Ekonomi Kreatif Putar Rp 800 Triliun

Sholikhul Huda/Radar Ijen DIGITALISASI PRODUK: Para pelaku usaha kreatif saat mengikuti pelatihan Digital Entrepreneurship di RM Orilla, kemarin.

RADARJEMBER.ID- Ratusan pengusaha mengikuti pelatihan Digital Entrepreneurship yang diadakan Badan Ekonomi Kreatrif (Bekraf), kemarin (7/8). Para pelaku usaha ini dituntut untuk mengembangkan produk dengan cara digital atau digital entrepreneurship. Oleh karenanya, tidak hanya dalam pengolahan saja yang harus kreatif dan inovatif, pemasarannya juga harus sama.

IKLAN

Anggota Komisi X DPR RI Anas Tahir mengatakan, Bekraf dalam segi umur merupakan lembaga di bawah presiden yang baru berdiri pada 2015. Yakni melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015. Bekraf yang merupakan lembaga pemerintah nonkementerian ini memiliki tugas mengembangkan ekonomi kreatif. “Berdasarkan laporan kepala Bekraf, selama ini sudah lebih Rp 800 T perputaran uang dari industri kreatif skala nasional,” tegasnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk bisa menjadi bagian ekonomi kreatif. Pihaknya meminta agar masyarakat tidak hanya jadi penikmat saja. Namun, harus jadi pelaku usaha ekonomi kreatif. “Masyarakat harus masuk pada usaha ekonomi kreatif, jangan jadi penikmat, namun harus jadi pelaku,” ujarnya.

Dijelaskannya, kunci usaha ekonomi kreatif adalah seseorang harus inovatif. Sebab, sebenarnya masyarakat Indonesia tidak kalah hebat dengan masyarakat Tiongkok atau negara lain. Namun, hanya kalah kreatif. “Inovasi dalam kreativitas itulah yang harus dibangkitkan di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Sementara Ida Kurniawan, wakil dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso mengatakan, selama ini berbagai produk UMKM Bondowoso sejatinya telah merambah digital entrepreneurship. Sebab, sudah banyak produk UMKM Bondowoso yang dipasarkan secara daring (daring). “Ada beberapa produk yang sudah merambah pasar digital, seperti blanja.com dan regopantes.com,” ujarnya saat mewakili Kadiskoperindag.

Michael Setiawan, salah seorang warga Bondowoso yang menjadi peserta mengaku, dia selama ini sudah melakukan berbagai inovasi. Mulai membuat Bondowoso Tea (BondTea) sampai Blue Fire Tea. Harapannya, inovasinya itu dikembangkan pemerintah daerah sehingga bisa menjadi ikon Bondowoso. “Saya berharap inovasi yang kami ciptakan bisa menjadi produk unggulan Bondowoso dan menjadi ciri khas Bondowoso,” jelas owner Hotel Anugrah tersebut.

Reporter & Fotografer: Sholikhul Huda
Editor : Narto
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :