alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Belasan Situs Budaya Jember Belum Teregistrasi

“Namun, barang tersebut pasti barang cagar budaya walau belum ada pengakuan yang sah dari pemerintah.” Djoko Suhardjito - Koordinator Juru Pelihara BPCB

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Jember memiliki peninggalan artefak yang cukup banyak. Tersebar di beberapa wilayah dari ujung utara sampai selatan. Namun, banyaknya benda cagar budaya yang dimiliki itu belum menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian diregistrasi secara resmi dan diakui secara nasional. Padahal, pemetaan cagar budaya melalui registrasi situs menjadi hal penting untuk dilakukan guna mempercepat tindakan menjaga dan memelihara warisan leluhur.

Koordinator Juru Pelihara BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Djoko Suhardjito menjelaskan, selama ini Jember belum memiliki situs cagar budaya yang diregistrasi. Artinya, status benda-benda cagar budaya itu masih bersifat dugaan, karena belum ditetapkan. Setidaknya, terdapat 14 situs cagar budaya yang belum diregistrasi. Di antaranya artefak dan benda sejarah di situs cagar budaya BPCB, serta situs cagar budaya Kamal di Arjasa. “Yang terdata ada 14 situs di Jember,” ungkapnya.

Karena belum sah inilah, kata dia, statusnya adalah objek diduga cagar budaya, bukan cagar budaya. “Namun, barang tersebut pasti barang cagar budaya walau belum ada pengakuan yang sah dari pemerintah,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mengungkapkan, seluruh benda cagar budaya nyaris teregistrasi pada dua periode pemerintahan sebelumnya. Persiapannya pun cukup matang. Setiap benda cagar budaya telah dipasang nomor. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan karena kala itu pemerintah daerah tidak melakukan tanda tangan proses registrasi benda cagar budaya yang akan dilakukan. “Dulu kami sudah siap. Tapi, Pak Djalal (mantan bupati MZA Djalal, Red) tidak tanda tangan,” paparnya.

Setelah gagal, hingga saat ini rencana registrasi belum muncul, bahkan dalam beberapa dialog yang melibatkan unsur pemerintah daerah. Namun, seiring dengan munculnya wacana pembuatan museum di era pemerintahan sekarang, Djoko optimistis proses registrasi akan berjalan. Jika banyak benda-benda cagar budaya yang teregistrasi, maka spirit melakukan kajian dan penelitian secara akademik akan semakin bergeliat. “Jember itu punya artefak yang banyak. Minimal itu saja yang difokuskan untuk mendapat perhatian dan pengesahan,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Jember memiliki peninggalan artefak yang cukup banyak. Tersebar di beberapa wilayah dari ujung utara sampai selatan. Namun, banyaknya benda cagar budaya yang dimiliki itu belum menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian diregistrasi secara resmi dan diakui secara nasional. Padahal, pemetaan cagar budaya melalui registrasi situs menjadi hal penting untuk dilakukan guna mempercepat tindakan menjaga dan memelihara warisan leluhur.

Koordinator Juru Pelihara BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Djoko Suhardjito menjelaskan, selama ini Jember belum memiliki situs cagar budaya yang diregistrasi. Artinya, status benda-benda cagar budaya itu masih bersifat dugaan, karena belum ditetapkan. Setidaknya, terdapat 14 situs cagar budaya yang belum diregistrasi. Di antaranya artefak dan benda sejarah di situs cagar budaya BPCB, serta situs cagar budaya Kamal di Arjasa. “Yang terdata ada 14 situs di Jember,” ungkapnya.

Karena belum sah inilah, kata dia, statusnya adalah objek diduga cagar budaya, bukan cagar budaya. “Namun, barang tersebut pasti barang cagar budaya walau belum ada pengakuan yang sah dari pemerintah,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, seluruh benda cagar budaya nyaris teregistrasi pada dua periode pemerintahan sebelumnya. Persiapannya pun cukup matang. Setiap benda cagar budaya telah dipasang nomor. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan karena kala itu pemerintah daerah tidak melakukan tanda tangan proses registrasi benda cagar budaya yang akan dilakukan. “Dulu kami sudah siap. Tapi, Pak Djalal (mantan bupati MZA Djalal, Red) tidak tanda tangan,” paparnya.

Setelah gagal, hingga saat ini rencana registrasi belum muncul, bahkan dalam beberapa dialog yang melibatkan unsur pemerintah daerah. Namun, seiring dengan munculnya wacana pembuatan museum di era pemerintahan sekarang, Djoko optimistis proses registrasi akan berjalan. Jika banyak benda-benda cagar budaya yang teregistrasi, maka spirit melakukan kajian dan penelitian secara akademik akan semakin bergeliat. “Jember itu punya artefak yang banyak. Minimal itu saja yang difokuskan untuk mendapat perhatian dan pengesahan,” pungkasnya.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Jember memiliki peninggalan artefak yang cukup banyak. Tersebar di beberapa wilayah dari ujung utara sampai selatan. Namun, banyaknya benda cagar budaya yang dimiliki itu belum menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian diregistrasi secara resmi dan diakui secara nasional. Padahal, pemetaan cagar budaya melalui registrasi situs menjadi hal penting untuk dilakukan guna mempercepat tindakan menjaga dan memelihara warisan leluhur.

Koordinator Juru Pelihara BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Djoko Suhardjito menjelaskan, selama ini Jember belum memiliki situs cagar budaya yang diregistrasi. Artinya, status benda-benda cagar budaya itu masih bersifat dugaan, karena belum ditetapkan. Setidaknya, terdapat 14 situs cagar budaya yang belum diregistrasi. Di antaranya artefak dan benda sejarah di situs cagar budaya BPCB, serta situs cagar budaya Kamal di Arjasa. “Yang terdata ada 14 situs di Jember,” ungkapnya.

Karena belum sah inilah, kata dia, statusnya adalah objek diduga cagar budaya, bukan cagar budaya. “Namun, barang tersebut pasti barang cagar budaya walau belum ada pengakuan yang sah dari pemerintah,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, seluruh benda cagar budaya nyaris teregistrasi pada dua periode pemerintahan sebelumnya. Persiapannya pun cukup matang. Setiap benda cagar budaya telah dipasang nomor. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan karena kala itu pemerintah daerah tidak melakukan tanda tangan proses registrasi benda cagar budaya yang akan dilakukan. “Dulu kami sudah siap. Tapi, Pak Djalal (mantan bupati MZA Djalal, Red) tidak tanda tangan,” paparnya.

Setelah gagal, hingga saat ini rencana registrasi belum muncul, bahkan dalam beberapa dialog yang melibatkan unsur pemerintah daerah. Namun, seiring dengan munculnya wacana pembuatan museum di era pemerintahan sekarang, Djoko optimistis proses registrasi akan berjalan. Jika banyak benda-benda cagar budaya yang teregistrasi, maka spirit melakukan kajian dan penelitian secara akademik akan semakin bergeliat. “Jember itu punya artefak yang banyak. Minimal itu saja yang difokuskan untuk mendapat perhatian dan pengesahan,” pungkasnya.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca