JawaPos.com – Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju membawa optimisme kepada pelaku pasar modal di tanah air. Mereka yakin semakin banyak perusahaan pelat merah yang melantai di bursa.

IKLAN

“Harapan pihak bursa, adanya kabinet yang lebih pro kepada pasar modal, BUMN yang go public, semakin banyak,” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi di Lombok akhir pekan lalu.

Selain itu, BEI berharap kabinet periode kedua pemerintahan Jokowi memberikan kebijakan yang kian mendorong kinerja pasar modal. “Tentu stabilitas politik dan keuangan itu yang paling penting,” imbuhnya.

Sebelumnya, BEI juga tengah melakukan pendekatan dengan Kementerian BUMN. Paling tidak, ada lima BUMN yang akan melakukan initial public offering (IPO). Tapi, dia belum dapat menyebutkan perusahaan pelat merah yang akan melantai di BEI.

Menteri BUMN Erick Thohir berharap perusahaan milik negara tidak hanya mencatatkan saham di bursa dalam negeri, tetapi juga listing di luar negeri.

“Saya berpikir enggak hanya di Indonesia. Kalau bisa dual listing di London, why not?” ujarnya. Dia mencontohkan, sebelumnya ada perusahaan pelat merah yang merilis Komodo Bond berdenominasi rupiah di Bursa Saham London.

Pada 2017, PT Jasa Marga Tbk merupakan BUMN yang mencatatkan obligasi global rupiah di London Stock Exchange. Selain itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk telah mencatatkan saham di New York Stock Exchange (NYSE). PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pun mencatatkan saham di bursa Australia.

Erick menegaskan, hal tersebut tidak bisa diputuskan dalam waktu singkat. Sebab, Presiden Joko Widodo telah menyampaikan bahwa hanya ada visi presiden, bukan menteri. Karena itu, dia tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuan kepala negara. “Presiden harus tahu karena menteri kan pembantu presiden,” kata Erick.

Dewan Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyebutkan, jumlah emiten dan investor di Indonesia tumbuh lumayan. Bahkan, pertumbuhan yang signifikan di tengah ketidakpastian global itu membuat negara-negara tetangga cemburu.

“Beberapa negara tetangga kita saat ini mengalami pertumbuhan negatif dalam jumlah emiten, termasuk investornya stagnan. Seperti Singapura, setahu saya pertumbuhan emitennya negatif karena susah nyarinya di sana,” tuturnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (dee/vir/c19/oki)