Kreativitas Warga Desa Sidomekar Ubah Pasar Kumuh Jadi Mural

MAHRUS SHOLIH/RADAR JEMBER TRANSAKSI: Seorang warga membeli bumbu dapur di lapak milik Haji Sofyan, salah seorang pedagang di Pasar Warna-warni Sidomekar, Semboro.

Semboro – Di sudut sebuah Pasar Krempyeng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Sunarmi terlihat menunggui dagangannya. Selepas fajar ia membuka lapak, dagangannya laris diborong pembeli. Hanya tinggal tiga buah tempe yang tertumpuk di sebuah meja pendek terbuat dari bambu itu. Pagi itu, nasib baik sepertinya menghampiri nenek 14 cucu tersebut.

IKLAN

Di usia yang memasuki renta, ibu lima orang anak ini memang masih terlihat trengginas. Kulitnya yang keriput tak menghalangi semangatnya untuk hidup mandiri, dan tak tergantung kepada anak cucu.

“Dagangan saya sendiri habis. Tempe yang saya jual sekarang ini milik pedagang lain. Saya hanya membantu menjualkan saja,” kata perempuan 70 tahun tersebut.

Menggunakan logat Jawa, warga Dusun Babatan, Desa Sidomekar ini bercerita, sejak Pasar Krempyeng itu dipugar medio April lalu oleh pemerintah desa setempat, banyak warga yang berbelanja di pasar yang menempati sebuah gang tersebut. Mereka tak hanya berasal dari Sidomekar, tetapi juga desa lain yang berdekatan. Bahkan, ada juga yang berasal dari desa di Kecamatan Umbulsari.

Pedagang yang telah berjualan sejak 40 tahun silam ini menuturkan, meningkatnya minat warga tersebut karena kondisi pasar tradisional ini tak lagi kumuh. Pembeli juga tertarik dengan suasana pasar yang penuh dengan aneka warna. Menurut dia, kondisi ini menjadi pemantik banyaknya pembeli yang berdatangan. “Dampaknya tentu kembali ke pedagang. Penghasilan kami meningkat,” ujarnya.

Dulu, kata Sunarmi, kondisi pasarnya relatif sepi, karena kalah bersaing dengan pasar induk kecamatan, serta pedagang sayur keliling. Sebab, pasar yang menjual kebutuhan pokok dan sayur-mayur ini terletak tak jauh dari Pasar Kecamatan Semboro, yang hanya berjarak sekitar 300 meter arah selatan.

Namun, setelah setiap sudut pasar dan lapak pedagang dicat beraneka warna, minat warga berbelanja di pasar kembali bergeliat. “Sebab, saat ini kondisinya bagus. Dan sekarang namanya dikenal Pasar Warna-warni. Jadi, ramai pembeli setelah dicat,” ucapnya.

Ketika memasuki pasar warna-warni, pengunjung akan menemui sebuah jembatan yang melintasi sungai irigasi. Di akses masuk ini, pengunjung akan disambut gapura yang terbuat dari bambu, serta melihat meriahnya kombinasi warna merah muda, hijau, kuning, dan biru yang digoreskan di setiap sudut pasar.

Tak hanya di dinding toko, lapak pedagang, dan aspal jalan saja, bebatuan yang menjadi plengsengan sungai juga dicat berwarna-warni. Bahkan, di beberapa tempat juga dibuat mural dengan gambar tiga dimensi, seperti gambar tokoh pewayangan, Petruk, serta ular yang siap memangsa, sehingga terlihat sangat rancak.

Menurut Haji Sofyan, yang menjadi daya tarik pembeli di pasar yang buka sejak bakda subuh hingga pukul 09.00 pagi ini tak hanya keindahan warna dan gambarnya saja. Tetapi juga kekompakan para pedagang untuk membuat suasana di pasar berbeda dengan pasar lainnya.

Kata pedagang bumbu dapur ini, pada hari Minggu di setiap awal bulan, semua pedagang berkostum adat Jawa. Perempuan memakai kebaya, sedangkan lelakinya mengenakan baju garis-garis (Surjan) khas Jawa dan blangkon sunan. “Di momen seperti itu, biasanya pengunjung akan lebih banyak,” kata warga Desa Mundurejo, Kecamatan Umbulsari tersebut.

Pria yang sejak tahun 1983 berdagang di Pasar Krempyeng tersebut mengaku, setelah ada pengecatan, omzet dagangannya meningkat rata-rata 10 persen. Omzet itu akan melonjak jika ada momen unik seperti mengenakan kostum adat tersebut. Bahkan, kenaikannya mencapai hampir dua kali lipat. “Jika hari biasa omzetnya antara Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta. Namun, di momen-momen tertentu bisa mencapai Rp 2 juta,” akunya.

Sementara itu, Kepala Desa Sidomekar Sugeng Priyadi menjelaskan, ide pemugaran itu berawal dari kondisi pasar yang dinilai kumuh. Sehingga, pada 15 April lalu, bersama Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Jeruk Siyem, pemerintah desa berinisiatif untuk membuat tampilan pasar yang saat ini menampung 45 pedagang tersebut lebih menarik.

Tujuannya juga sederhana, Sugeng menuturkan, jika kondisi pasar bersih dan menarik, maka akan semakin menarik minat pembeli. Target akhirnya adalah peningkatan pendapatan para pedagang yang muaranya meningkatkan kesejahteraan mereka. “Akhirnya kami sepakat untuk membuat Pasar Warna-warni,” katanya.

Selain itu, kata dia, jika tidak ada kreasi dari pemangku kebijakan, maka para pedagang yang berjualan di pasar tradisional akan kalah bersaing dengan pasar maupun toko modern. Apalagi, saat ini toko waralaba sudah masuk hingga ke pelosok desa. “Tapi saya mewanti-wanti agar para pedagang menjaga kebersihan pasar. Mereka mendukung, karena tujuannya memang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri,” tandasnya. (mg-4/mgc/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :