alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Siapa Sangka Dalang Jember Juga bisa Jadi Pelatih Badminton

Menekuni dua kesibukan dalam satu waktu bersamaan memang menguras tenaga juga pikiran. Namun, bagi Eddy Siswanto, itu sudah biasa. Bahkan, ia cukup sukses melatih anak didiknya menjadi atlet bulu tangkis dan dalang muda sekaligus.

Mobile_AP_Rectangle 1

KARANGANYAR, RADARJEMBER.ID – MINGGU sore kemarin, sejumlah bocah terlihat di sekitar rumah Eddy Siswanto, di jalan arah Watu Ulo, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu. Masing-masing dari mereka membawa tas berisikan raket. Tak berselang lama, Eddy keluar dari rumahnya dan meminta anak-anak untuk segera bersiap melakukan pemanasan. “Ayo, ayo, siap-siap pemanasan,” pinta Eddy ke anak-anak didiknya.

Tak jauh dari rumahnya, ada dua gedung khusus. Satu gedung ia gunakan untuk latihan anak-anak bermain alat musik tradisional dan berlatih mendalang, sementara satu gedung lainnya digunakan bermain dan latihan badminton atau bulu tangkis. Di tempat itulah Eddy menggodok kemampuan anak-anak didiknya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, pria 47 tahun ini mengisahkan dua kesibukan yang dijalankannya itu. Awalnya, pada era 1994 hingga 1996 silam, nama Eddy sudah mulai beken di kalangan masyarakat Jember berkat jam terbangnya sebagai dalang wayang kulit.

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara bersamaan, ia sering kali lesu dan letih selepas aktivitas mendalang. “Dari situ saya terpikir menambah kesibukan untuk kesehatan saya, dan dipilihlah main bulu tangkis,” ucapnya.

MULTITALENTA: Eddy Siswanto, dalang kondang asal Karanganyar, Ambulu. Di saat bersamaan, dia juga seorang pelatih bulu tangkis untuk anak-anak didiknya.

Awalnya, bermain bulu tangkis sekadar ikut-ikutan teman. Namun, lambat laun, seiring jam manggung yang kian tinggi, Eddy semakin menikmati untuk mengimbangi dengan olahraga bulu tangkis. Hingga pada era 1999–2000 lalu, pengalamannya bermain bulu tangkis sedikit demi sedikit ia tularkan. Bahkan, saat mulai banyak yang ikut berlatih, ia mendatangkan dua pelatih khusus bulu tangkis untuk membantu dirinya. “Awalnya dari teman-teman, lalu dirasa bagus, anak-anak sekolah ada yang ikut-ikutan. Dari situ kemudian anak-anak mulai berlatih rutin di tempat saya,” kenangnya.

Eddy membeberkan, model permainan bulu tangkis yang diajarkan sebenarnya sangat sederhana. Namun, ia memberikan didikan fisik, lalu mental, dan berlanjut ke keterampilan. Pertama, pebulu tangkis dianggapnya harus memantapkan fisik dengan cara senam minimal dua jam. Lalu, soal mental, ia kerap mengadakan sparing dengan tim bulu tangkis asal daerah lain untuk menguji mental anak asuhnya itu. “Karena ada anak-anak yang terkonsentrasi jadi atlet, tiap lomba pasti saya targetkan juara satu. Dan yang saya latih sekarang ini ada dua anak yang akan ikut Porprov Jatim,” terangnya, kemarin (6/9).

Menurut dia, bulu tangkis itu butuh fisik dan mental yang tangguh. Sebab, model bermainnya zig-zag dan cepat. Karena itu, latihan fisik yang dijalani anak asuhnya sebenarnya lebih mengarah pada melenturkan tubuh, mengisi, dan untuk kekokohan. “Beda dengan latihan fitness yang harus membentuk. Kalau latihan fisik bulu tangkis ini hanya mengisi agar lentur, karena permainannya zig-zag dan itu sangat menguras tenaga,” terang ayah empat anak ini.

Tak hanya melatih, dia juga mencontohkan bagaimana latihan fisik tersebut. Biasanya, Eddy melakukan latihan fisik sendiri saat malam hari atau siang. Bahkan, berlari tujuh kali putaran keliling lapangan atau melompat dalam menepis bola bulu tangkis, dia mengaku masih mampu.

