alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Nyeri Dada Sering Disepelekan

Mengenal Penyakit Jantung Koroner (PJK), Pembunuh Nomer Satu Tidak sedikit yang menyepelekan jenis penyakit jantung. Padahal penyakit yang dikenal sebagai pembunuh nomor satu ini bisa menyerang sewaktu-waktu. Salah sedikit saja penanganannya bisa berdampak fatal. Di Lumajang penderitanya semakin meningkat.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Munculnya nyeri dada kadang masih sering disepelekan atau diremehkan banyak orang. Padahal, bisa jadi nyeri dada itu merupakan gejala dari serangan jantung. Jika hal ini dibiarkan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengenali gejala-gejalanya.
dr Hendrawati SpJP, dokter spesialis penyakit jantung RSUD dr Haryoto, Lumajang, mengatakan, nyeri dada dapat berlangsung dalam waktu singkat hingga berhari-hari. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi seseorang mengalami penyakit jantung koroner (PJK). “Sakitnya bervariasi. Bisa sakit tiba-tiba dengan waktu yang relatif singkat, hitungan jam, hingga berhari-hari,” katanya.
Nyeri itu, lanjut dia, menjalar hingga leher, rahang, bahu, dan punggung. Intensitas sakitnya pun berbeda-beda. Mulai dari nyeri ringan hingga berat seperti ditindih dan ditusuk-tusuk. “Ada namanya nyeri dada khas seperti menjalar ke leher, rahang, bahu, dan punggung. Kalau sakitnya sebentar itu berarti ringan. Tetapi kalau sakitnya seperti ditindih dan menusuk-nusuk, itu nyeri dada yang berat dan bisa jadi serangan jantung,” lanjutnya.
Bagi orang awam, PJK sering kali disebut sebagai serangan jantung. Padahal sejatinya, di dunia medis, istilah yang tepat adalah PJK. Memang keduanya hampir sama, hanya berbeda durasi waktu. “Orang-orang mengenalnya hanya serangan jantung. Padahal, sakit jantung itu banyak. Serangan jantung merupakan bagian dari PJK. Hanya berbeda di waktu saja. Prosesnya karena ada penyempitan arteri di jantung dalam waktu yang lama. Sedangkan serangan jantung ada penyempitan secara mendadak,” jelasnya.
Dia menuturkan, ada dua fakta risiko yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung. Dua fakta tersebut adalah fakta yang bisa dimodifikasi atau diubah dan fakta yang tidak bisa diubah. “Jika fakta yang dapat dimodifikasi atau ditekan itu bisa karena rokok, diabetes, hipertensi, kolesterol, dan obesitas. Sedangkan fakta risiko yang tidak dapat diubah adalah keturunan atau genetik, jenis kelamin, dan usia,” tuturnya.
Seseorang dengan fakta risiko yang tinggi menyebabkan serangan jantung lebih besar. Misalnya saat seseorang yang menderita diabetes dan kolesterol, maka dia berisiko besar terkena serangan jantung.
“Apalagi fakta risikonya banyak, sudah pasti jika terkena serangan jantung, kemungkinan kecil bisa selamat. Misalnya dia menderita diabetes, kolesterol, hipertensi, dan pengguna aktif rokok. Risiko serangan jantungnya lebih besar,” pungkasnya.
Sementara itu, dr Rosalia, Kepala Bidang Medis RSUD dr Haryoto, Lumajang, menyebutkan, risiko tersebut menyebabkan fakta risiko yang kerap dialami penderita adalah fakta yang tidak dapat diubah. Yaitu genetik, jenis kelamin, dan usia. “Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki dan berusia tua cenderung terkena serangan jantung yang lebih besar daripada wanita, meskipun usianya sama-sama tua,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, selama tahun 2020, ada 28 kasus PJK. Sebanyak 18 di antaranya merupakan pasien laki-laki dan usia di atas 40 tahun. “Nah, di tahun 2021 ini justru ada penambahan. Per 26 Maret, sudah ada 25 kasus dengan jumlah pasien laki-laki sebanyak 17 orang,” ungkapnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Munculnya nyeri dada kadang masih sering disepelekan atau diremehkan banyak orang. Padahal, bisa jadi nyeri dada itu merupakan gejala dari serangan jantung. Jika hal ini dibiarkan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengenali gejala-gejalanya.
dr Hendrawati SpJP, dokter spesialis penyakit jantung RSUD dr Haryoto, Lumajang, mengatakan, nyeri dada dapat berlangsung dalam waktu singkat hingga berhari-hari. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi seseorang mengalami penyakit jantung koroner (PJK). “Sakitnya bervariasi. Bisa sakit tiba-tiba dengan waktu yang relatif singkat, hitungan jam, hingga berhari-hari,” katanya.
Nyeri itu, lanjut dia, menjalar hingga leher, rahang, bahu, dan punggung. Intensitas sakitnya pun berbeda-beda. Mulai dari nyeri ringan hingga berat seperti ditindih dan ditusuk-tusuk. “Ada namanya nyeri dada khas seperti menjalar ke leher, rahang, bahu, dan punggung. Kalau sakitnya sebentar itu berarti ringan. Tetapi kalau sakitnya seperti ditindih dan menusuk-nusuk, itu nyeri dada yang berat dan bisa jadi serangan jantung,” lanjutnya.
Bagi orang awam, PJK sering kali disebut sebagai serangan jantung. Padahal sejatinya, di dunia medis, istilah yang tepat adalah PJK. Memang keduanya hampir sama, hanya berbeda durasi waktu. “Orang-orang mengenalnya hanya serangan jantung. Padahal, sakit jantung itu banyak. Serangan jantung merupakan bagian dari PJK. Hanya berbeda di waktu saja. Prosesnya karena ada penyempitan arteri di jantung dalam waktu yang lama. Sedangkan serangan jantung ada penyempitan secara mendadak,” jelasnya.
