alexametrics
21.7C
Jember
Tuesday, 20 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Minim Penerus Budaya Macapat

Diupayakan Masuk Kurikulum Pesantren

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan mamaca dikumandangkan oleh para pelestari tradisi seni mamaca alias macapat di Ledokombo. Ada Ustad Ari dan Ustad Sagi. Mereka mengajarkan kepada generasi muda di Kompleks Masjid Nurus Shobirin Pondok Pesantren (Ponpes) Asy Syifa, Kecamatan Sumberjambe. Seperti diketahui, macapat merupakan salah satu jenis budaya yang tumbuh, berkembang, dan tersebar luas di kalangan masyarakat. Salah satunya di Kabupaten Jember.

Macapat dapat dimaknai sebagai karya sastra berbentuk puisi yang dilantunkan dalam bentuk tembang. Ustad Ari menyebut, tembang macapat mengandung sejumlah pesan moral yang dapat dijadikan sebagai renungan dan acuan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, keberadaannya di tengah masyarakat perlu dijaga dan dilestarikan melalui pendidikan dan pengajaran. Baik secara formal maupun nonformal.

“Budaya leluhur ini mulai punah. Sebab, sangat minim sekali penerusnya,” imbuhnya. Menurut dia, komunitasnya saat ini semakin langka. Bahkan, hanya ditekuni oleh sebagian kecil masyarakat. “Informasinya, di Sumberjambe hanya ada empat orang, itu pun sudah lanjut usia. Ini tidak bisa kita biarkan begitu saja, harus ada kesadaran,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengasuh Ponpes Asy Syifa KH Nisful Laili Iskamil menuturkan, para pengasuh ponpes di Jember sekiranya perlu untuk membuat pembelajaran terkait dengan macapat kepada para santrinya masing-masing. Sehingga kebudayaan itu bisa terus lestari. “Kenapa harus dilestarikan? Sebab, ternyata dalam teks mamaca itu terkandung nilai-nilai luar biasa yang bersumber dari Islam. Baik yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad SAW maupun terkait ajaran Islam,” paparnya.

Artinya, hal itu merupakan bukti bahwa tradisi macapat tidak berseberangan dengan pokok-pokok syariat Islam. Dan merupakan tradisi yang baik sebagai syiar Islam di masyarakat.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember Hobri memaparkan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama dan oleh berbagai pihak. Dia mengakui bahwa komunitasnya saat ini telah meredup. “Karena itu, perlu adanya kegiatan Sakola Mamaca. Upaya pelestarian ini bertujuan meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda. Terutama kepada siswa dan santri,” ulasnya.

Diharapkan, nantinya tercipta generasi penerus yang andal dalam melakukan, memahami, dan menginterpretasi macapat. Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya akan berupaya supaya tradisi mamaca masuk dalam kurikulum pesantren. “Kami siap menerbitkan sertifikat atau surat keterangan kompetensi atau keahlian sebagai bukti keterampilannya. Saya kira cara itu efektif dalam melestarikan tradisi mamaca,” pungkasnya.

 

 

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan mamaca dikumandangkan oleh para pelestari tradisi seni mamaca alias macapat di Ledokombo. Ada Ustad Ari dan Ustad Sagi. Mereka mengajarkan kepada generasi muda di Kompleks Masjid Nurus Shobirin Pondok Pesantren (Ponpes) Asy Syifa, Kecamatan Sumberjambe. Seperti diketahui, macapat merupakan salah satu jenis budaya yang tumbuh, berkembang, dan tersebar luas di kalangan masyarakat. Salah satunya di Kabupaten Jember.

Macapat dapat dimaknai sebagai karya sastra berbentuk puisi yang dilantunkan dalam bentuk tembang. Ustad Ari menyebut, tembang macapat mengandung sejumlah pesan moral yang dapat dijadikan sebagai renungan dan acuan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, keberadaannya di tengah masyarakat perlu dijaga dan dilestarikan melalui pendidikan dan pengajaran. Baik secara formal maupun nonformal.

“Budaya leluhur ini mulai punah. Sebab, sangat minim sekali penerusnya,” imbuhnya. Menurut dia, komunitasnya saat ini semakin langka. Bahkan, hanya ditekuni oleh sebagian kecil masyarakat. “Informasinya, di Sumberjambe hanya ada empat orang, itu pun sudah lanjut usia. Ini tidak bisa kita biarkan begitu saja, harus ada kesadaran,” jelasnya.

