alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Nyepi Bakal Benar-Benar Sunyi

Perayaan Ogoh-Ogoh Ditiadakan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keheningan tampak menyelimuti pendapa di Aula Pura Agung Amertha Asri di Kelurahan/Kecamatan Patrang. Kala itu, I Wayan Subagiarta tampak sibuk membaca sebuah pustaka. Sesekali, tangan kirinya melepas kaca mata, sedangkan tangan kanannya membilas air mata yang tak sengaja keluar karena kantuk.

“Nyepi kali ini bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ucap pria yang menjadi pinandita di pura itu. Mengingat, saat ini pandemi Covid-19 masih membayangi. Karena itu, dia menambahkan, perayaan persiapan menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan secara terbatas. Salah satunya upacara Melasti yang dilaksanakan di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, akhir pekan lalu (7/3).

Sebelum melaksanakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti lebih dulu. Menurut pria kelahiran Tabanan, Bali, itu, Melasti merupakan upacara sembahyang umat Hindu yang bertujuan untuk penyucian diri serta benda sakral milik pura. “Maksudnya, agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi,” kata dosen ekonomi di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Upacara yang biasanya dihadiri ratusan umat Hindu dari berbagai daerah tersebut hanya digelar dengan jumlah belasan orang karena anjuran protokol kesehatan. Tak hanya itu, pembuatan dan perayaan ogoh-ogoh juga ditiadakan. Sebab, pembatasan hanya 10 orang. “Padahal, pembuatan ogoh-ogoh itu butuh banyak orang. Jadi, ditiadakan,” ulasnya.

Tri Pramana, Pengurus Pura Agung Amertha Asri, menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan salah satu ciri khas perayaan sebelum Nyepi. Biasanya, ogoh-ogoh akan diarak lalu dibakar. Pria 26 tahun itu menambahkan, pembatasan juga dilakukan untuk acara lain. Mulai tawur agung, pengerupukan, hingga ngembak geni. “Karena bukan syarat wajib dan untuk mencegah persebaran virus, ogoh-ogoh ditiadakan,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keheningan tampak menyelimuti pendapa di Aula Pura Agung Amertha Asri di Kelurahan/Kecamatan Patrang. Kala itu, I Wayan Subagiarta tampak sibuk membaca sebuah pustaka. Sesekali, tangan kirinya melepas kaca mata, sedangkan tangan kanannya membilas air mata yang tak sengaja keluar karena kantuk.

“Nyepi kali ini bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ucap pria yang menjadi pinandita di pura itu. Mengingat, saat ini pandemi Covid-19 masih membayangi. Karena itu, dia menambahkan, perayaan persiapan menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan secara terbatas. Salah satunya upacara Melasti yang dilaksanakan di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, akhir pekan lalu (7/3).

Sebelum melaksanakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti lebih dulu. Menurut pria kelahiran Tabanan, Bali, itu, Melasti merupakan upacara sembahyang umat Hindu yang bertujuan untuk penyucian diri serta benda sakral milik pura. “Maksudnya, agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi,” kata dosen ekonomi di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Upacara yang biasanya dihadiri ratusan umat Hindu dari berbagai daerah tersebut hanya digelar dengan jumlah belasan orang karena anjuran protokol kesehatan. Tak hanya itu, pembuatan dan perayaan ogoh-ogoh juga ditiadakan. Sebab, pembatasan hanya 10 orang. “Padahal, pembuatan ogoh-ogoh itu butuh banyak orang. Jadi, ditiadakan,” ulasnya.

Tri Pramana, Pengurus Pura Agung Amertha Asri, menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan salah satu ciri khas perayaan sebelum Nyepi. Biasanya, ogoh-ogoh akan diarak lalu dibakar. Pria 26 tahun itu menambahkan, pembatasan juga dilakukan untuk acara lain. Mulai tawur agung, pengerupukan, hingga ngembak geni. “Karena bukan syarat wajib dan untuk mencegah persebaran virus, ogoh-ogoh ditiadakan,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keheningan tampak menyelimuti pendapa di Aula Pura Agung Amertha Asri di Kelurahan/Kecamatan Patrang. Kala itu, I Wayan Subagiarta tampak sibuk membaca sebuah pustaka. Sesekali, tangan kirinya melepas kaca mata, sedangkan tangan kanannya membilas air mata yang tak sengaja keluar karena kantuk.

“Nyepi kali ini bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ucap pria yang menjadi pinandita di pura itu. Mengingat, saat ini pandemi Covid-19 masih membayangi. Karena itu, dia menambahkan, perayaan persiapan menjelang Hari Raya Nyepi dilaksanakan secara terbatas. Salah satunya upacara Melasti yang dilaksanakan di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, akhir pekan lalu (7/3).

Sebelum melaksanakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti lebih dulu. Menurut pria kelahiran Tabanan, Bali, itu, Melasti merupakan upacara sembahyang umat Hindu yang bertujuan untuk penyucian diri serta benda sakral milik pura. “Maksudnya, agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi,” kata dosen ekonomi di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Upacara yang biasanya dihadiri ratusan umat Hindu dari berbagai daerah tersebut hanya digelar dengan jumlah belasan orang karena anjuran protokol kesehatan. Tak hanya itu, pembuatan dan perayaan ogoh-ogoh juga ditiadakan. Sebab, pembatasan hanya 10 orang. “Padahal, pembuatan ogoh-ogoh itu butuh banyak orang. Jadi, ditiadakan,” ulasnya.

Tri Pramana, Pengurus Pura Agung Amertha Asri, menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan salah satu ciri khas perayaan sebelum Nyepi. Biasanya, ogoh-ogoh akan diarak lalu dibakar. Pria 26 tahun itu menambahkan, pembatasan juga dilakukan untuk acara lain. Mulai tawur agung, pengerupukan, hingga ngembak geni. “Karena bukan syarat wajib dan untuk mencegah persebaran virus, ogoh-ogoh ditiadakan,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/