alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Imlek di Tengah Pandemi, Jemaat Dibatasi

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menjelang perayaan tahun baru Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa berlomba-lomba menyambutnya dengan membersihkan tempat peribadatan. Mereka datang berbondong-bondong menjadi sukarelawan untuk membersihkan tempat suci itu.

Namun rupanya, kali ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana tak semua umat Tionghoa datang membersihkan tempat tersebut. Seperti di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Tempat peribadatan tiga agama ini, kini hanya dibersihkan oleh Pengurus TITD dan petugas kebersihan saja. Kegiatan bersih-bersih yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu tujuh hari itu, saat ini justru menghabiskan waktu hingga sepuluh hari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Petugas kebersihan TITD Miroso mengatakan, dirinya merasa dilema dengan peraturan pengurangan jumlah relawan kebersihan itu. Selama 42 tahun bekerja, baru kali ini pria 58 tahun tersebut merasa kewalahan mempersiapkan perayaan Imlek.

“Ini juga demi kesehatan dan keselamatan kita bersama. Cuma kan pengurus biasanya membawa anggota, sekarang tidak boleh,” ungkapnya.

Minggu (7/2), dirinya membersihkan altar-altar bersama para petugas. Mereka antara lain, Wakil Ketua TITD Jap Swie Liong, dan satu penjaga stand dupa, Ahmad. Sementara hingga kemarin, Senin (8/2) sedang dilakukan pemasangan lilin-lilin, serta pembersihan Thien Kong atau tempat menancapkan dupa.

Jap Swie Liong mengatakan, pihaknya sengaja membatasi jumlah pengunjung demi kelancaran acara pada Jumat mendatang. Dia juga membuat aturan khusus bagi para pengunjung saat pelaksanaan acara nantinya. Mereka diperbolehkan mendatangi TITD hanya untuk melaksanakan ibadah pada pagi hari saja.

“Itupun nanti mereka tidak sembahyang bersama, tapi ibadahnya pribadi atau masing-masing,” tuturnya.

Begitu pula untuk momen silaturahmi dan berkumpul bersama seusai ibadah. Tahun ini mereka disarankan untuk melakukan sambung silaturahmi melalui teknologi atau media komunikasi.

“Imlek ini memang bakal sepi, tapi kami yakin ke depannya kami dan manusia-manusia di bumi akan semakin kuat. Karena mungkin saat ini kita sedang diuji,” imbuhnya.

Reporter: mg1
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menjelang perayaan tahun baru Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa berlomba-lomba menyambutnya dengan membersihkan tempat peribadatan. Mereka datang berbondong-bondong menjadi sukarelawan untuk membersihkan tempat suci itu.

Namun rupanya, kali ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana tak semua umat Tionghoa datang membersihkan tempat tersebut. Seperti di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Tempat peribadatan tiga agama ini, kini hanya dibersihkan oleh Pengurus TITD dan petugas kebersihan saja. Kegiatan bersih-bersih yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu tujuh hari itu, saat ini justru menghabiskan waktu hingga sepuluh hari.

Mobile_AP_Half Page

Petugas kebersihan TITD Miroso mengatakan, dirinya merasa dilema dengan peraturan pengurangan jumlah relawan kebersihan itu. Selama 42 tahun bekerja, baru kali ini pria 58 tahun tersebut merasa kewalahan mempersiapkan perayaan Imlek.

“Ini juga demi kesehatan dan keselamatan kita bersama. Cuma kan pengurus biasanya membawa anggota, sekarang tidak boleh,” ungkapnya.

Minggu (7/2), dirinya membersihkan altar-altar bersama para petugas. Mereka antara lain, Wakil Ketua TITD Jap Swie Liong, dan satu penjaga stand dupa, Ahmad. Sementara hingga kemarin, Senin (8/2) sedang dilakukan pemasangan lilin-lilin, serta pembersihan Thien Kong atau tempat menancapkan dupa.

Jap Swie Liong mengatakan, pihaknya sengaja membatasi jumlah pengunjung demi kelancaran acara pada Jumat mendatang. Dia juga membuat aturan khusus bagi para pengunjung saat pelaksanaan acara nantinya. Mereka diperbolehkan mendatangi TITD hanya untuk melaksanakan ibadah pada pagi hari saja.

“Itupun nanti mereka tidak sembahyang bersama, tapi ibadahnya pribadi atau masing-masing,” tuturnya.

Begitu pula untuk momen silaturahmi dan berkumpul bersama seusai ibadah. Tahun ini mereka disarankan untuk melakukan sambung silaturahmi melalui teknologi atau media komunikasi.

“Imlek ini memang bakal sepi, tapi kami yakin ke depannya kami dan manusia-manusia di bumi akan semakin kuat. Karena mungkin saat ini kita sedang diuji,” imbuhnya.

Reporter: mg1
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menjelang perayaan tahun baru Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa berlomba-lomba menyambutnya dengan membersihkan tempat peribadatan. Mereka datang berbondong-bondong menjadi sukarelawan untuk membersihkan tempat suci itu.

Namun rupanya, kali ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana tak semua umat Tionghoa datang membersihkan tempat tersebut. Seperti di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Tempat peribadatan tiga agama ini, kini hanya dibersihkan oleh Pengurus TITD dan petugas kebersihan saja. Kegiatan bersih-bersih yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu tujuh hari itu, saat ini justru menghabiskan waktu hingga sepuluh hari.

Petugas kebersihan TITD Miroso mengatakan, dirinya merasa dilema dengan peraturan pengurangan jumlah relawan kebersihan itu. Selama 42 tahun bekerja, baru kali ini pria 58 tahun tersebut merasa kewalahan mempersiapkan perayaan Imlek.

“Ini juga demi kesehatan dan keselamatan kita bersama. Cuma kan pengurus biasanya membawa anggota, sekarang tidak boleh,” ungkapnya.

Minggu (7/2), dirinya membersihkan altar-altar bersama para petugas. Mereka antara lain, Wakil Ketua TITD Jap Swie Liong, dan satu penjaga stand dupa, Ahmad. Sementara hingga kemarin, Senin (8/2) sedang dilakukan pemasangan lilin-lilin, serta pembersihan Thien Kong atau tempat menancapkan dupa.

Jap Swie Liong mengatakan, pihaknya sengaja membatasi jumlah pengunjung demi kelancaran acara pada Jumat mendatang. Dia juga membuat aturan khusus bagi para pengunjung saat pelaksanaan acara nantinya. Mereka diperbolehkan mendatangi TITD hanya untuk melaksanakan ibadah pada pagi hari saja.

“Itupun nanti mereka tidak sembahyang bersama, tapi ibadahnya pribadi atau masing-masing,” tuturnya.

Begitu pula untuk momen silaturahmi dan berkumpul bersama seusai ibadah. Tahun ini mereka disarankan untuk melakukan sambung silaturahmi melalui teknologi atau media komunikasi.

“Imlek ini memang bakal sepi, tapi kami yakin ke depannya kami dan manusia-manusia di bumi akan semakin kuat. Karena mungkin saat ini kita sedang diuji,” imbuhnya.

Reporter: mg1
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2