23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Usung Misi Budaya dan Patriotisme

Dalam Pelaksanaan Karnaval PAUD hingga SMP

Mobile_AP_Rectangle 1

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Pawai budaya Lumajang tahun ini akhirnya bisa terselenggara kembali. Setelah vakum selama dua tahun, kegiatan hiburan itu sangat dirindukan masyarakat. Tak heran, pada hari pertama dan kedua karnaval, antusiasme masyarakat untuk melihat luar biasa.

BACA JUGA : Ibu Rumah Tangga Beresiko Terkena HIV

Karnaval budaya itu diawali oleh siswa-siswi tingkat PAUD dan TK, Senin lalu (29). Kemarin, karnaval diikuti oleh puluhan siswa SD dan SMP. Seluruh peserta pawai dilepas di depan Kantor Pemda Lumajang. Selanjutnya, mereka menyusuri sejumlah jalan protokol kabupaten dan berakhir di persimpangan SDK Lumajang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masing-masing satuan pendidikan menampilkan karya terbaiknya. Siswa-siswi yang tergabung dalam setiap tim mengenakan beragam pakaian. Mulai dari pakaian khas Lumajang hingga pakaian khas daerah lain. Tak hanya pakaian, mereka juga menampilkan budaya, tarian, bahkan alat musik tradisional. Hal itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tradisional.

Seperti yang ditampilkan TK Pembangunan Lumajang. Mereka menampilkan kesenian khas jaran slining. Anak-anak berdandan ala penari jaran slining. Tarian dan gerakan mereka juga tidak jauh berbeda dengan kesenian aslinya. Tidak sedikit masyarakat yang didominasi ibu-ibu mengabadikan momentum itu.

Peserta lain, TK Negeri Pembina Lumajang, dengan tema Wonderland Indonesia menampilkan sejumlah budaya Indonesia. Meski hanya berlatih selama dua pekan, mereka tampil memukau. “Persiapannya mepet dari pengumuman. Tetapi, kami maksimalkan. Harapannya, selain mengenalkan mereka terhadap budaya, kami berharap anak-anak menjadi penerus dan melestarikan budaya Indonesia. Khususnya budaya asli Lumajang,” kata Lia, salah satu guru.

Sementara itu, di tingkat SD dan SMP, beragam tema ditampilkan. Seperti SD Negeri Citrodiwangsan yang menampilkan asal-usul Kasada. Budaya dan ritual asli Suku Tengger itu ditampilkan di hadapan juri dan masyarakat umum. Sedangkan di tingkat SMP, tema kepahlawanan juga diangkat. Hal itu sebagai bagian dari patriotisme di Bulan Kemerdekaan ini. (kin/c2/fid)

 

- Advertisement -

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Pawai budaya Lumajang tahun ini akhirnya bisa terselenggara kembali. Setelah vakum selama dua tahun, kegiatan hiburan itu sangat dirindukan masyarakat. Tak heran, pada hari pertama dan kedua karnaval, antusiasme masyarakat untuk melihat luar biasa.

BACA JUGA : Ibu Rumah Tangga Beresiko Terkena HIV

Karnaval budaya itu diawali oleh siswa-siswi tingkat PAUD dan TK, Senin lalu (29). Kemarin, karnaval diikuti oleh puluhan siswa SD dan SMP. Seluruh peserta pawai dilepas di depan Kantor Pemda Lumajang. Selanjutnya, mereka menyusuri sejumlah jalan protokol kabupaten dan berakhir di persimpangan SDK Lumajang.

Masing-masing satuan pendidikan menampilkan karya terbaiknya. Siswa-siswi yang tergabung dalam setiap tim mengenakan beragam pakaian. Mulai dari pakaian khas Lumajang hingga pakaian khas daerah lain. Tak hanya pakaian, mereka juga menampilkan budaya, tarian, bahkan alat musik tradisional. Hal itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tradisional.

