alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Cerita Mustakim, Salah Satu Penjual Rangin di Lumajang

Memulai sesuatu yang baru memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Bagi Mustakim, hal tersebut sudah biasa. Sebab, dia pernah melewati satu pengalaman yang paling berat. Apa itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan seorang lelaki cekatan mengaduk adonan. Tepung beras, tepung ketan, parutan dan air kelapa diaduk di wadah besar. Sedangkan asap terus mengepul keluar dari kompor yang berada di rombong sebelahnya. Aroma sedap tercium dari kejauhan. Rangin.

Lelaki itu bernama Mustakim. Seorang penjual rangin di Jalan Ahmad Yani, Kepuharjo, Lumajang. Setiap hari, dia menjajakan rangin buatannya ke warga sekitar dan pengendara yang melintas. Tanpa ajakan membeli, orang-orang sudah berbondong-bondong menghampiri. “Rezeki sudah ada yang mengatur. Dan setiap rezeki yang datang tidak pernah salah alamat,” katanya.

Falsafah itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap bertahap di tengah pandemi. Dia mengungkapkan, ide jualan tersebut bukan darinya. Melainkan saran dari kakaknya yang berada di luar kota. “Kamu belajar buat rangin di sini. Nanti, di Lumajang kamu tidak perlu bingung dan repot bekerja serabutan lagi. Cukup jual rangin seperti saya di sini,” ucapnya menirukan kakaknya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saran tersebut diterima. Dia lantas belajar bersama kakaknya beberapa kali. Resep yang diberikan tidak main-main. Itu resep keluarga yang sudah turun-temurun. Oleh sebab itu, banyak masyarakat kembali ingin membeli ranginnya setelah mencoba. “Kata pembeli, rasanya gurih dan enak,” tambahnya.

Padahal, jika melihat proses dan bahannya, tidak berbeda dengan rangin lainnya. Tidak hanya itu, pemilihan tempat jualan juga menjadi faktor ranginnya digemari banyak orang. Dia memilih menjual di sekitar kawasan kota. Sebab, orang kota jarang makan makanan tradisional seperti rangin.

“Kalau di rumah atau di desa sudah dianggap biasa. Tapi, kalau di kota, mereka akan mencobanya. Pertama, mereka hanya tertarik. Kedua, ketiga, dan seterusnya akan merasakan nikmatnya rangin. Apalagi bagi mereka yang hampir setiap hari tidak merasakan jajanan tradisional seperti rangin,” jelasnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan seorang lelaki cekatan mengaduk adonan. Tepung beras, tepung ketan, parutan dan air kelapa diaduk di wadah besar. Sedangkan asap terus mengepul keluar dari kompor yang berada di rombong sebelahnya. Aroma sedap tercium dari kejauhan. Rangin.

Lelaki itu bernama Mustakim. Seorang penjual rangin di Jalan Ahmad Yani, Kepuharjo, Lumajang. Setiap hari, dia menjajakan rangin buatannya ke warga sekitar dan pengendara yang melintas. Tanpa ajakan membeli, orang-orang sudah berbondong-bondong menghampiri. “Rezeki sudah ada yang mengatur. Dan setiap rezeki yang datang tidak pernah salah alamat,” katanya.

Falsafah itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap bertahap di tengah pandemi. Dia mengungkapkan, ide jualan tersebut bukan darinya. Melainkan saran dari kakaknya yang berada di luar kota. “Kamu belajar buat rangin di sini. Nanti, di Lumajang kamu tidak perlu bingung dan repot bekerja serabutan lagi. Cukup jual rangin seperti saya di sini,” ucapnya menirukan kakaknya.

Saran tersebut diterima. Dia lantas belajar bersama kakaknya beberapa kali. Resep yang diberikan tidak main-main. Itu resep keluarga yang sudah turun-temurun. Oleh sebab itu, banyak masyarakat kembali ingin membeli ranginnya setelah mencoba. “Kata pembeli, rasanya gurih dan enak,” tambahnya.

Padahal, jika melihat proses dan bahannya, tidak berbeda dengan rangin lainnya. Tidak hanya itu, pemilihan tempat jualan juga menjadi faktor ranginnya digemari banyak orang. Dia memilih menjual di sekitar kawasan kota. Sebab, orang kota jarang makan makanan tradisional seperti rangin.

“Kalau di rumah atau di desa sudah dianggap biasa. Tapi, kalau di kota, mereka akan mencobanya. Pertama, mereka hanya tertarik. Kedua, ketiga, dan seterusnya akan merasakan nikmatnya rangin. Apalagi bagi mereka yang hampir setiap hari tidak merasakan jajanan tradisional seperti rangin,” jelasnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Tangan seorang lelaki cekatan mengaduk adonan. Tepung beras, tepung ketan, parutan dan air kelapa diaduk di wadah besar. Sedangkan asap terus mengepul keluar dari kompor yang berada di rombong sebelahnya. Aroma sedap tercium dari kejauhan. Rangin.

Lelaki itu bernama Mustakim. Seorang penjual rangin di Jalan Ahmad Yani, Kepuharjo, Lumajang. Setiap hari, dia menjajakan rangin buatannya ke warga sekitar dan pengendara yang melintas. Tanpa ajakan membeli, orang-orang sudah berbondong-bondong menghampiri. “Rezeki sudah ada yang mengatur. Dan setiap rezeki yang datang tidak pernah salah alamat,” katanya.

Falsafah itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap bertahap di tengah pandemi. Dia mengungkapkan, ide jualan tersebut bukan darinya. Melainkan saran dari kakaknya yang berada di luar kota. “Kamu belajar buat rangin di sini. Nanti, di Lumajang kamu tidak perlu bingung dan repot bekerja serabutan lagi. Cukup jual rangin seperti saya di sini,” ucapnya menirukan kakaknya.

Saran tersebut diterima. Dia lantas belajar bersama kakaknya beberapa kali. Resep yang diberikan tidak main-main. Itu resep keluarga yang sudah turun-temurun. Oleh sebab itu, banyak masyarakat kembali ingin membeli ranginnya setelah mencoba. “Kata pembeli, rasanya gurih dan enak,” tambahnya.

Padahal, jika melihat proses dan bahannya, tidak berbeda dengan rangin lainnya. Tidak hanya itu, pemilihan tempat jualan juga menjadi faktor ranginnya digemari banyak orang. Dia memilih menjual di sekitar kawasan kota. Sebab, orang kota jarang makan makanan tradisional seperti rangin.

“Kalau di rumah atau di desa sudah dianggap biasa. Tapi, kalau di kota, mereka akan mencobanya. Pertama, mereka hanya tertarik. Kedua, ketiga, dan seterusnya akan merasakan nikmatnya rangin. Apalagi bagi mereka yang hampir setiap hari tidak merasakan jajanan tradisional seperti rangin,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/