Waktu tempuh ke tempat ini sekitar satu jam 43 menit dari pusat kota Bondowoso. Jaraknya sekitar 56 kilometer. Letaknya berdampingan dengan Air Terjun Blawan. Lebih tepatnya, sebelum berkunjung ke Air Terjun Blawan, wisatawan akan melewati pemandian air panas Blawan terlebih dahulu.
Selain itu, konon, kawasan pemandian tersebut pernah dijadikan tempat semedi bagi Damar Wulan sebelum melawan Minak Jinggo. Tempat bersejarah tersebut saat ini dijadikan salah satu tempat wisata agar tetap terjaga kelestariannya.
Pemandian ini terletak di jalan menuju Gunung Ijen. Sumber air ini berasal dari kandungan kawah belerang. Air panas yang memiliki bau belerang ini ditampung di kolam. Wisatawan bisa memilih kadar panas pada dua kolam yang disediakan. Ada yang cukup panas dan standar.
Air Panas Blawan kini juga termasuk dalam situs geologi pada Ijen Geopark wilayah Bondowoso. Bersama situs geologi lainnya. Macam Kawah Ijen, Kawah Wurung, dinding kaldera Ijen Megasari, Kalipait, Batu Soon Solor, dan Black Lava Plalangan.
Kolam pemandian air panas Blawan ini menjadi jujukan terapi kesehatan. Sebab, banyak manfaat yang didapat ketika berendam dengan air panas belerang tersebut. Pemandian air panas Blawan merupakan tujuan yang tepat bagi pengunjung yang menginginkan relaksasi untuk membuat tubuh kembali bugar.
Seperti yang dirasakan oleh Lutfi Irbawanto, salah seorang pengunjung asal Lumajang. Bersama keluarga besarnya, dia sengaja datang dari Lumajang ke destinasi wisata Ijen. Menikmati air hangat bersama keluarga atau teman menjadi pilihan yang sangat tepat setelah mengunjungi sejumlah destinasi wisata yang ada di Ijen.
“Saya tidak hanya ke air panas Blawan ini. Tetapi, sudah ke Kawah Wurung, Black Lava Plalangan, dan akhirnya ke air panas ini,” beber Lutfi.
Pemandian air panas ini ditunjang dengan fasilitas kolam bersama dan bilik-bilik personal, serta fasilitas penunjang lainnya. Seperti lahan parkir dan musala untuk beribadah.
“Kalau berendam agak lama memang kita bisa rileks sejenak. Sembari menikmati pemandangan bukit di sekitarnya yang masih alami.” Imbuh Lutfi.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda Editor : Radar Digital