Kini, ada 25 anak asuhnya di bulu tangkis. Mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Mereka setiap pekan berlatih tiga kali. Pada tiap Selasa, Jumat, dan Minggu. Di sela-sela waktu itu, lantas bagaimana dengan kesibukan dalang dan melatih anak-anak mendalang? “Latihan dalang pada malam harinya,” jawab Eddy.

- Advertisement -

KARANGANYAR, RADARJEMBER.ID – MINGGU sore kemarin, sejumlah bocah terlihat di sekitar rumah Eddy Siswanto, di jalan arah Watu Ulo, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu. Masing-masing dari mereka membawa tas berisikan raket. Tak berselang lama, Eddy keluar dari rumahnya dan meminta anak-anak untuk segera bersiap melakukan pemanasan. “Ayo, ayo, siap-siap pemanasan,” pinta Eddy ke anak-anak didiknya.

Tak jauh dari rumahnya, ada dua gedung khusus. Satu gedung ia gunakan untuk latihan anak-anak bermain alat musik tradisional dan berlatih mendalang, sementara satu gedung lainnya digunakan bermain dan latihan badminton atau bulu tangkis. Di tempat itulah Eddy menggodok kemampuan anak-anak didiknya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, pria 47 tahun ini mengisahkan dua kesibukan yang dijalankannya itu. Awalnya, pada era 1994 hingga 1996 silam, nama Eddy sudah mulai beken di kalangan masyarakat Jember berkat jam terbangnya sebagai dalang wayang kulit.

Secara bersamaan, ia sering kali lesu dan letih selepas aktivitas mendalang. “Dari situ saya terpikir menambah kesibukan untuk kesehatan saya, dan dipilihlah main bulu tangkis,” ucapnya.

MULTITALENTA: Eddy Siswanto, dalang kondang asal Karanganyar, Ambulu. Di saat bersamaan, dia juga seorang pelatih bulu tangkis untuk anak-anak didiknya.

Awalnya, bermain bulu tangkis sekadar ikut-ikutan teman. Namun, lambat laun, seiring jam manggung yang kian tinggi, Eddy semakin menikmati untuk mengimbangi dengan olahraga bulu tangkis. Hingga pada era 1999–2000 lalu, pengalamannya bermain bulu tangkis sedikit demi sedikit ia tularkan. Bahkan, saat mulai banyak yang ikut berlatih, ia mendatangkan dua pelatih khusus bulu tangkis untuk membantu dirinya. “Awalnya dari teman-teman, lalu dirasa bagus, anak-anak sekolah ada yang ikut-ikutan. Dari situ kemudian anak-anak mulai berlatih rutin di tempat saya,” kenangnya.

Eddy membeberkan, model permainan bulu tangkis yang diajarkan sebenarnya sangat sederhana. Namun, ia memberikan didikan fisik, lalu mental, dan berlanjut ke keterampilan. Pertama, pebulu tangkis dianggapnya harus memantapkan fisik dengan cara senam minimal dua jam. Lalu, soal mental, ia kerap mengadakan sparing dengan tim bulu tangkis asal daerah lain untuk menguji mental anak asuhnya itu. “Karena ada anak-anak yang terkonsentrasi jadi atlet, tiap lomba pasti saya targetkan juara satu. Dan yang saya latih sekarang ini ada dua anak yang akan ikut Porprov Jatim,” terangnya, kemarin (6/9).

Menurut dia, bulu tangkis itu butuh fisik dan mental yang tangguh. Sebab, model bermainnya zig-zag dan cepat. Karena itu, latihan fisik yang dijalani anak asuhnya sebenarnya lebih mengarah pada melenturkan tubuh, mengisi, dan untuk kekokohan. “Beda dengan latihan fitness yang harus membentuk. Kalau latihan fisik bulu tangkis ini hanya mengisi agar lentur, karena permainannya zig-zag dan itu sangat menguras tenaga,” terang ayah empat anak ini.

Tak hanya melatih, dia juga mencontohkan bagaimana latihan fisik tersebut. Biasanya, Eddy melakukan latihan fisik sendiri saat malam hari atau siang. Bahkan, berlari tujuh kali putaran keliling lapangan atau melompat dalam menepis bola bulu tangkis, dia mengaku masih mampu.

Kini, ada 25 anak asuhnya di bulu tangkis. Mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Mereka setiap pekan berlatih tiga kali. Pada tiap Selasa, Jumat, dan Minggu. Di sela-sela waktu itu, lantas bagaimana dengan kesibukan dalang dan melatih anak-anak mendalang? “Latihan dalang pada malam harinya,” jawab Eddy.

