Optimis Menatap Ekonomi Jember 2020

Berharap pada Investasi Swasta dan Konsumsi Warga

Pertumbuhan ekonomi Jember pada tahun 2020 diprediksi meningkat. Yakni antara 5,17 persen hingga 5,57 persen. Hal ini ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih tinggi dan tumbuhnya pusat perdagangan.

Sumber: BPS DAN Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap optimistis harus dimiliki oleh masyarakat dalam menatap perekonomian Jember tahun 2020. Sebab, optimisme ini akan melahirkan energi positif yang bisa meningkatkan ekonomi.

IKLAN

Semangat optimistis ini disampaikan Hestu Wibowo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Menurut dia, pertumbuhan perekonomian di Jember pada tahun 2020 mendatang diprediksi berkisar antara 5,17 persen hingga 5,57 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Yakni sebesar 5,05 persen sampai 5,1 persen. “Tetapi masih lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi skala provinsi Jawa Timur,” tuturnya.

Di Jawa Timur, kata dia, tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 5,64 persen pada semester pertama tahun 2019. Sementara, untuk year on year (YoY) dalam angka 5,72 persen.

Pria yang akrab disapa Hestu ini menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jember sekarang dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Selain bertumbuhnya sektor perdagangan melalui banyaknya pusat perbelanjaan baru di Jember, juga faktor kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember,” tuturnya.

Selain itu, disertai bantuan yang diberikan pemerintah, baik secara tunai maupun nontunai, yang mendorong konsumsi masyarakat. Kemudian, karena berkembangnya permukiman baru di Jember.

Kendati demikian, kata dia, ada perubahan penopang perekonomian Jember.  Sektor pertanian justru mengalami perlambatan. “Kabupaten Jember ini mengalami perlambatan pertumbuhan untuk sektor pertanian dibanding sektor lainnya,” jelasnya.

Meskipun, kata dia, sektor pertanian masih mendominasi sekitar 60 persen terhadap perekonomian Jember. “Kita amati pertumbuhan semakin menurun, semoga ini menjadi perhatian pihak terkait agar sektor pertanian menjadi prioritas,” imbuhnya.

Melambatnya pertumbuhan sektor pertanian di Jember disebabkan adanya alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, tingkat produktivitasnya juga semakin menurun karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) pada sektor pertanian.

Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi Jember 2019 meningkat karena ditopang oleh terjaganya konsumsi masyarakat dan meningkatnya investasi swasta. Terutama pada sektor perdagangan. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja ekonomi di sektor perdagangan dan industri pengolahan pun meningkat.

“Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan seluruh jajaran TPID, kami pun optimistis inflasi tahun 2019 dapat terkendali di kisaran target yang telat ditetapkan,” paparnya.

Di samping itu, ketersediaan uang rupiah di wilayah kerja KPwBI Jember, meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, cukup tinggi. Terutama pada hari besar Natal dan tahun baru (Nataru) 2020.

Kebutuhan uang rupiah tunai sebesar Rp 1,464 triliun. Nominal itu mengalami kenaikan sekitar delapan persen atau Rp 107 miliar dibanding realisasi tahun 2018 lalu, yang tercatat sebesar Rp 1,356 triliun.

Di sisi lain, perkembangan uang palsu yang beredar di masyarakat sampai dengan bulan November 2019 menurun sekitar sepuluh persen dibandingkan peredarannya tahun lalu. Pada bulan November tahun ini, temuan uang palsu menurun sebanyak 3.179 lembar, dari tahun lalu sebanyak 3.521 lembar.

Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) dr Agus Lutfi menambahkan, dirinya tetap optimistis dengan perekonomian Jember. Meskipun ada penurunan setiap tahun, tapi kondisi ekonomi di Jember relatif bagus.

“Pertumbuhan ekonomi di Jember memang lebih rendah bila dibandingkan Jatim,” katanya. Namun, pertumbuhan ekonomi Jatim diprediksi menjadi terendah dalam kurung waktu lima tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi Jember yang melambat tidak hanya dipengaruhi ekonomi Jember saja. Tapi juga Jatim, nasional, hingga internasional. Apalagi, kata dia, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2018 hanya 5,06 persen. Jumlah itu masih lebih baik pertumbuhan ekonomi Jember.

