Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Bangunan Tua di Bondowoso yang Terlupakan, Loji Gedek Ijen Jejak Buruh Musiman Zaman Kolonial

Ilham Wahyudi • Selasa, 3 Februari 2026 | 06:30 WIB
BERTAHAN: Salah seorang warga Bondowoso mendatangi bangunan loji gedek di Ijen, bangunan itu dibangun sejak zaman kolonial.
BERTAHAN: Salah seorang warga Bondowoso mendatangi bangunan loji gedek di Ijen, bangunan itu dibangun sejak zaman kolonial.

Wilayah perkebunan di Kaki Gunung Ijen terdapat banyak bangunan peninggalan kolonial. Ada hotel catimor hingga Guest House Jampit.

Tapi ada bangunan bersejarah menyimpan cerita buruh perkebunan yang mulai dilupakan.

ILHAM WAHYUDI, Bondowoso – Radar Jember

Ia bukan terbuat dari bata, melainkan bambu. Tak megah, tak pula mencolok. Namun usianya lebih tua dari republik yang kini menaungi tanah tempat ia berdiri. Bahkan, lokasinya sekitar 50 meter dari Kantor Kecamatan Ijen.

Sementara, dari jalan utama bangunan yang dinamakan Loji Geduk itu hanya terlihat gentengnya.

Dinding bangunan tua itu, terbuat dari gedek. Yaitu dari ayaman bambu yang perlahan mulai lapuk dimakan usia. Sementara, tembok sisi selatan juga mulai yang jebol. Tak ada papan nama. Tak ada penanda sejarah.

Namun, siapa pun yang menatap materialnya anyaman bambu, rangka kayu, dan alas plester semen, akan segera paham. Bangunan ini bukan bangunan kemarin sore.

Pintu depannya tergembok rapat. Ironisnya, sisi selatan yang jebol justru membuat siapa pun leluasa masuk. Di dalam, terdapat ruang tamu kecil, lalu sebuah pintu menuju ruang belakang yang juga terkunci. Selebihnya ruang los tanpa sekat.

Desainnya jauh berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Mencolok, namun luput dari perhatian.

Menurut penelusuran lisan warga, bangunan tersebut merupakan pesanggrahan pekerja musiman kebun, peninggalan era kolonial Belanda. Tempat singgah buruh kebun yang datang saat musim tanam dan panen, lalu pergi ketika pekerjaan usai. Mereka tidak menetap.

Tidak tinggal. Hanya disinggahkan, seperti nasib mereka dalam rantai kerja kolonial.

Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya, Hery Kusdaryanto, menelusuri jejak bangunan ini melalui jalur non formal, yaitu ingatan kolektif warga.

“Itu berdasarkan hasil wawancara yang pernah saya lakukan dengan masyarakat sekitar,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, karena sifat kerjanya musiman para buruh hanya tinggal sementara. “Biasanya yang memiliki kamar tersendiri hanya kepala pekerja,” imbuhnya.

Material bangunan pun menjadi penanda hierarki sosial masa lalu. Gedek bukan soal estetika, melainkan simbol kelas. Bangunan administratur kebun dibangun permanen dari tembok, sementara rumah buruh cukup dengan anyaman bambu.

Dari situ, penggolongan peran dalam sistem kerja kolonial terbaca jelas.

Secara usia, tambah Hery, bangunan ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Artinya, ia telah berdiri jauh sebelum Indonesia tercatat sebagai negara merdeka. Namun, seperti diakui Hery, belum ada catatan tertulis yang secara pasti merekam keberadaannya.

Hery menjelaskan, dulu, pekerja dari Madura kerap didatangkan pemerintah kolonial untuk menggarap kebun di lereng Ijen dan kaki Argopuro.

Pola huniannya serupa rumah buruh pabrik gula. Ada dapur, kamar mandi, dan ruang los tanpa privasi.

“Privasi hanya milik mandor. Selebihnya, kebersamaan adalah keterpaksaan,” ucap Alumus Arkeologi Universitas Udayana

Jika homestay Catimor kini terawat dan bernilai ekonomi, maka Loji Gedek di Ijen justru bernasib sebaliknya. Ia masih berdiri, menjadi bukti masa lampau ada rumah untuk pekerja musiman di kawasan perkebunan Ijen. (dwi)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #LOJI