Munculnya warna pada batang pohon itu dipengaruhi oleh proses oksidasi. Rendy Setiawan, tenaga ahli biologi di Ijen Geopark Wilayah Bondowoso, menjelaskan bahwa tumbuhan Eucalyptus merupakan famili Myrtaceae (jambu-jambuan).
Karakteristik famili Myrtaceae batang pohonnya akan mengalami pengelupasan. Proses pengelupasan batang pohon terjadi setiap satu minggu. "Khusus Eucalyptus punya getah yang keluar saat batang mengelupas. Getah yang keluar itu membasahi batang tanaman. Kemudian, ada reaksi oksidasi antara getah dengan oksigen lalu menimbulkan gradasi warna," jelasnya.
Rendy memaparkan, biasanya pada proses pertama akan muncul warna biru pada batang yang diselimuti getah. Bila getah sudah mengering, batang bisa berubah warna. Itu berlanjut hingga munculnya warna-warna lain.
"Eucalyptus deglupta adalah tanaman endemik asli wilayah Papua dan Maluku. Di wilayah itu, warna yang muncul lebih beragam. Misal ada warna oranye, marun, dan violet,” tutur dia.
“Kalau di Bondowoso yang menonjol warna hijau, biru, dan kuning. Suhu, kelembaban, intensitas cahaya juga memengaruhi munculnya warna," sebutnya.
Rendy mengungkapkan, Eucalyptus deglupta diproduksi atau ditanam di wilayah hutan Sumberwringin pada 1937. Saat ini, pohon tersebut telah berusia 83 tahun. "Tanaman ini bisa hidup sampai ratusan tahun. Sehingga akan terus tumbuh menjulang," tutupnya. Editor : Safitri