Dosen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej), Amam MP, mengatakan, pengobatan ternak yang terinfeksi PMK disarankan dilakukan secepatnya sebelum kondisinya parah. Sebab, kondisi yang ringan lebih cepat penyembuhannya, dibandingkan dengan sapi yang sudah parah tertular virus tersebut.
Amam mengatakan, kegagalan pengobatan umumnya terjadi karena kurang sabar dan teliti. “Harus konsisten pengobatan dan perawatan sapi yang terkena PMK,” paparnya. Hewan ternak terkena PMK yang sudah parah pun tetap bisa disembuhkan. “Namun, lamanya proses penyembuhan tergantung tingkat keparahan luka pada mulut dan kaki. Serta kondisi kekebalan sapi,” terangnya.
Menurutnya, ada tujuh langkah yang harus dilakukan secara konsisten untuk mengobati. Di antaranya rutin melakukan penjemuran sapi setiap pagi dan sore. Selain itu, menjaga kebersihan kandang setiap harinya. “Jika memungkinkan dilakukan penyemprotan disinfektan menggunakan biodes atau prodestan,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Pengobatan juga dilakukan pada titik serangan virus. Antara lain mulut dan kuku. Untuk pengobatan mulut, dapat dilakukan dengan larutan asam sitrat atau asam cuka. Sementara pada kaki dapat dilakukan menggunakan larutan tembaga sulfat atau trusi. “Namun, untuk hasil maksimal, pengobatan kaki yang luka juga menggunakan neo antisep, biodes, atau prodestan,” ulasnya.
Berdasarkan pengalaman yang dialaminya, proses penyembuhan sapi PMK di kandang edukasi peternakan Unej butuh waktu penyembuhan yang bervariasi. “Antara tujuh hingga 14 hari, tergantung tingkat keparahan luka pada mulut dan kaki,” cetusnya. Terdapat 17 ekor yang sebelumnya dilakukan perawatan di kandang edukasi peternakan Unej. Semua sapi yang dirawatnya dinyatakan sembuh. “Hanya saja, proses tersebut membutuhkan kesabaran para peternak,” ucapnya.
Jurnalis: Achmad Dahlan
Fotografer: AMAM FOR RADAR IJEN
Editor: Dwi Siswanto Editor : Maulana Ijal