KARANGANYAR, RADARJEMBER.ID – MINGGU sore kemarin, sejumlah bocah terlihat di sekitar rumah Eddy Siswanto, di jalan arah Watu Ulo, Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu. Masing-masing dari mereka membawa tas berisikan raket. Tak berselang lama, Eddy keluar dari rumahnya dan meminta anak-anak untuk segera bersiap melakukan pemanasan. “Ayo, ayo, siap-siap pemanasan,” pinta Eddy ke anak-anak didiknya.

Tak jauh dari rumahnya, ada dua gedung khusus. Satu gedung ia gunakan untuk latihan anak-anak bermain alat musik tradisional dan berlatih mendalang, sementara satu gedung lainnya digunakan bermain dan latihan badminton atau bulu tangkis. Di tempat itulah Eddy menggodok kemampuan anak-anak didiknya.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, pria 47 tahun ini mengisahkan dua kesibukan yang dijalankannya itu. Awalnya, pada era 1994 hingga 1996 silam, nama Eddy sudah mulai beken di kalangan masyarakat Jember berkat jam terbangnya sebagai dalang wayang kulit.

Secara bersamaan, ia sering kali lesu dan letih selepas aktivitas mendalang. “Dari situ saya terpikir menambah kesibukan untuk kesehatan saya, dan dipilihlah main bulu tangkis,” ucapnya.

MULTITALENTA: Eddy Siswanto, dalang kondang asal Karanganyar, Ambulu. Di saat bersamaan, dia juga seorang pelatih bulu tangkis untuk anak-anak didiknya.

Awalnya, bermain bulu tangkis sekadar ikut-ikutan teman. Namun, lambat laun, seiring jam manggung yang kian tinggi, Eddy semakin menikmati untuk mengimbangi dengan olahraga bulu tangkis. Hingga pada era 1999–2000 lalu, pengalamannya bermain bulu tangkis sedikit demi sedikit ia tularkan. Bahkan, saat mulai banyak yang ikut berlatih, ia mendatangkan dua pelatih khusus bulu tangkis untuk membantu dirinya. “Awalnya dari teman-teman, lalu dirasa bagus, anak-anak sekolah ada yang ikut-ikutan. Dari situ kemudian anak-anak mulai berlatih rutin di tempat saya,” kenangnya.

Eddy membeberkan, model permainan bulu tangkis yang diajarkan sebenarnya sangat sederhana. Namun, ia memberikan didikan fisik, lalu mental, dan berlanjut ke keterampilan. Pertama, pebulu tangkis dianggapnya harus memantapkan fisik dengan cara senam minimal dua jam. Lalu, soal mental, ia kerap mengadakan sparing dengan tim bulu tangkis asal daerah lain untuk menguji mental anak asuhnya itu. “Karena ada anak-anak yang terkonsentrasi jadi atlet, tiap lomba pasti saya targetkan juara satu. Dan yang saya latih sekarang ini ada dua anak yang akan ikut Porprov Jatim,” terangnya, kemarin (6/9).

Menurut dia, bulu tangkis itu butuh fisik dan mental yang tangguh. Sebab, model bermainnya zig-zag dan cepat. Karena itu, latihan fisik yang dijalani anak asuhnya sebenarnya lebih mengarah pada melenturkan tubuh, mengisi, dan untuk kekokohan. “Beda dengan latihan fitness yang harus membentuk. Kalau latihan fisik bulu tangkis ini hanya mengisi agar lentur, karena permainannya zig-zag dan itu sangat menguras tenaga,” terang ayah empat anak ini.

Tak hanya melatih, dia juga mencontohkan bagaimana latihan fisik tersebut. Biasanya, Eddy melakukan latihan fisik sendiri saat malam hari atau siang. Bahkan, berlari tujuh kali putaran keliling lapangan atau melompat dalam menepis bola bulu tangkis, dia mengaku masih mampu.

Kini, ada 25 anak asuhnya di bulu tangkis. Mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Mereka setiap pekan berlatih tiga kali. Pada tiap Selasa, Jumat, dan Minggu. Di sela-sela waktu itu, lantas bagaimana dengan kesibukan dalang dan melatih anak-anak mendalang? “Latihan dalang pada malam harinya,” jawab Eddy.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca