Luas lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare. Lahan kopi itu sebagian besar berada di lahan kawasan Perhutani. Namun, para petani sudah mengikat perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhutani untuk mengelolanya.
Lahan kebun arabika harus berada di ketinggian minimal 800-900 mdpl, sedangkan robusta 500-700 mdpl. Sentra lahan kopi di Bondowoso juga terbagi menjadi dua wilayah. Barat dan Timur. “Untuk wilayah timur meliputi Sumberwringin, Botolinggo, Cermee, dan Ijen. Sedangkan wilayah barat meliputi Pakem, Maesan, dan Curahdami,” ujar Hendri Widodo, Plt Kepala Dinas Pertanian Bondowoso.
Selain kebun kopi yang mencapai ribuan hektare, kelompok tani (poktan) kopi pun kini sudah mulai banyak. Terlebih, hasil kopi Bondowoso sudah mulai booming dalam skala nasional maupun internasional. “Sesuai data yang ada, total ada 119 kelompok tani kopi yang tersebar di 219 desa,” imbuh Hendri.
Pihaknya tak menutup mata bahwa sebagian besar kebun kopi yang ada masih berada dalam naungan pihak Perhutani. Apalagi yang ada di dataran tinggi kawasan Ijen dan sekitarnya.
Di sisi lain, Okta Kurniawan, salah seorang pegiat kopi di Kecamatan Sumberwringin, mengatakan bahwa komoditas kopi Bondowoso memang patut diangkat. “Dalam hal ini, saya rasa kopi Bondowoso patut dikembangkan dan dikenalluaskan,” ungkap Okta.
Meski tak mengelola kebun kopi secara langsung, namun Okta rutin membeli biji kopi dari para petani dan mengelolanya secara mandiri. “Buah kopi saya beli dari petani, lalu saya proses sendiri. Baik itu proses secara natural atau dibuat honey,” jelas pria yang akrab disapa Cadas ini.
Proses natural, rasa kopinya memang lebih alami. Sedangkan bila diproses honey, memaksimalkan kandungan madu yang ada di buah kopi. “Pengemasan dan pemasarannya saya juga mandiri. Ke kafe-kafe di Bondowoso, atau bahkan luar kota. Seperti Bali, Bandung, Malang, Tasikmalaya, juga pernah ke Eropa,” paparnya.
Proses penjemuran buah kopi pun di tampan kawat. Dengan jarak kurang lebih 25 cm di atas tanah. Sehari bisa dijemur tiga hingga empat jam saja. “Kalau menjemur proses natural bisa 10 sampai 15 hari hingga kering. Setelah proses jemur, baru disimpan di gudang sekitar satu bulanan. Setelah itu, proses selep memecah biji kopi dari kulit luarnya,” jelas Okta.
Jenis biji kopi pun ada macamnya. Ada green bean, yellow caturra, serta orange bourbon. “Setelah disimpan di gudang, green bean biji kopi siap sangrai. Dan tergantung kebutuhan memasarkan. Kebanyakan saya juga jual green bean ke kafe-kafe. Karena kopi itu banyak tujuannya dijadikan apa. Mau dibuat blend, espresso, V60, atau bubuk biasa,” bebernya.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda Editor : Safitri