alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tunawisma Terbanyak Kedua di Jawa Timur

Ada Indikasi Kiriman dari Luar Kota

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

Di Jember, persentase jumlah penduduk miskin pada 2020 naik sebesar 0,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin sebesar 9,25 persen, dan pada tahun 2020 naik menjadi 10,09 persen. “Jumlah kemiskinan dipengaruhi oleh pengangguran selama pandemi yang ada. Apalagi selama lima tahun belakangan tidak ada perda khusus yang menangani kemiskinan,” ungkap dosen yang akrab disapa Kris itu.

Sementara itu, indeks kedalaman kemiskinan pada 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,20 poin menjadi 1,42 dibanding 2019, yakni sebesar 1,22. Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 0,07 poin atau naik menjadi 0,31 pada 2020.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Mobile_AP_Half Page

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

Di Jember, persentase jumlah penduduk miskin pada 2020 naik sebesar 0,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin sebesar 9,25 persen, dan pada tahun 2020 naik menjadi 10,09 persen. “Jumlah kemiskinan dipengaruhi oleh pengangguran selama pandemi yang ada. Apalagi selama lima tahun belakangan tidak ada perda khusus yang menangani kemiskinan,” ungkap dosen yang akrab disapa Kris itu.

Sementara itu, indeks kedalaman kemiskinan pada 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,20 poin menjadi 1,42 dibanding 2019, yakni sebesar 1,22. Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 0,07 poin atau naik menjadi 0,31 pada 2020.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

Di Jember, persentase jumlah penduduk miskin pada 2020 naik sebesar 0,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2019, persentase jumlah penduduk miskin sebesar 9,25 persen, dan pada tahun 2020 naik menjadi 10,09 persen. “Jumlah kemiskinan dipengaruhi oleh pengangguran selama pandemi yang ada. Apalagi selama lima tahun belakangan tidak ada perda khusus yang menangani kemiskinan,” ungkap dosen yang akrab disapa Kris itu.

Sementara itu, indeks kedalaman kemiskinan pada 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,20 poin menjadi 1,42 dibanding 2019, yakni sebesar 1,22. Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 0,07 poin atau naik menjadi 0,31 pada 2020.

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2