RADAR JEMBER - Juventus sempat benar-benar mempertimbangkan nama Mauro Icardi pada bursa transfer Januari.
Sebuah manuver yang nyaris mengguncang Serie A, mengingat status sang striker sebagai mantan kapten Inter dan figur yang selalu memantik kontroversi.
Menurut laporan SportMediaset, Icardi bahkan sudah mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada manajemen Bianconeri. Bukan sekadar membuka pintu, tapi juga menawarkan garansi performa.
“Jika kalian mengambil saya di Januari, saya akan mencetak 10 gol dalam enam bulan, lalu kalian bisa mengonfirmasi saya untuk musim berikutnya.”
Sebuah pernyataan penuh keyakinan—atau kepercayaan diri khas seorang bomber yang hidup dari gol.
Namun, mengapa transfer itu tak pernah terwujud?
Jawabannya ada di Istanbul. Galatasaray memegang kendali penuh atas nasib Icardi.
Klub Turki tersebut memasang banderol 15 juta euro untuk striker berusia 33 tahun yang kontraknya akan habis dalam enam bulan.
Kondisi ini membuat opsi peminjaman mustahil, kecuali ada perpanjangan kontrak—sesuatu yang tidak diinginkan baik oleh sang pemain maupun pihak klub.
Ada pula faktor strategis yang tak bisa diabaikan.
Presiden Galatasaray, Dursun Özbek, dikabarkan enggan melepas Icardi ke Juventus karena potensi bentrokan langsung di playoff Liga Champions.
Kekhawatirannya sederhana namun logis: melihat mantan pemainnya sendiri menjadi algojo yang menyingkirkan klubnya dari kompetisi Eropa—dan menyebabkan kerugian finansial besar.
Situasi inilah yang akhirnya membuat Juventus mundur teratur. Harga terlalu tinggi, risiko terlalu besar, dan waktu terlalu sempit.
Icardi pun tetap bertahan di Galatasaray. Sementara itu, kisah tentang janji “10 gol dalam enam bulan” kini tinggal menjadi catatan menarik dari bursa transfer Januari—sebuah what if yang berpotensi memanaskan rivalitas lama di Italia.
Editor : M. Ainul Budi