alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Berdiri 1920, Kini Dirawat Generasi Ketujuh

Kesenian tradisional jaranan di Jember sudah ada sejak lama. Salah satunya Jaranan Sari Budoyo Pengestu yang sudah berusia 100 tahun.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan khas musik jaranan bisa dikenali dengan mudah. Apalagi suara gamelannya sangat khas. Lenggak-lenggok penari jaranan pun seakan pas dengan alunan musiknya.

BACA JUGA : Pangsa Pasar Kurang dari 2%, Ford Jual Satu Pabrik ke Tata Motors di India

Budaya kesenian ini ditampilkan di halaman Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember. Keberadaan kesenian jaranan cukup memprihatinkan, karena di era sekarang tak seramai dulu. Bahkan, jaranan bisa jadi punah jika tidak ada generasi penerusnya. Di sisi lain, ancaman budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia dan Jember terus terjadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Jaranan Sari Budoyo Pangestu, Suyadi, mengungkapkan, kesenian tradional jaranan dan gamelan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sejak kecil hingga saat ini, aktivitasnya tidak pernah jauh dari jaranan. Selama ini, dia bertahan dan melestarikan kesenian tradisional. “Walaupun dianggap kuno, saya bangga, karena ini merupakan bagian menjaga tradisi nenek moyang kami,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Suyadi mengaku, dirinya mempertahankan kesenian jaranan agar kesenian itu tidak mati dan terus eksis. Selain itu, agar generasi setelahnya mengetahui dan ikut melestarikan warisan nenek moyang tersebut. “Yang saya pikirkan cuma generasi setelah saya ini,” terangnya di sela-sela kegiatan manggungnya.

Suyadi mengungkap, komunitasnya sudah berjalan beberapa generasi. Berdiri sejak tahun 1920 dan sampai sekarang sudah tercatat 7 generasi yang mewarisinya. “Saya ini merupakan generasi ketujuh,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan khas musik jaranan bisa dikenali dengan mudah. Apalagi suara gamelannya sangat khas. Lenggak-lenggok penari jaranan pun seakan pas dengan alunan musiknya.

BACA JUGA : Pangsa Pasar Kurang dari 2%, Ford Jual Satu Pabrik ke Tata Motors di India

Budaya kesenian ini ditampilkan di halaman Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember. Keberadaan kesenian jaranan cukup memprihatinkan, karena di era sekarang tak seramai dulu. Bahkan, jaranan bisa jadi punah jika tidak ada generasi penerusnya. Di sisi lain, ancaman budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia dan Jember terus terjadi.

Ketua Jaranan Sari Budoyo Pangestu, Suyadi, mengungkapkan, kesenian tradional jaranan dan gamelan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sejak kecil hingga saat ini, aktivitasnya tidak pernah jauh dari jaranan. Selama ini, dia bertahan dan melestarikan kesenian tradisional. “Walaupun dianggap kuno, saya bangga, karena ini merupakan bagian menjaga tradisi nenek moyang kami,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Suyadi mengaku, dirinya mempertahankan kesenian jaranan agar kesenian itu tidak mati dan terus eksis. Selain itu, agar generasi setelahnya mengetahui dan ikut melestarikan warisan nenek moyang tersebut. “Yang saya pikirkan cuma generasi setelah saya ini,” terangnya di sela-sela kegiatan manggungnya.

Suyadi mengungkap, komunitasnya sudah berjalan beberapa generasi. Berdiri sejak tahun 1920 dan sampai sekarang sudah tercatat 7 generasi yang mewarisinya. “Saya ini merupakan generasi ketujuh,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan khas musik jaranan bisa dikenali dengan mudah. Apalagi suara gamelannya sangat khas. Lenggak-lenggok penari jaranan pun seakan pas dengan alunan musiknya.

BACA JUGA : Pangsa Pasar Kurang dari 2%, Ford Jual Satu Pabrik ke Tata Motors di India

Budaya kesenian ini ditampilkan di halaman Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember. Keberadaan kesenian jaranan cukup memprihatinkan, karena di era sekarang tak seramai dulu. Bahkan, jaranan bisa jadi punah jika tidak ada generasi penerusnya. Di sisi lain, ancaman budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia dan Jember terus terjadi.

Ketua Jaranan Sari Budoyo Pangestu, Suyadi, mengungkapkan, kesenian tradional jaranan dan gamelan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sejak kecil hingga saat ini, aktivitasnya tidak pernah jauh dari jaranan. Selama ini, dia bertahan dan melestarikan kesenian tradisional. “Walaupun dianggap kuno, saya bangga, karena ini merupakan bagian menjaga tradisi nenek moyang kami,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Suyadi mengaku, dirinya mempertahankan kesenian jaranan agar kesenian itu tidak mati dan terus eksis. Selain itu, agar generasi setelahnya mengetahui dan ikut melestarikan warisan nenek moyang tersebut. “Yang saya pikirkan cuma generasi setelah saya ini,” terangnya di sela-sela kegiatan manggungnya.

Suyadi mengungkap, komunitasnya sudah berjalan beberapa generasi. Berdiri sejak tahun 1920 dan sampai sekarang sudah tercatat 7 generasi yang mewarisinya. “Saya ini merupakan generasi ketujuh,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/