alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Warna dan Gambar Kain dari Daun, Limbahnya Jadi Pupuk

Mengunjungi Usaha Ecoprint Milik Sri Agustini Banyak peluang usaha yang sebenarnya bisa dikerjakan di rumah. Salah satunya ecoprint. Di tengah kondisi ekonomi yang cukup sulit ini, tekad Sri Agustini untuk menggeluti ecoprint semakin besar. Seperti apa kreasinya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Keunggulan ecoprint ini, kata dia, tidak akan ada karya yang sama. Sekalipun satu kain dibuat dengan daun-daun yang sama, namun hasilnya akan berbeda. Sebab, setiap lembar daun tidak akan dapat dipakai dua kali dalam pembuatan ecoprint. Baik dengan cara ditumbuk maupun dikukus.

Alhasil, karya produksi kain ecoprint benar-benar menjadi limited edition untuk satu kain itu saja. “Harganya rata-rata di atas Rp 200 ribu. Kalau pembuatannya bagus, harganya bisa puluhan juta. Tetapi untuk di Jember, masih sangat jarang yang harganya tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, di balik pembuatan ecoprint, menurut Agustini, tidak ada limbah yang bakal muncul dan mengganggu ekosistem. Betapa tidak, setiap daun yang sudah dipakai untuk mentransfer warna dan gambar ke kain, bisa dipakai untuk pupuk. “Tanaman di sekitar rumah saya semuanya saya pupuk dengan sisa daun yang dipakai ecoprint,” bebernya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan ini pun mengaku akan terus fokus menggeluti ecoprint dengan nama UKM Citra Anugerah. Bahkan, dia bercita-cita memiliki galeri khusus produksi kain ecoprint.

“Semoga usaha ini jalan. Di Jember ada beberapa yang sudah jalan. Dulu saya ikut pelatihan-pelatihan dan sekarang sudah bisa jalan. Untuk pembuatannya, kadang masih bergantung pada rasa mood atau tidak. Karena ini juga berpengaruh pada bagus dan tidaknya proses ecoprint. Ke depan insyaallah akan konsisten,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri

Fotografer: Nur Hariri

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti

 

- Advertisement -

Keunggulan ecoprint ini, kata dia, tidak akan ada karya yang sama. Sekalipun satu kain dibuat dengan daun-daun yang sama, namun hasilnya akan berbeda. Sebab, setiap lembar daun tidak akan dapat dipakai dua kali dalam pembuatan ecoprint. Baik dengan cara ditumbuk maupun dikukus.

Alhasil, karya produksi kain ecoprint benar-benar menjadi limited edition untuk satu kain itu saja. “Harganya rata-rata di atas Rp 200 ribu. Kalau pembuatannya bagus, harganya bisa puluhan juta. Tetapi untuk di Jember, masih sangat jarang yang harganya tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, di balik pembuatan ecoprint, menurut Agustini, tidak ada limbah yang bakal muncul dan mengganggu ekosistem. Betapa tidak, setiap daun yang sudah dipakai untuk mentransfer warna dan gambar ke kain, bisa dipakai untuk pupuk. “Tanaman di sekitar rumah saya semuanya saya pupuk dengan sisa daun yang dipakai ecoprint,” bebernya.

Perempuan ini pun mengaku akan terus fokus menggeluti ecoprint dengan nama UKM Citra Anugerah. Bahkan, dia bercita-cita memiliki galeri khusus produksi kain ecoprint.

“Semoga usaha ini jalan. Di Jember ada beberapa yang sudah jalan. Dulu saya ikut pelatihan-pelatihan dan sekarang sudah bisa jalan. Untuk pembuatannya, kadang masih bergantung pada rasa mood atau tidak. Karena ini juga berpengaruh pada bagus dan tidaknya proses ecoprint. Ke depan insyaallah akan konsisten,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri

Fotografer: Nur Hariri

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti

 

Keunggulan ecoprint ini, kata dia, tidak akan ada karya yang sama. Sekalipun satu kain dibuat dengan daun-daun yang sama, namun hasilnya akan berbeda. Sebab, setiap lembar daun tidak akan dapat dipakai dua kali dalam pembuatan ecoprint. Baik dengan cara ditumbuk maupun dikukus.

Alhasil, karya produksi kain ecoprint benar-benar menjadi limited edition untuk satu kain itu saja. “Harganya rata-rata di atas Rp 200 ribu. Kalau pembuatannya bagus, harganya bisa puluhan juta. Tetapi untuk di Jember, masih sangat jarang yang harganya tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, di balik pembuatan ecoprint, menurut Agustini, tidak ada limbah yang bakal muncul dan mengganggu ekosistem. Betapa tidak, setiap daun yang sudah dipakai untuk mentransfer warna dan gambar ke kain, bisa dipakai untuk pupuk. “Tanaman di sekitar rumah saya semuanya saya pupuk dengan sisa daun yang dipakai ecoprint,” bebernya.

Perempuan ini pun mengaku akan terus fokus menggeluti ecoprint dengan nama UKM Citra Anugerah. Bahkan, dia bercita-cita memiliki galeri khusus produksi kain ecoprint.

“Semoga usaha ini jalan. Di Jember ada beberapa yang sudah jalan. Dulu saya ikut pelatihan-pelatihan dan sekarang sudah bisa jalan. Untuk pembuatannya, kadang masih bergantung pada rasa mood atau tidak. Karena ini juga berpengaruh pada bagus dan tidaknya proses ecoprint. Ke depan insyaallah akan konsisten,” pungkasnya.

Jurnalis: Nur Hariri

Fotografer: Nur Hariri

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/