“Jember ini masih mending,” tuturnya. Laju pertumbuhan ekonomi global pada 2018 di bawah Jember yaitu sebesar 3,6 persen. Dia menggambarkan kondisi ekonomi suatu wilayah juga tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi saja. Tapi juga dari aspek daya beli dan kesejahteraan. Agus memaparkan, jika ada selisih yang semakin besar antara pertumbuhan ekonomi dengan laju inflasi, maka kesejahteraan masyarakat adalah baik.

Data dari BPS Jember menunjukkan inflasi Jember sejak Januari-November adalah 1,49 persen. Semisal pertumbuhan ekonomi Jember 2019 ini sama dengan tahun sebelumnya, 5,23 persen. Artinya ada selisih positif.

Walau secara data ekonomi Kabupaten Banyuwangi lebih bagus daripada Jember, menurut Agus Lutfi, Jember tetap menarik secara ekonomi. Sebab, daerah sekitar termasuk Banyuwangi banyak menghabiskan uangnya untuk berbelanja di Jember.

Hal yang patut diacungi jempol untuk Banyuwangi dan harus patut diapresiasi bagi Jember adalah tentang bandara. “Pesawat di Banyuwangi bisa langsung Jakarta-Banyuwangi. Apalagi bisa pulang pergi,” paparnya.

Kehadiran pesawat, tambah dia, akan menarik investor untuk datang ke Banyuwangi. “Investor itu waktunya sedikit dan sibuk,” tuturnya. Apalagi daerah tetangga tersebut juga kreatif mengemas pariwisatanya.

Sementara itu, untuk Jember, walau secara konsep pembangunan ekonominya terasa tidak terarah, tapi tanpa ada desain, Jember mengarah ke kota modern. “Jika Jember punya konsep bagus ke arah mana pengembangan ekonominya, akan bagus,” paparnya.

Menurut dia, peluang 2020 di Jember bagus, tapi juga ada kesulitan. Sebab, prediksi ekonomi nasional dan Jatim juga tidak begitu baik pada 2019. Terpenting bagi dia, 2020 diperlukan pengusaha yang kreatif dan pintar menangkap peluang bisnis.  Dia berharap, kerja sama sektor pengusaha dengan pemerintah yang baik akan berdampak baik pula untuk perkembangan ekonomi di Jember.

Kepala Badan Statistik Jember Arif Joko Sutejo menambahkan, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku di Jember tahun 2018 capai Rp 72,3 M. Tumbuh 5,23 persen bila dibandingkan tahun 2017 yang besaran PDRB adalah Rp 67,4 M.

Menurutnya, lapangan usaha kategori yang alami pertumbuhan tertinggi adalah penyedia akomodasi dan makanan minuman sebesar 9,03 persen. Diikuti perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan motor 8,42 persen. “Penyumbang terbesar masih didominasi pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,  27,39 persen,” jelasnya.

Dari kacamata ekonomi, kata dia, kesejahteraan penduduk dapat dilihat dari besaran pendapatannya. “Semakin tinggi pendapatan per kapita, penduduk dianggap semakin sejahtera,” tambahnya.  Namun, untuk memperoleh informasi tentang pendapatan rumah tangga sangat sulit. Sehingga, kata dia, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mengukur kesejahteraan memakai pendekatan pengeluaran. “Secara umum, berbanding lurus dengan pendapatan. Rumah tangga yang pengeluaran banyak, tentu mempunyai pendapatan yang besar,” jelasnya.

Kondisi ini, tambah Joko, mencerminkan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat dan kemampuan daya beli. Hal ini dapat memberikan gambaran tentang tingkat kesejahteraan masyarakat. Arif Joko menjelaskan, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Jember alami trend peningkatan.

Pada 2018, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk di Jember adalah Rp 758.859. Sementara, pada 2017 Rp 612.139 pengeluaran per kapita setiap bulan. Bila dibandingkan dengan Jatim, masih tinggi rata-rata pengeluaran per kapita di Jatim. Sementara itu, untuk daerah se-eks Karesidenan Besuki plus Lumajang, posisi Jember lebih baik. Namun tetap di bawah Banyuwangi.

Reporter : Muchammad Ainul Budi, Dwi Siswanto

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi