alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Berawal dari Meneruskan Usaha Tetangga

Rohmawati, Penjual Es Rumput Laut Khas Tasik Asal Madura Menjadi penjual es bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi di musim yang tidak tentu seperti sekarang. Saat terik panas, pembeli ramai. Saat hujan datang, hanya segelintir pelanggan yang datang.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan berbaju merah itu melayani pembeli dengan ramah. Tangannya cekatan memasukkan bahan minuman es rumput laut di mangkok. Santan, air gula, kolang-kaling, cincau, nanas, melon, es batu, dan tentunya rumput laut dicampur jadi satu. Semangkuk itu dijual dengan harga lima ribu.
Pekerjaan sebagai penjual es sudah ditekuni Rohmawati selama belasan tahun. Es rumput laut khas Tasik, begitulah nama menu es yang tertulis di gerobak miliknya. Tepatnya di utara Taman Embong Kembar, Jalan Brigjen Katamso, Tompokersan, dia berjualan.
Wati, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa usaha tersebut tidak pernah terpikirkan di benaknya. Sebab, dia sudah memiliki kios kecil yang menjual jajanan ringan. Usaha itu berasal dari tetangganya dari Tasikmalaya, Jawa Barat. “Itu usaha milik tetangga asal Tasikmalaya. Karena cerai dan tidak terurus, gerobaknya dijual ke saya dengan harga murah,” kata ibu dua anak tersebut.
Dia menjelaskan, awalnya tidak tertarik untuk menjual es rumput laut. Sebab, penjual minuman itu sudah banyak. Akan tetapi, kekhasan es rumput laut Tasik belum banyak dijual orang.
“Banyak orang yang sudah jualan es rumput laut. Jadi, saya tidak tertarik. Tetapi, karena yang membuat es asli orang Tasik, saya akhirnya membeli gerobaknya dan belajar membuat es rumput laut khas Tasik,” jelasnya.
Perempuan kelahiran Madura tersebut mengungkapkan, tidak sulit membuat es rumput laut itu. Sebab, dia belajar langsung dari orang Tasik. “Tidak sulit membuatnya, karena dulu dia jualan di samping kios saya. Jadi, belajarnya langsung dari dia. Ternyata mudah membuatnya,” ungkapnya.
Usaha itu sudah dijalankan selama belasan tahun. Keuntungan penjualan es tersebut dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Saya menyekolahkan anak saya juga bagian dari hasil keuntungan jualan es campur. Karena pembeli lebih banyak mampir untuk membeli es rumput laut daripada makanan ringan,” ujarnya.
Mendekati puasa, dia mengatakan, harga bahan es rumput laut mulai mahal. Hal ini memang sudah biasa terjadi. Apalagi bahan-bahan es seperti cincau dan rumput laut banyak diburu mendekati puasa. “Kalau sekarang, kesulitan membeli bahan seperti cincau dan rumput laut. Bahkan, harga rumput laut sekarang Rp 15 ribu,” tambahnya.
Meski demikian, dia tidak mengeluh. Sebab, dia percaya usahanya tetap dapat berjalan. Apalagi saat bulan Ramadan. “Nah, kalau sudah Ramadan, harganya murah. Meski banyak orang yang membuat es rumput laut di rumah, tetap ada orang yang membeli untuk takjil berbuka,” pungkasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan berbaju merah itu melayani pembeli dengan ramah. Tangannya cekatan memasukkan bahan minuman es rumput laut di mangkok. Santan, air gula, kolang-kaling, cincau, nanas, melon, es batu, dan tentunya rumput laut dicampur jadi satu. Semangkuk itu dijual dengan harga lima ribu.
Pekerjaan sebagai penjual es sudah ditekuni Rohmawati selama belasan tahun. Es rumput laut khas Tasik, begitulah nama menu es yang tertulis di gerobak miliknya. Tepatnya di utara Taman Embong Kembar, Jalan Brigjen Katamso, Tompokersan, dia berjualan.
Wati, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa usaha tersebut tidak pernah terpikirkan di benaknya. Sebab, dia sudah memiliki kios kecil yang menjual jajanan ringan. Usaha itu berasal dari tetangganya dari Tasikmalaya, Jawa Barat. “Itu usaha milik tetangga asal Tasikmalaya. Karena cerai dan tidak terurus, gerobaknya dijual ke saya dengan harga murah,” kata ibu dua anak tersebut.
Dia menjelaskan, awalnya tidak tertarik untuk menjual es rumput laut. Sebab, penjual minuman itu sudah banyak. Akan tetapi, kekhasan es rumput laut Tasik belum banyak dijual orang.