Seperti yang ditampilkan TK Pembangunan Lumajang. Mereka menampilkan kesenian khas jaran slining. Anak-anak berdandan ala penari jaran slining. Tarian dan gerakan mereka juga tidak jauh berbeda dengan kesenian aslinya. Tidak sedikit masyarakat yang didominasi ibu-ibu mengabadikan momentum itu.

Peserta lain, TK Negeri Pembina Lumajang, dengan tema Wonderland Indonesia menampilkan sejumlah budaya Indonesia. Meski hanya berlatih selama dua pekan, mereka tampil memukau. “Persiapannya mepet dari pengumuman. Tetapi, kami maksimalkan. Harapannya, selain mengenalkan mereka terhadap budaya, kami berharap anak-anak menjadi penerus dan melestarikan budaya Indonesia. Khususnya budaya asli Lumajang,” kata Lia, salah satu guru.

Sementara itu, di tingkat SD dan SMP, beragam tema ditampilkan. Seperti SD Negeri Citrodiwangsan yang menampilkan asal-usul Kasada. Budaya dan ritual asli Suku Tengger itu ditampilkan di hadapan juri dan masyarakat umum. Sedangkan di tingkat SMP, tema kepahlawanan juga diangkat. Hal itu sebagai bagian dari patriotisme di Bulan Kemerdekaan ini. (kin/c2/fid)

 

TOMPOKERSAN, Radar Semeru – Pawai budaya Lumajang tahun ini akhirnya bisa terselenggara kembali. Setelah vakum selama dua tahun, kegiatan hiburan itu sangat dirindukan masyarakat. Tak heran, pada hari pertama dan kedua karnaval, antusiasme masyarakat untuk melihat luar biasa.

BACA JUGA : Ibu Rumah Tangga Beresiko Terkena HIV

Karnaval budaya itu diawali oleh siswa-siswi tingkat PAUD dan TK, Senin lalu (29). Kemarin, karnaval diikuti oleh puluhan siswa SD dan SMP. Seluruh peserta pawai dilepas di depan Kantor Pemda Lumajang. Selanjutnya, mereka menyusuri sejumlah jalan protokol kabupaten dan berakhir di persimpangan SDK Lumajang.

Masing-masing satuan pendidikan menampilkan karya terbaiknya. Siswa-siswi yang tergabung dalam setiap tim mengenakan beragam pakaian. Mulai dari pakaian khas Lumajang hingga pakaian khas daerah lain. Tak hanya pakaian, mereka juga menampilkan budaya, tarian, bahkan alat musik tradisional. Hal itu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tradisional.

Seperti yang ditampilkan TK Pembangunan Lumajang. Mereka menampilkan kesenian khas jaran slining. Anak-anak berdandan ala penari jaran slining. Tarian dan gerakan mereka juga tidak jauh berbeda dengan kesenian aslinya. Tidak sedikit masyarakat yang didominasi ibu-ibu mengabadikan momentum itu.

Peserta lain, TK Negeri Pembina Lumajang, dengan tema Wonderland Indonesia menampilkan sejumlah budaya Indonesia. Meski hanya berlatih selama dua pekan, mereka tampil memukau. “Persiapannya mepet dari pengumuman. Tetapi, kami maksimalkan. Harapannya, selain mengenalkan mereka terhadap budaya, kami berharap anak-anak menjadi penerus dan melestarikan budaya Indonesia. Khususnya budaya asli Lumajang,” kata Lia, salah satu guru.

Sementara itu, di tingkat SD dan SMP, beragam tema ditampilkan. Seperti SD Negeri Citrodiwangsan yang menampilkan asal-usul Kasada. Budaya dan ritual asli Suku Tengger itu ditampilkan di hadapan juri dan masyarakat umum. Sedangkan di tingkat SMP, tema kepahlawanan juga diangkat. Hal itu sebagai bagian dari patriotisme di Bulan Kemerdekaan ini. (kin/c2/fid)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca