23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Bingung Menjelaskan Literasi Sejarahnya

Pegiat Kesenian Berharap Banyak pada Pemkab

Mobile_AP_Rectangle 1

Dirinya pun menyayangkan bila seni can-macanan kadduk belum didaftarkan menjadi HKI. Hal itu juga berdampak pada informasi mengenai kesenian itu sendiri kepada orang luar Jember yang berkunjung ke Arjasa.

“Semisal kami sedang ada pertunjukan can-macanan kadduk, ya bingung ketika orang bertanya tentang kesenian ini, karena tidak ada narasi yang jelas. Yang sulit adalah narasi tentang literasi sejarahnya,” kata pria 42 tahun itu.

Lebih lanjut, menurutnya, pihak pemkab terus mendukung kegiatan pertunjukan can-macanan kadduk di sanggarnya. Bahkan beberapa event besar Jember juga menampilkan kesenian macam ta-butaan atau can-macanan kadduk.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Harapannya untuk pemkab, ke depannya ada tim analisis akademisnya yang bisa datang ke wilayah Kecamatan Arjasa untuk mengkaji asal-muasal kesenian can-macanan kadduk. Nantinya akan tahu can-macanan kadduk termasuk dalam tradisi lisan, permainan tradisional, atau olahraga tradisonal,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

- Advertisement -

Dirinya pun menyayangkan bila seni can-macanan kadduk belum didaftarkan menjadi HKI. Hal itu juga berdampak pada informasi mengenai kesenian itu sendiri kepada orang luar Jember yang berkunjung ke Arjasa.

“Semisal kami sedang ada pertunjukan can-macanan kadduk, ya bingung ketika orang bertanya tentang kesenian ini, karena tidak ada narasi yang jelas. Yang sulit adalah narasi tentang literasi sejarahnya,” kata pria 42 tahun itu.

Lebih lanjut, menurutnya, pihak pemkab terus mendukung kegiatan pertunjukan can-macanan kadduk di sanggarnya. Bahkan beberapa event besar Jember juga menampilkan kesenian macam ta-butaan atau can-macanan kadduk.

“Harapannya untuk pemkab, ke depannya ada tim analisis akademisnya yang bisa datang ke wilayah Kecamatan Arjasa untuk mengkaji asal-muasal kesenian can-macanan kadduk. Nantinya akan tahu can-macanan kadduk termasuk dalam tradisi lisan, permainan tradisional, atau olahraga tradisonal,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

Dirinya pun menyayangkan bila seni can-macanan kadduk belum didaftarkan menjadi HKI. Hal itu juga berdampak pada informasi mengenai kesenian itu sendiri kepada orang luar Jember yang berkunjung ke Arjasa.

“Semisal kami sedang ada pertunjukan can-macanan kadduk, ya bingung ketika orang bertanya tentang kesenian ini, karena tidak ada narasi yang jelas. Yang sulit adalah narasi tentang literasi sejarahnya,” kata pria 42 tahun itu.

Lebih lanjut, menurutnya, pihak pemkab terus mendukung kegiatan pertunjukan can-macanan kadduk di sanggarnya. Bahkan beberapa event besar Jember juga menampilkan kesenian macam ta-butaan atau can-macanan kadduk.

“Harapannya untuk pemkab, ke depannya ada tim analisis akademisnya yang bisa datang ke wilayah Kecamatan Arjasa untuk mengkaji asal-muasal kesenian can-macanan kadduk. Nantinya akan tahu can-macanan kadduk termasuk dalam tradisi lisan, permainan tradisional, atau olahraga tradisonal,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca