Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat berkunjung ke Malang, Rabu (6/3). (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

JawaPos.com – Jawa Timur terus mendorong pengembangan industri hulu tekstil. Apalagi, sekarang jumlah perusahaan tekstil di Jatim jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Jawa Barat maupun Jawa Tengah.

IKLAN

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menyatakan, industri tekstil di Jabar berkembang pesat salah satunya karena faktor upah minimum regional (UMR). Di Jatim, khususnya di ring 1, besaran UMR bisa mencapai Rp 3,9 juta. Bagi industri tekstil dan produk tekstil yang padat karya, tentu UMR sebanyak itu memberatkan.

“Tapi, kami punya daerah ke arah barat yang besaran UMR turun hingga 50 persen lebih. Jadi, itu potensi untuk pengembangan industri tekstil. Seperti ke Lamongan, Bojonegoro, hingga Kertosono (Nganjuk),” ujarnya Selasa (15/10).

Dari Surabaya, akses ke Nganjuk dan daerah sekitarnya juga makin mudah dan cepat dengan adanya tol. Peluang memperbesar industri tekstil juga bakal didukung dengan keberadaan industri bahan baku.

“Saat ini di pesisir timur dikembangkan industri petrochemical sehingga nanti pengembangan industri turunan menjadi lebih mudah,” ujarnya.

Produk yang dihasilkan industri petrokimia dapat dipakai sebagai bahan baku bermacam-macam industri, termasuk tekstil. Ketua Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Jatim Haryono menambahkan, ada 37 perusahaan tekstil dan produk tekstil skala menengah dan besar di Jatim.

Jumlah itu jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Jabar yang mencapai 600 perusahaan. Supaya bisa bersaing, lanjut dia, diperlukan kebijakan yang mendukung.

“Kami melihat Pak Wagub pro dengan pengusaha. Menyediakan lahan, sarana gas, hingga tol yang terintegrasi. Kami minta waktu untuk konsultasi internal. Nanti kami lihat terutama realisasi pengadaan bahan baku yang itu menjadi tantangan,” tandasnya. Sebab, selama ini sebagian besar bahan baku diimpor.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (res/c19/oki)