Dia menuturkan, ada dua fakta risiko yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung. Dua fakta tersebut adalah fakta yang bisa dimodifikasi atau diubah dan fakta yang tidak bisa diubah. “Jika fakta yang dapat dimodifikasi atau ditekan itu bisa karena rokok, diabetes, hipertensi, kolesterol, dan obesitas. Sedangkan fakta risiko yang tidak dapat diubah adalah keturunan atau genetik, jenis kelamin, dan usia,” tuturnya.
Seseorang dengan fakta risiko yang tinggi menyebabkan serangan jantung lebih besar. Misalnya saat seseorang yang menderita diabetes dan kolesterol, maka dia berisiko besar terkena serangan jantung.
“Apalagi fakta risikonya banyak, sudah pasti jika terkena serangan jantung, kemungkinan kecil bisa selamat. Misalnya dia menderita diabetes, kolesterol, hipertensi, dan pengguna aktif rokok. Risiko serangan jantungnya lebih besar,” pungkasnya.
Sementara itu, dr Rosalia, Kepala Bidang Medis RSUD dr Haryoto, Lumajang, menyebutkan, risiko tersebut menyebabkan fakta risiko yang kerap dialami penderita adalah fakta yang tidak dapat diubah. Yaitu genetik, jenis kelamin, dan usia. “Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki dan berusia tua cenderung terkena serangan jantung yang lebih besar daripada wanita, meskipun usianya sama-sama tua,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, selama tahun 2020, ada 28 kasus PJK. Sebanyak 18 di antaranya merupakan pasien laki-laki dan usia di atas 40 tahun. “Nah, di tahun 2021 ini justru ada penambahan. Per 26 Maret, sudah ada 25 kasus dengan jumlah pasien laki-laki sebanyak 17 orang,” ungkapnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Munculnya nyeri dada kadang masih sering disepelekan atau diremehkan banyak orang. Padahal, bisa jadi nyeri dada itu merupakan gejala dari serangan jantung. Jika hal ini dibiarkan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengenali gejala-gejalanya.
dr Hendrawati SpJP, dokter spesialis penyakit jantung RSUD dr Haryoto, Lumajang, mengatakan, nyeri dada dapat berlangsung dalam waktu singkat hingga berhari-hari. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi seseorang mengalami penyakit jantung koroner (PJK). “Sakitnya bervariasi. Bisa sakit tiba-tiba dengan waktu yang relatif singkat, hitungan jam, hingga berhari-hari,” katanya.
Nyeri itu, lanjut dia, menjalar hingga leher, rahang, bahu, dan punggung. Intensitas sakitnya pun berbeda-beda. Mulai dari nyeri ringan hingga berat seperti ditindih dan ditusuk-tusuk. “Ada namanya nyeri dada khas seperti menjalar ke leher, rahang, bahu, dan punggung. Kalau sakitnya sebentar itu berarti ringan. Tetapi kalau sakitnya seperti ditindih dan menusuk-nusuk, itu nyeri dada yang berat dan bisa jadi serangan jantung,” lanjutnya.
Bagi orang awam, PJK sering kali disebut sebagai serangan jantung. Padahal sejatinya, di dunia medis, istilah yang tepat adalah PJK. Memang keduanya hampir sama, hanya berbeda durasi waktu. “Orang-orang mengenalnya hanya serangan jantung. Padahal, sakit jantung itu banyak. Serangan jantung merupakan bagian dari PJK. Hanya berbeda di waktu saja. Prosesnya karena ada penyempitan arteri di jantung dalam waktu yang lama. Sedangkan serangan jantung ada penyempitan secara mendadak,” jelasnya.
Dia menuturkan, ada dua fakta risiko yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung. Dua fakta tersebut adalah fakta yang bisa dimodifikasi atau diubah dan fakta yang tidak bisa diubah. “Jika fakta yang dapat dimodifikasi atau ditekan itu bisa karena rokok, diabetes, hipertensi, kolesterol, dan obesitas. Sedangkan fakta risiko yang tidak dapat diubah adalah keturunan atau genetik, jenis kelamin, dan usia,” tuturnya.
Seseorang dengan fakta risiko yang tinggi menyebabkan serangan jantung lebih besar. Misalnya saat seseorang yang menderita diabetes dan kolesterol, maka dia berisiko besar terkena serangan jantung.
“Apalagi fakta risikonya banyak, sudah pasti jika terkena serangan jantung, kemungkinan kecil bisa selamat. Misalnya dia menderita diabetes, kolesterol, hipertensi, dan pengguna aktif rokok. Risiko serangan jantungnya lebih besar,” pungkasnya.
Sementara itu, dr Rosalia, Kepala Bidang Medis RSUD dr Haryoto, Lumajang, menyebutkan, risiko tersebut menyebabkan fakta risiko yang kerap dialami penderita adalah fakta yang tidak dapat diubah. Yaitu genetik, jenis kelamin, dan usia. “Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki dan berusia tua cenderung terkena serangan jantung yang lebih besar daripada wanita, meskipun usianya sama-sama tua,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, selama tahun 2020, ada 28 kasus PJK. Sebanyak 18 di antaranya merupakan pasien laki-laki dan usia di atas 40 tahun. “Nah, di tahun 2021 ini justru ada penambahan. Per 26 Maret, sudah ada 25 kasus dengan jumlah pasien laki-laki sebanyak 17 orang,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/