alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pembangunan Saluran Air di Lumajang Molor, Pedagang Pinggiran Merugi

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Perumpamaan tersebut dialami oleh Sulifin, salah satu penjual bakso di Desa/Kecamatan Sumbersuko. Selama sepuluh hari, dia terpaksa menutup satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Sebab, di depan warung miliknya sedang ada proyek pembangunan saluran air.

Ripin, sapaan akrabnya, mengaku proyek tersebut berdampak bagi kondisi perekonomiannya. Sebab, dia tidak bisa berjualan sementara waktu. Bahkan, dia juga meliburkan karyawannya beberapa hari ini. “Galian di depan warung ini dimulai sepuluh hari lalu. Jadi, saya langsung menutup warung dan meliburkan karyawan. Selama itu, tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkapnya.

Praktis, setelah dimulainya galian tersebut, dia menggunakan penghasilan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, hal itu menghambat usaha yang dirintisnya bersama istrinya, empat bulan lalu. Dengan berat hati, dia memilih menutup warung. Namun, mulai hari ini, dia akan membuka lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau ada pengerjaan saluran dan warung buka, akan berisiko besar. Karena debunya pasti masuk. Sedangkan usaha ini kan makanan, jadi tidak bisa jika tetap dipaksa dibuka. Tapi, setelah ditutup, banyak pembeli yang kecele. Bahkan mereka menghubungi melalui pesan bertanya kapan buka lagi. Saya jawab besok (hari ini, Red) mulai buka lagi,” katanya.

Lelaki asal Desa Besuk, Tempeh, tersebut menjelaskan, dia harus merelakan saluran penutup air di depan warungnya dirusak. Sebab, hal tersebut untuk memudahkan pembangunan ulang. Alhasil, hanya besi bekas yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Namun, dia cukup kecewa. Sebab, tidak ada ganti rugi untuk itu.

“Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membuat penutup saluran air tidak sedikit. Bisa jutaan rupiah. Pasirnya paling tidak satu dump truck seharga Rp 800 ribu. Semennya minimal enam karung. Belum lagi batu dan lainnya,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Perumpamaan tersebut dialami oleh Sulifin, salah satu penjual bakso di Desa/Kecamatan Sumbersuko. Selama sepuluh hari, dia terpaksa menutup satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Sebab, di depan warung miliknya sedang ada proyek pembangunan saluran air.

Ripin, sapaan akrabnya, mengaku proyek tersebut berdampak bagi kondisi perekonomiannya. Sebab, dia tidak bisa berjualan sementara waktu. Bahkan, dia juga meliburkan karyawannya beberapa hari ini. “Galian di depan warung ini dimulai sepuluh hari lalu. Jadi, saya langsung menutup warung dan meliburkan karyawan. Selama itu, tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkapnya.

Praktis, setelah dimulainya galian tersebut, dia menggunakan penghasilan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, hal itu menghambat usaha yang dirintisnya bersama istrinya, empat bulan lalu. Dengan berat hati, dia memilih menutup warung. Namun, mulai hari ini, dia akan membuka lagi.

“Kalau ada pengerjaan saluran dan warung buka, akan berisiko besar. Karena debunya pasti masuk. Sedangkan usaha ini kan makanan, jadi tidak bisa jika tetap dipaksa dibuka. Tapi, setelah ditutup, banyak pembeli yang kecele. Bahkan mereka menghubungi melalui pesan bertanya kapan buka lagi. Saya jawab besok (hari ini, Red) mulai buka lagi,” katanya.

Lelaki asal Desa Besuk, Tempeh, tersebut menjelaskan, dia harus merelakan saluran penutup air di depan warungnya dirusak. Sebab, hal tersebut untuk memudahkan pembangunan ulang. Alhasil, hanya besi bekas yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Namun, dia cukup kecewa. Sebab, tidak ada ganti rugi untuk itu.

“Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membuat penutup saluran air tidak sedikit. Bisa jutaan rupiah. Pasirnya paling tidak satu dump truck seharga Rp 800 ribu. Semennya minimal enam karung. Belum lagi batu dan lainnya,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Perumpamaan tersebut dialami oleh Sulifin, salah satu penjual bakso di Desa/Kecamatan Sumbersuko. Selama sepuluh hari, dia terpaksa menutup satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Sebab, di depan warung miliknya sedang ada proyek pembangunan saluran air.

Ripin, sapaan akrabnya, mengaku proyek tersebut berdampak bagi kondisi perekonomiannya. Sebab, dia tidak bisa berjualan sementara waktu. Bahkan, dia juga meliburkan karyawannya beberapa hari ini. “Galian di depan warung ini dimulai sepuluh hari lalu. Jadi, saya langsung menutup warung dan meliburkan karyawan. Selama itu, tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkapnya.

Praktis, setelah dimulainya galian tersebut, dia menggunakan penghasilan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, hal itu menghambat usaha yang dirintisnya bersama istrinya, empat bulan lalu. Dengan berat hati, dia memilih menutup warung. Namun, mulai hari ini, dia akan membuka lagi.

“Kalau ada pengerjaan saluran dan warung buka, akan berisiko besar. Karena debunya pasti masuk. Sedangkan usaha ini kan makanan, jadi tidak bisa jika tetap dipaksa dibuka. Tapi, setelah ditutup, banyak pembeli yang kecele. Bahkan mereka menghubungi melalui pesan bertanya kapan buka lagi. Saya jawab besok (hari ini, Red) mulai buka lagi,” katanya.

Lelaki asal Desa Besuk, Tempeh, tersebut menjelaskan, dia harus merelakan saluran penutup air di depan warungnya dirusak. Sebab, hal tersebut untuk memudahkan pembangunan ulang. Alhasil, hanya besi bekas yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Namun, dia cukup kecewa. Sebab, tidak ada ganti rugi untuk itu.

“Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membuat penutup saluran air tidak sedikit. Bisa jutaan rupiah. Pasirnya paling tidak satu dump truck seharga Rp 800 ribu. Semennya minimal enam karung. Belum lagi batu dan lainnya,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/