Mobile_AP_Half Page

Pengasuh Ponpes Asy Syifa KH Nisful Laili Iskamil menuturkan, para pengasuh ponpes di Jember sekiranya perlu untuk membuat pembelajaran terkait dengan macapat kepada para santrinya masing-masing. Sehingga kebudayaan itu bisa terus lestari. “Kenapa harus dilestarikan? Sebab, ternyata dalam teks mamaca itu terkandung nilai-nilai luar biasa yang bersumber dari Islam. Baik yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad SAW maupun terkait ajaran Islam,” paparnya.

Artinya, hal itu merupakan bukti bahwa tradisi macapat tidak berseberangan dengan pokok-pokok syariat Islam. Dan merupakan tradisi yang baik sebagai syiar Islam di masyarakat.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember Hobri memaparkan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama dan oleh berbagai pihak. Dia mengakui bahwa komunitasnya saat ini telah meredup. “Karena itu, perlu adanya kegiatan Sakola Mamaca. Upaya pelestarian ini bertujuan meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda. Terutama kepada siswa dan santri,” ulasnya.

Diharapkan, nantinya tercipta generasi penerus yang andal dalam melakukan, memahami, dan menginterpretasi macapat. Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya akan berupaya supaya tradisi mamaca masuk dalam kurikulum pesantren. “Kami siap menerbitkan sertifikat atau surat keterangan kompetensi atau keahlian sebagai bukti keterampilannya. Saya kira cara itu efektif dalam melestarikan tradisi mamaca,” pungkasnya.

 

 

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, lantunan mamaca dikumandangkan oleh para pelestari tradisi seni mamaca alias macapat di Ledokombo. Ada Ustad Ari dan Ustad Sagi. Mereka mengajarkan kepada generasi muda di Kompleks Masjid Nurus Shobirin Pondok Pesantren (Ponpes) Asy Syifa, Kecamatan Sumberjambe. Seperti diketahui, macapat merupakan salah satu jenis budaya yang tumbuh, berkembang, dan tersebar luas di kalangan masyarakat. Salah satunya di Kabupaten Jember.

Macapat dapat dimaknai sebagai karya sastra berbentuk puisi yang dilantunkan dalam bentuk tembang. Ustad Ari menyebut, tembang macapat mengandung sejumlah pesan moral yang dapat dijadikan sebagai renungan dan acuan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, keberadaannya di tengah masyarakat perlu dijaga dan dilestarikan melalui pendidikan dan pengajaran. Baik secara formal maupun nonformal.

“Budaya leluhur ini mulai punah. Sebab, sangat minim sekali penerusnya,” imbuhnya. Menurut dia, komunitasnya saat ini semakin langka. Bahkan, hanya ditekuni oleh sebagian kecil masyarakat. “Informasinya, di Sumberjambe hanya ada empat orang, itu pun sudah lanjut usia. Ini tidak bisa kita biarkan begitu saja, harus ada kesadaran,” jelasnya.

Pengasuh Ponpes Asy Syifa KH Nisful Laili Iskamil menuturkan, para pengasuh ponpes di Jember sekiranya perlu untuk membuat pembelajaran terkait dengan macapat kepada para santrinya masing-masing. Sehingga kebudayaan itu bisa terus lestari. “Kenapa harus dilestarikan? Sebab, ternyata dalam teks mamaca itu terkandung nilai-nilai luar biasa yang bersumber dari Islam. Baik yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad SAW maupun terkait ajaran Islam,” paparnya.

Artinya, hal itu merupakan bukti bahwa tradisi macapat tidak berseberangan dengan pokok-pokok syariat Islam. Dan merupakan tradisi yang baik sebagai syiar Islam di masyarakat.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jember Hobri memaparkan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama dan oleh berbagai pihak. Dia mengakui bahwa komunitasnya saat ini telah meredup. “Karena itu, perlu adanya kegiatan Sakola Mamaca. Upaya pelestarian ini bertujuan meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda. Terutama kepada siswa dan santri,” ulasnya.

Diharapkan, nantinya tercipta generasi penerus yang andal dalam melakukan, memahami, dan menginterpretasi macapat. Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya akan berupaya supaya tradisi mamaca masuk dalam kurikulum pesantren. “Kami siap menerbitkan sertifikat atau surat keterangan kompetensi atau keahlian sebagai bukti keterampilannya. Saya kira cara itu efektif dalam melestarikan tradisi mamaca,” pungkasnya.

 

 

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran