alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Sedimen Sungai Bondoyudo Dikeruk

Karena Terlalu Tebal, Diperkirakan Berjalan Selama Dua Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terhenti karena pandemi, normalisasi Sungai Bondoyudo mulai dilakukan, beberapa waktu lalu. Dari hulu di Lumajang hingga hilir di Kabupaten Jember, kawasan tersebut menjadi sasaran pengerukan sedimen sungai. Proyek normalisasi tersebut diperkirakan berjalan selama dua tahun.

Syamsul, Bagian Pengawasan dan Pengendalian Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Wilayah Sungai Bondoyudo Baru, mengatakan, normalisasi tersebut merupakan proyek multi-years pusat. Sehingga jangkauan normalisasi sangat luas dan panjang. “Normalisasi dimulai dari hulu hingga hilir di Jember,” katanya.

Meski alat berat dan pekerja proyek banyak, proyek normalisasi tersebut memerlukan waktu yang lama. Sebab, normalisasi tersebut seharusnya dilakukan setiap tahun. Namun, karena pandemi, pihaknya baru memulai beberapa hari ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Rencana, normalisasi ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Memang harusnya sudah dilakukan setiap tahun. Terutama tahun kemarin. Tetapi, karena ada pandemi, jadi mandek. Baru beberapa hari ini kami mulai kembali. Kami keruk sedimen yang menghambat jalannya air di Sungai Bondoyudo,” jelasnya.

Mandeknya normalisasi menyebabkan sedimen yang terbentuk pada sungai sangat parah. Dia menuturkan, pengerukan tersebut akan dilakukan secara kontinu dan detail. Agar aliran air dapat berjalan lancar. Tidak hanya di sungai besar, namun sepanjang jaringan irigasi (JI) Bondoyudo juga akan dilakukan normalisasi.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terhenti karena pandemi, normalisasi Sungai Bondoyudo mulai dilakukan, beberapa waktu lalu. Dari hulu di Lumajang hingga hilir di Kabupaten Jember, kawasan tersebut menjadi sasaran pengerukan sedimen sungai. Proyek normalisasi tersebut diperkirakan berjalan selama dua tahun.

Syamsul, Bagian Pengawasan dan Pengendalian Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Wilayah Sungai Bondoyudo Baru, mengatakan, normalisasi tersebut merupakan proyek multi-years pusat. Sehingga jangkauan normalisasi sangat luas dan panjang. “Normalisasi dimulai dari hulu hingga hilir di Jember,” katanya.

Meski alat berat dan pekerja proyek banyak, proyek normalisasi tersebut memerlukan waktu yang lama. Sebab, normalisasi tersebut seharusnya dilakukan setiap tahun. Namun, karena pandemi, pihaknya baru memulai beberapa hari ini.

“Rencana, normalisasi ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Memang harusnya sudah dilakukan setiap tahun. Terutama tahun kemarin. Tetapi, karena ada pandemi, jadi mandek. Baru beberapa hari ini kami mulai kembali. Kami keruk sedimen yang menghambat jalannya air di Sungai Bondoyudo,” jelasnya.

Mandeknya normalisasi menyebabkan sedimen yang terbentuk pada sungai sangat parah. Dia menuturkan, pengerukan tersebut akan dilakukan secara kontinu dan detail. Agar aliran air dapat berjalan lancar. Tidak hanya di sungai besar, namun sepanjang jaringan irigasi (JI) Bondoyudo juga akan dilakukan normalisasi.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Setelah terhenti karena pandemi, normalisasi Sungai Bondoyudo mulai dilakukan, beberapa waktu lalu. Dari hulu di Lumajang hingga hilir di Kabupaten Jember, kawasan tersebut menjadi sasaran pengerukan sedimen sungai. Proyek normalisasi tersebut diperkirakan berjalan selama dua tahun.

Syamsul, Bagian Pengawasan dan Pengendalian Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Wilayah Sungai Bondoyudo Baru, mengatakan, normalisasi tersebut merupakan proyek multi-years pusat. Sehingga jangkauan normalisasi sangat luas dan panjang. “Normalisasi dimulai dari hulu hingga hilir di Jember,” katanya.

Meski alat berat dan pekerja proyek banyak, proyek normalisasi tersebut memerlukan waktu yang lama. Sebab, normalisasi tersebut seharusnya dilakukan setiap tahun. Namun, karena pandemi, pihaknya baru memulai beberapa hari ini.

“Rencana, normalisasi ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Memang harusnya sudah dilakukan setiap tahun. Terutama tahun kemarin. Tetapi, karena ada pandemi, jadi mandek. Baru beberapa hari ini kami mulai kembali. Kami keruk sedimen yang menghambat jalannya air di Sungai Bondoyudo,” jelasnya.

Mandeknya normalisasi menyebabkan sedimen yang terbentuk pada sungai sangat parah. Dia menuturkan, pengerukan tersebut akan dilakukan secara kontinu dan detail. Agar aliran air dapat berjalan lancar. Tidak hanya di sungai besar, namun sepanjang jaringan irigasi (JI) Bondoyudo juga akan dilakukan normalisasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/