“Banyak orang yang sudah jualan es rumput laut. Jadi, saya tidak tertarik. Tetapi, karena yang membuat es asli orang Tasik, saya akhirnya membeli gerobaknya dan belajar membuat es rumput laut khas Tasik,” jelasnya.
Perempuan kelahiran Madura tersebut mengungkapkan, tidak sulit membuat es rumput laut itu. Sebab, dia belajar langsung dari orang Tasik. “Tidak sulit membuatnya, karena dulu dia jualan di samping kios saya. Jadi, belajarnya langsung dari dia. Ternyata mudah membuatnya,” ungkapnya.
Usaha itu sudah dijalankan selama belasan tahun. Keuntungan penjualan es tersebut dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Saya menyekolahkan anak saya juga bagian dari hasil keuntungan jualan es campur. Karena pembeli lebih banyak mampir untuk membeli es rumput laut daripada makanan ringan,” ujarnya.
Mendekati puasa, dia mengatakan, harga bahan es rumput laut mulai mahal. Hal ini memang sudah biasa terjadi. Apalagi bahan-bahan es seperti cincau dan rumput laut banyak diburu mendekati puasa. “Kalau sekarang, kesulitan membeli bahan seperti cincau dan rumput laut. Bahkan, harga rumput laut sekarang Rp 15 ribu,” tambahnya.
Meski demikian, dia tidak mengeluh. Sebab, dia percaya usahanya tetap dapat berjalan. Apalagi saat bulan Ramadan. “Nah, kalau sudah Ramadan, harganya murah. Meski banyak orang yang membuat es rumput laut di rumah, tetap ada orang yang membeli untuk takjil berbuka,” pungkasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Perempuan berbaju merah itu melayani pembeli dengan ramah. Tangannya cekatan memasukkan bahan minuman es rumput laut di mangkok. Santan, air gula, kolang-kaling, cincau, nanas, melon, es batu, dan tentunya rumput laut dicampur jadi satu. Semangkuk itu dijual dengan harga lima ribu.
Pekerjaan sebagai penjual es sudah ditekuni Rohmawati selama belasan tahun. Es rumput laut khas Tasik, begitulah nama menu es yang tertulis di gerobak miliknya. Tepatnya di utara Taman Embong Kembar, Jalan Brigjen Katamso, Tompokersan, dia berjualan.
Wati, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa usaha tersebut tidak pernah terpikirkan di benaknya. Sebab, dia sudah memiliki kios kecil yang menjual jajanan ringan. Usaha itu berasal dari tetangganya dari Tasikmalaya, Jawa Barat. “Itu usaha milik tetangga asal Tasikmalaya. Karena cerai dan tidak terurus, gerobaknya dijual ke saya dengan harga murah,” kata ibu dua anak tersebut.
Dia menjelaskan, awalnya tidak tertarik untuk menjual es rumput laut. Sebab, penjual minuman itu sudah banyak. Akan tetapi, kekhasan es rumput laut Tasik belum banyak dijual orang.
“Banyak orang yang sudah jualan es rumput laut. Jadi, saya tidak tertarik. Tetapi, karena yang membuat es asli orang Tasik, saya akhirnya membeli gerobaknya dan belajar membuat es rumput laut khas Tasik,” jelasnya.
Perempuan kelahiran Madura tersebut mengungkapkan, tidak sulit membuat es rumput laut itu. Sebab, dia belajar langsung dari orang Tasik. “Tidak sulit membuatnya, karena dulu dia jualan di samping kios saya. Jadi, belajarnya langsung dari dia. Ternyata mudah membuatnya,” ungkapnya.
Usaha itu sudah dijalankan selama belasan tahun. Keuntungan penjualan es tersebut dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. “Saya menyekolahkan anak saya juga bagian dari hasil keuntungan jualan es campur. Karena pembeli lebih banyak mampir untuk membeli es rumput laut daripada makanan ringan,” ujarnya.
Mendekati puasa, dia mengatakan, harga bahan es rumput laut mulai mahal. Hal ini memang sudah biasa terjadi. Apalagi bahan-bahan es seperti cincau dan rumput laut banyak diburu mendekati puasa. “Kalau sekarang, kesulitan membeli bahan seperti cincau dan rumput laut. Bahkan, harga rumput laut sekarang Rp 15 ribu,” tambahnya.
Meski demikian, dia tidak mengeluh. Sebab, dia percaya usahanya tetap dapat berjalan. Apalagi saat bulan Ramadan. “Nah, kalau sudah Ramadan, harganya murah. Meski banyak orang yang membuat es rumput laut di rumah, tetap ada orang yang membeli untuk takjil berbuka,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/