alexametrics
20.3C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Kenalkan Literasi dengan Pantomim

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenalkan literasi bukanlah hal yang gampang dilakukan secara istiqamah. Sebab, banyak remaja yang lebih menggandrungi gawai ketimbang buku. Karenanya, beberapa rumah baca pun nyaris tidak laku atau sepi pengunjung. Berawal dari sinilah, beragam upaya dilakukan untuk tetap menarik minat pengunjung agar datang ke rumah literasi.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Payung Literasi Mahajana Kertonegoro. Selama pandemi, rumah baca ini sepi pengunjung. Untuk mengembalikan minat anak-anak dan remaja mendatangi rumah baca itu, mereka menggelar pementasan pantomim, kemarin (4/4).

Anak-anak pun berbondong-bondong mendatangi lokasi. Sekitar 60-an anak datang ke rumah baca yang terletak di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ini. Beralaskan terpal, mereka sangat antusias menonton pertunjukan pantomim tersebut. Harapannya, setelah melihat pantomim, mereka juga kembali membaca buku-buku yang tersedia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendiri Komunitas Payung Literasi Mahajana Putri Dwi Fitriani mengungkapkan, dengan adanya pertunjukan pantomim, anak-anak di desanya menjadi tahu seni pertunjukan yang relatif kurang dikenal di perdesaan itu. “Bukan hanya menarik minat anak-anak agar datang ke komunitas kami, tapi kami juga mengenalkan pantomim ini ke mereka,” kata perempuan 22 tahun itu.

Menurutnya, dengan kegiatan tersebut, secara psikologis dapat membantu anak agar tidak jenuh menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sekaligus sebagai media bermain yang edukatif. “Harapan kami, anak-anak dapat lebih enjoy menikmati permainan. Tidak jenuh. Pokoknya bahagia,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu seniman pantomim yang saat itu bertugas dari Komunitas Pelangi Budaya Jember, Firman Eka Prayoga, mengungkapkan, hingga saat ini seni pantomim lebih banyak dikenal dan dipertunjukkan di wilayah kota. Sementara, sosialisasi di perdesaan, seni ini cukup minim. Karena itu, tidak banyak anak-anak yang tahu mengenai seni pantomim. “Pengenalannya juga tidak masif dan berkelanjutan,” katanya.

Ia pun mencontohkan, pada 2019 silam, Dinas Pendidikan Jember mengadakan pertunjukan pantomim di setiap kecamatan. Namun, agenda itu mandek dan tidak ajek berjalan. Hal ini pula yang menjadi kendala pantomim dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat di seluruh lapisan.

Padahal, kata dia, seni pantomim dapat menjadi salah satu media bermain yang efektif. Sebab, pembawaannya ringan. Oleh karenanya, melalui pantomim anak-anak tidak dituntut untuk berpikir berat.

Ke depan, pria yang akrab disapa Yoga itu berharap, seni pantomim lebih sering digelar di beberapa event seni. Serta dikenalkan melalui kegiatan sekolah. “Intinya berkesinambungan. Untuk mengenalkan harus dilakukan pertunjukan secara berkesinambungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenalkan literasi bukanlah hal yang gampang dilakukan secara istiqamah. Sebab, banyak remaja yang lebih menggandrungi gawai ketimbang buku. Karenanya, beberapa rumah baca pun nyaris tidak laku atau sepi pengunjung. Berawal dari sinilah, beragam upaya dilakukan untuk tetap menarik minat pengunjung agar datang ke rumah literasi.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Payung Literasi Mahajana Kertonegoro. Selama pandemi, rumah baca ini sepi pengunjung. Untuk mengembalikan minat anak-anak dan remaja mendatangi rumah baca itu, mereka menggelar pementasan pantomim, kemarin (4/4).

Anak-anak pun berbondong-bondong mendatangi lokasi. Sekitar 60-an anak datang ke rumah baca yang terletak di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ini. Beralaskan terpal, mereka sangat antusias menonton pertunjukan pantomim tersebut. Harapannya, setelah melihat pantomim, mereka juga kembali membaca buku-buku yang tersedia.

Mobile_AP_Half Page

Pendiri Komunitas Payung Literasi Mahajana Putri Dwi Fitriani mengungkapkan, dengan adanya pertunjukan pantomim, anak-anak di desanya menjadi tahu seni pertunjukan yang relatif kurang dikenal di perdesaan itu. “Bukan hanya menarik minat anak-anak agar datang ke komunitas kami, tapi kami juga mengenalkan pantomim ini ke mereka,” kata perempuan 22 tahun itu.

