alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Celah Pengangguran Terbuka Selama Pandemi

Bisnis lewat Daring Masih Jadi Solusi

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

Untuk menyiasati agar dapur tetap ngebul, Wulan memutuskan untuk berjualan aneka jenis sambal secara daring sejak tahun lalu. Sama dengan kopi, peminat sambal di Jember juga tergolong tinggi. “Sebenarnya, dagang online ini cukup mudah. Yang penting ada kemauan dan istiqamah,” terangnya. Terutama dalam bersosialisasi melalui history di media sosial.

Apalagi, pandemi ini memaksa banyak orang di rumah dan lebih banyak menghabiskan banyak waktunya dengan bermain ponsel. “Paling ampuh lagi, kalau bisa menciptakan sesuatu dan diminati banyak orang. Pasti cepat terjual,” ungkapnya.

Berbeda dengan Sofiatul Annisa. Warga Kecamatan Ajung itu memanfaatkan salah satu aplikasi dagang untuk berbisnis di jejaring sosial. “Jadi, saya membeli banyak barang yang dijual di aplikasi tersebut. Utamanya barang elektronik seperti HP,” lanjutnya.

Caranya dengan mencari barang yang harganya jauh lebih murah. Lalu, dijual lagi dengan menawarkan barang-barang itu melalui pesan medsos. “Jika jeli, kita bisa meraup banyak keuntungan dari upaya ini,” ungkap wanita yang berumur 25 tahun itu. Namun, harus benar-benar jeli dan jangan sampai tertipu. “Soalnya, penipuan berbasis online juga masih marak,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Mobile_AP_Half Page

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

Untuk menyiasati agar dapur tetap ngebul, Wulan memutuskan untuk berjualan aneka jenis sambal secara daring sejak tahun lalu. Sama dengan kopi, peminat sambal di Jember juga tergolong tinggi. “Sebenarnya, dagang online ini cukup mudah. Yang penting ada kemauan dan istiqamah,” terangnya. Terutama dalam bersosialisasi melalui history di media sosial.

Apalagi, pandemi ini memaksa banyak orang di rumah dan lebih banyak menghabiskan banyak waktunya dengan bermain ponsel. “Paling ampuh lagi, kalau bisa menciptakan sesuatu dan diminati banyak orang. Pasti cepat terjual,” ungkapnya.

Berbeda dengan Sofiatul Annisa. Warga Kecamatan Ajung itu memanfaatkan salah satu aplikasi dagang untuk berbisnis di jejaring sosial. “Jadi, saya membeli banyak barang yang dijual di aplikasi tersebut. Utamanya barang elektronik seperti HP,” lanjutnya.

Caranya dengan mencari barang yang harganya jauh lebih murah. Lalu, dijual lagi dengan menawarkan barang-barang itu melalui pesan medsos. “Jika jeli, kita bisa meraup banyak keuntungan dari upaya ini,” ungkap wanita yang berumur 25 tahun itu. Namun, harus benar-benar jeli dan jangan sampai tertipu. “Soalnya, penipuan berbasis online juga masih marak,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

Untuk menyiasati agar dapur tetap ngebul, Wulan memutuskan untuk berjualan aneka jenis sambal secara daring sejak tahun lalu. Sama dengan kopi, peminat sambal di Jember juga tergolong tinggi. “Sebenarnya, dagang online ini cukup mudah. Yang penting ada kemauan dan istiqamah,” terangnya. Terutama dalam bersosialisasi melalui history di media sosial.

Apalagi, pandemi ini memaksa banyak orang di rumah dan lebih banyak menghabiskan banyak waktunya dengan bermain ponsel. “Paling ampuh lagi, kalau bisa menciptakan sesuatu dan diminati banyak orang. Pasti cepat terjual,” ungkapnya.

Berbeda dengan Sofiatul Annisa. Warga Kecamatan Ajung itu memanfaatkan salah satu aplikasi dagang untuk berbisnis di jejaring sosial. “Jadi, saya membeli banyak barang yang dijual di aplikasi tersebut. Utamanya barang elektronik seperti HP,” lanjutnya.

Caranya dengan mencari barang yang harganya jauh lebih murah. Lalu, dijual lagi dengan menawarkan barang-barang itu melalui pesan medsos. “Jika jeli, kita bisa meraup banyak keuntungan dari upaya ini,” ungkap wanita yang berumur 25 tahun itu. Namun, harus benar-benar jeli dan jangan sampai tertipu. “Soalnya, penipuan berbasis online juga masih marak,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2