendatang, mereka ada job manggung di beberapa titik. “Sudah banyak undangan penampilan yang kami lewati. Dan Agustus nanti, ada sekitar tiga undangan,” kata pemuda yang memiliki nama lapang Nanda Wicay itu.

Sardulo Bimo Yudho sendiri sebenarnya sudah berdiri cukup lama. Tepatnya sejak  awal 2017 lalu. Selama lima tahun berdiri hingga sekarang, mereka sudah melewati beragam pengalaman. Dari yang manis sampai yang paling pahit. Hebatnya, selama lima tahun itu pula mereka bertahan, tetap konsisten berlatih dan berkarya.

Salah satu pengalaman pahit itu bermula ketika awal komunitas itu terbentuk. Nanda Wicay yang merupakan pentolan Sardulo Bimo Yudho mengaku, sebenarnya dia sudah lama terjun di dunia seni budaya reog. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekitar tahun 2009 silam.

Saat itu, alumnus SMA Islam Kaliwates itu sering mengikuti komunitas reog di Jember dan tampil di berbagai kesempatan. Namun, perjalanannya tak semulus yang diharapkan. “Banyak yang mencibir karena usia saya yang sangat muda. Sampai dicemooh, dihina, dikata-katain ‘percuma ikut tampil ke mana-mana kalau masih ngikut’. Kondisi itu membuat saya sangat frustrasi,” kenang Nanda kala mengisahkan awal terbentuknya sanggar reog berjuluk Matjan Kalem itu.

Puncaknya, pada 2015 lalu, remaja kelahiran Magetan itu benar-benar memutuskan hengkang dari komunitas reog yang sudah lama diikutinya. Dia sudah tidak betah mendengar beragam cibiran. Di saat bersamaan, sang adik saat itu tengah kritis di ruang ICU untuk menjalani perawatan, dan menghendaki sang kakak terus berkiprah di dunia seni budaya reog.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/