Menurutnya, dengan kegiatan tersebut, secara psikologis dapat membantu anak agar tidak jenuh menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sekaligus sebagai media bermain yang edukatif. “Harapan kami, anak-anak dapat lebih enjoy menikmati permainan. Tidak jenuh. Pokoknya bahagia,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu seniman pantomim yang saat itu bertugas dari Komunitas Pelangi Budaya Jember, Firman Eka Prayoga, mengungkapkan, hingga saat ini seni pantomim lebih banyak dikenal dan dipertunjukkan di wilayah kota. Sementara, sosialisasi di perdesaan, seni ini cukup minim. Karena itu, tidak banyak anak-anak yang tahu mengenai seni pantomim. “Pengenalannya juga tidak masif dan berkelanjutan,” katanya.

Ia pun mencontohkan, pada 2019 silam, Dinas Pendidikan Jember mengadakan pertunjukan pantomim di setiap kecamatan. Namun, agenda itu mandek dan tidak ajek berjalan. Hal ini pula yang menjadi kendala pantomim dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat di seluruh lapisan.

Padahal, kata dia, seni pantomim dapat menjadi salah satu media bermain yang efektif. Sebab, pembawaannya ringan. Oleh karenanya, melalui pantomim anak-anak tidak dituntut untuk berpikir berat.

Ke depan, pria yang akrab disapa Yoga itu berharap, seni pantomim lebih sering digelar di beberapa event seni. Serta dikenalkan melalui kegiatan sekolah. “Intinya berkesinambungan. Untuk mengenalkan harus dilakukan pertunjukan secara berkesinambungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenalkan literasi bukanlah hal yang gampang dilakukan secara istiqamah. Sebab, banyak remaja yang lebih menggandrungi gawai ketimbang buku. Karenanya, beberapa rumah baca pun nyaris tidak laku atau sepi pengunjung. Berawal dari sinilah, beragam upaya dilakukan untuk tetap menarik minat pengunjung agar datang ke rumah literasi.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Payung Literasi Mahajana Kertonegoro. Selama pandemi, rumah baca ini sepi pengunjung. Untuk mengembalikan minat anak-anak dan remaja mendatangi rumah baca itu, mereka menggelar pementasan pantomim, kemarin (4/4).

Anak-anak pun berbondong-bondong mendatangi lokasi. Sekitar 60-an anak datang ke rumah baca yang terletak di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ini. Beralaskan terpal, mereka sangat antusias menonton pertunjukan pantomim tersebut. Harapannya, setelah melihat pantomim, mereka juga kembali membaca buku-buku yang tersedia.

Pendiri Komunitas Payung Literasi Mahajana Putri Dwi Fitriani mengungkapkan, dengan adanya pertunjukan pantomim, anak-anak di desanya menjadi tahu seni pertunjukan yang relatif kurang dikenal di perdesaan itu. “Bukan hanya menarik minat anak-anak agar datang ke komunitas kami, tapi kami juga mengenalkan pantomim ini ke mereka,” kata perempuan 22 tahun itu.

Menurutnya, dengan kegiatan tersebut, secara psikologis dapat membantu anak agar tidak jenuh menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sekaligus sebagai media bermain yang edukatif. “Harapan kami, anak-anak dapat lebih enjoy menikmati permainan. Tidak jenuh. Pokoknya bahagia,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu seniman pantomim yang saat itu bertugas dari Komunitas Pelangi Budaya Jember, Firman Eka Prayoga, mengungkapkan, hingga saat ini seni pantomim lebih banyak dikenal dan dipertunjukkan di wilayah kota. Sementara, sosialisasi di perdesaan, seni ini cukup minim. Karena itu, tidak banyak anak-anak yang tahu mengenai seni pantomim. “Pengenalannya juga tidak masif dan berkelanjutan,” katanya.

Ia pun mencontohkan, pada 2019 silam, Dinas Pendidikan Jember mengadakan pertunjukan pantomim di setiap kecamatan. Namun, agenda itu mandek dan tidak ajek berjalan. Hal ini pula yang menjadi kendala pantomim dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat di seluruh lapisan.

Padahal, kata dia, seni pantomim dapat menjadi salah satu media bermain yang efektif. Sebab, pembawaannya ringan. Oleh karenanya, melalui pantomim anak-anak tidak dituntut untuk berpikir berat.

Ke depan, pria yang akrab disapa Yoga itu berharap, seni pantomim lebih sering digelar di beberapa event seni. Serta dikenalkan melalui kegiatan sekolah. “Intinya berkesinambungan. Untuk mengenalkan harus dilakukan pertunjukan secara berkesinambungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran