Lirik Wisata Tembakau

WAWAN DWI/RADAR JEMBER CIRI KHAS JEMBER: Tembakau Bawah Naungan (TBN) milik PTPN 10 dilirik untuk dijadikan objek wisata berbasis agrowisata oleh Kecamatan Ajung. Tanaman tembakau yang ditutupi dengan kelambu tersebut punya pemandangan bagus dan edukatif.

RADARJEMBER.ID- Kota Tembakau masih melekat sebagai nama lain Jember hingga saat ini. Komoditas tanaman yang disebut daun emas tersebut masih tumbuh sumbur di Jember. Penanaman dan perawatan yang tetap menjaga kekhasannya masih dipertahankan. Tak salah Kecamatan Ajung ingin ada wisata tembakau.

IKLAN

Memasuki musim kemarau lahan persawahan di daerah Jember mulai ditanam tembakau. Waring atau kelambu berwarna putih juga mulai dibangun agar tembakau khususnya yang dibawah naungan itu tumbuh baik. Rumah penyimpangan tembakau yang terbuat dari bambu dan daun welit pun dibangun dan siap menampung hasil bumi tersebut.

Masih menerapkan cara tanam tembakau seperti zaman penjajahan Belanda adalah sesuatu yang punya nilai lebih. Kasi Trantib Kecamatan Ajung, Sirajuddin mengatakan, melihat kondisi geografis, sosial, dan masyarakat ajung ada beberapa potensi yang bisa dikembangkan tapi tidak meninggalkan yang dulu. Artinya hasil alam, seperti tembakau bisa dikombinasikan dengan pariwisata.

Artinya, lewat wisata berkonsep agrowisata tetap mempertahankan pertanian dan membuat masyarakat lebih berdaya lagi. Pria yang punya keilmuan pariwisata tersebut menjelaskan, Jember sudah dikenal sebagai kota tembakau. Tembakau dari Jember dari dulu telah diminati oleh luar negeri.  Bagi orang asli Jember, khususnya daerah pertanian tembakau, tanaman yang satu ini pasti dianggap biasa. Bahkan, memakai metode tanam bawah naungan dan penyimpangan di rumah welit juga biasa. “Tapi bagi orang kota. Orang yang daerahnya tidak ada tanaman tembakau dan mancanegara pasti penasaran dengan tembakau. Apalagi Jember cara tanamnya ada ciri khasnya,” imbuhnya.

Terlebih lagi, kata dia, meski Jember sebagai kota tembakau belum ada desa yang secara khusus menawarkan wisata tembakau. “Inilah yang ingin kami kembangkan desa wisata berbasis agrowisata,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : M. Shodiq Syarif
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :