BACA JUGA : Rekomendasi Wisata Kuliner yang Ada di Kota Cirebon
Pejabat Fungsionaris Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso Hery Kusdaryanto mengatakan, banyaknya gedung bekas bangunan Belanda itu tidak semuanya dikelola dan dirawat oleh pemerintah. Terdapat pula bangunan yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat. Menurutnya, hal tersebut menjadi kendala untuk dilakukan perawatan.
Hery menuturkan, gedung Belanda di Bondowoso juga tidak terjaga dengan baik. Artinya, setelah bangunan itu diwariskan atau diamanahkan kepada generasi selanjutnya, justru dijual kepada pihak lain yang tidak mengetahui nilai sejarahnya. Akhirnya, bangunan Belanda tersebut sering kali mengalami perubahan. "Kalau sudah berada di tangan orang lain, bentuk gedungnya sering dilakukan perubahan," jelasnya.
Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi gedung atau bangunan Belanda tersebut. Walau harus mengubah fungsi, tapi pada intinya tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Serta tidak mengubah bentuk asalnya. Seperti dibuat usaha kafe atau lainnya.
Dia menjelaskan, Belanda membangun sebuah gedung itu juga mengikuti kultur masyarakat. "Belanda itu masih meyakini budaya dan tradisi. Makanya, pada pembangunan gedung itu masih meletakkan emas kuningan biar kokoh," tuturnya.
Bahkan, dalam pembangunan tersebut pihak Belanda juga melibatkan para tokoh dan kiai setempat. Hal tersebut dilakukan oleh orang-orang Belanda untuk melakukan selamatan. Termasuk penentuan tanggal dan bulan pembangunan akan dimulai. "Makanya, sampai saat ini nilai sejarah tetap ada. Aura bangunannya juga masih melekat," imbuhnya.
Hery menambahkan, pengelolaan dan perawatan gedung kuno tetap dilakukan. Khususnya pada bangunan yang dijadikan kantor pemerintah. Sementara, gedung yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat, pihaknya belum bisa mengintervensi agar gedung itu tidak berubah bentuk. Sebab, sudah mengalami perpindahan kepemilikan kepada orang lain yang bukan keturunannya. "Itu kendalanya, kami belum bisa mengintervensi,” pungkasnya. (aln/c2/dwi)
Editor : Safitri