BACA JUGA: Ini Syarat Second Home Visa, WNA Bisa Menetap di Indonesia Hingga 10 Tahun
Petugas Operasional dan Pemelihara (OP) Bendungan Sampean Baru, Hardiyono mengatakan, terdapat enam sungai yang bermuara ke DAM Sampean baru. Enam sungai itu melintas mulai dari kecamatan Taman Krocok, Maesan, Tegalampel, hingga Tapen. Sehingga, kata dia, bila hujan deras dengan intensitas lama di wilayah enam sungai tersebut. Maka, kata dia, bisa dipastikan petugas DAM Sampean Baru mulai intens memantau pergerakan debit air di bendungan. “Bila debit air sudah melebihi batas, maka pintu DAM akan kami buka,” ucapnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (27/10) alat Early Warning System (EWS) Bendungan Sampean Baru, telah mencapai 120,20. Jumlah tersebut masih berada di level normal. “120 sampai 120,30 itu normal, tapi harus membuka satu pintu bendungan. 120,30 sampai 120,60 baru levelnya meningkat menjadi waspada dan membuka dua pintu. Bila 120,60 ke atas, maka level siaga,” terangnya.
Dia menjelaskan, bila sudah masuk level siaga, maka pihaknya akan melaporkan ke Situbondo. “Masuk level siaga. Maka harus memberikan laporan pada BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Red)," jelasnya.
Pada level siaga, lanjutnya, maka pengendalian air akan dilakukan secara cepat. Terutama melalui jalur irigasi. Hardiyono menyampaikan, pada situasi darurat itu, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan Himpunan Penjaga Pintu Air (Hipa) untuk ikut serta mengendalikan air di beberapa pintu setelah Bendungan, juga memberi tahu para petani untuk waspada. Hal itu dilakukan, agar air dari Bendungan Sampean Baru juga tidak seluruhnya dibuang ke Sungai yang mengarah Prajekan hingga Situbondo. “Jadi peran Hipa ini penting juga,” paparnya.
Dia mengungkapkan, banjir besar merendam rumah di Situbondo pada 2002 dan 2008 pernah terjadi akibat debit air di Bendungan Sampean Baru naik ke siaga. Sehingga, mau tidak mau pintu air harus dibuka.
Hardiyo menambahkan, untuk menjaga daya tampung air di DAM Sampean Baru juga melakukan pembersihan setiap tahunnya. Menurut dia, sebelum tahun 2021 pembersihan dilakukan dua kali setiap pergantian musim. Namun, tahun ini pembersihan hanya satu kali saja. Yakni di awal musim penghujan. "Yang dibersihkan lumpur dan sampah-sampah di aliran sungai yang datang dari Bondowoso," urainya.
Untuk tetap menstabilkan kinerja para petugas di lokasi, terdapat pembagian shift dalam 24 jam. Yakni sebagai petugas di siang dan malam hari. Menurut pria kelahiran Jember ini, kebutuhan dalam setiap pembagian waktu itu harus terdapat minimal empat orang. Jika kurang, petugas akan kewalahan. "Petugas minimal empat orang sebagai peran penting dalam mengontrol kondisi debit air," pungkasnya. (aln/c1/dwi) Editor : Safitri