Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga

Memotret Nasib Pekerja Seni di Tengah Pandemi Badai pandemi juga menghantam seni tradisional. Kebijakan larangan berkumpul membuat pelaku seni benar-benar terpukul. Padahal, ada ribuan orang yang bergantung hidup di dalamnya. Kondisi tersebut butuh solusi, dan pemerintah perlu membikin terobosan agar pekerja seni bisa bertahan di tengah situasi yang sulit ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi-Bunyian gamelan, gendang, gong, serta alat musik pendukung pergelaran seni tradisional itu sudah lama tak terdengar lagi. Tiadanya pementasan akibat pembatasan membuat aktivitas para pekerja seni seperti mati suri. Kini, nasib mereka ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Pertunjukan dilarang, pendapatan menghilang, dan bantuan dari pemerintah juga tak kunjung datang. Di sisi lain, pelarangan manggung juga mengakibatkan regenerasi di dunia seni kian terkikis.

Hal itu diperparah dengan tidak adanya langkah ataupun kebijakan khusus pemerintah untuk melindungi mereka. Padahal tiap kali hajatan yang dihelat pemerintah daerah, mereka kerap tampil. Namun, saat pagebluk ini, geliat mereka seolah lenyap dari peredaran. Kondisi inilah yang dirasakan seniman dan pegiat budaya di Jember. Selama ini, mereka kesulitan mendapat tempat di masyarakat lantaran pandemi yang belum diketahui sampai kapan akan berakhir ini. “Sejak pandemi (2020 lalu, Red) sudah libur total,” keluh Sujito, dalang sekaligus pemilik sanggar wayang asal Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu.

Saat ditemui di rumahnya, Mbah Jito, sapaan akrabnya, tak banyak yang ia dilakukan. Setiap harinya, dalang senior ini hanya beraktivitas seperti masyarakat umumnya. Tidak ada kegiatan ataupun kesibukan khusus terkait kebudayaan yang ditekuni. “Paling-paling ke pasar tiap pagi. Setelah itu, juga nyambi-nyambi mobil klasik ini,” ucap kakek 63 tahun ini sambil menunjukkan tiga koleksi mobil klasiknya keluaran 80-an.

Padahal hari-hari biasa, jika sebelum pandemi, banyak masyarakat yang mendatangkan kesenian tradisional seperti wayang ini. Terlebih saat bulan Sura atau Muharram, menjadi momentum yang paling banyak agenda pementasan. “Saya sendiri, ada enam lokasi yang sebelumnya terjadwal, tapi semuanya dibatalkan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pria yang sejak era 70-an telah mendalang ini menyayangkan sepinya pementasan itu. Bukan karena minim pemasukan, namun karena tidak bisa lagi mengembangkan seni dan budaya. Khususnya wayang kulit yang ditekuni sejak masih kelas lima SD itu. Apalagi, eksistensi kesenian seperti itu tiap tahun semakin berat tantangannya, karena generasi yang berminat meneruskan kesenian itu semakin sedikit. “Ada Dalang Edi Karanganyar Ambulu, itu murid saya. Sebenarnya anak didik ada, tapi sulit mengembangkannya, karena untuk latihan saja sulit. Tidak bisa,” keluhnya.

Di rumahnya sendiri, tepat di pinggir Jalan Watu Ulo, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, berbagai perlengkapan manggung masih utuh. Seperti gender, kenong, dan gong, serta beberapa tempat alat musik lainnya. Sekian jenis perlengkapan itu tampak mulai berdebu. Hal itu menunjukkan bahwa gamelan tersebut sudah lama tidak terpakai.

Sejak adanya pandemi, kakek tiga cucu ini mengaku tidak punya banyak pilihan. Kendati hari ini ia masih disibukkan dengan aktivitas ke pasar dan merawat mobil klasiknya, namun jauh di benaknya, Mbah Jito mengaku masih menyimpan mimpi besar, wayang dan segala kebudayaan itu bisa kembali berjaya.

Berharap Ada Wadah Manggung

KONDISI serupa juga dialami oleh seni tradisional jaranan atau kuda lumping. Sejak pagebluk, mereka juga vakum karena nyaris tidak manggung. Padahal, pementasan itu dinilai oleh pekerja seni tak hanya menjadi ladang ekonomi, tapi juga merawat tradisi. Sebab, mereka juga meyakini, seni budaya bakal tetap lestari jika terus dimainkan dalam panggung-panggung. “Sekarang, kami sudah vakum,” ungkap Cucuk Sudariyanto, pembina sekaligus perintis Komunitas Jaranan Singo Gendeng asal Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Cucuk mengaku, telah lama komunitas seninya tidak manggung. Seingat dia, sebelum pemilihan bupati (pilbup) lalu. Sekitar akhir 2020 atau awal 2021. “Kapan ya? Pokoknya sebelum pilbup kemarin ini,” ungkap pria 45 tahun tersebut sembari mengingat pementasan terakhir yang berujung pembubaran. Meski ingatannya tentang waktu pementasan kabur, tapi Cucuk tak pernah lupa bagaimana panggung seninya itu dibubarkan.