alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Punya Utang Ratusan Miliar, Pemkab Lumajang Cari Cara Dongkrak PAD

Memiliki utang ratusan miliar rupiah membuat Pemkab Lumajang memutar otak untuk mendapat pemasukan. Sampai-sampai mewacanakan penarikan retribusi sampah dari seluruh pasar yang ada di Lumajang.

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebetulnya wacana tersebut bukan sekadar rencana tanpa aksi. Sebab, niatan itu ternyata telah dimasukkan dalam raperda mengenai persampahan yang bakal dibahas tahun ini. Pasar ini masuk kategori bisnis kecil yang harus dipungut retribusi. Sebab, setiap hari menghasilkan sampah yang tidak sedikit.

Besaran tarif retribusi sampah ditentukan menjadi lima kategori berdasar penggunaan listrik. Yaitu kategori rumah tangga, bisnis, fasilitas masyarakat milik swasta, industri, dan umum. Sekalipun pasar tidak memiliki penggunaan daya listrik, tetapi masuk sebagai kategori bisnis kecil yang harus dikendalikan sampahnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Yuli Haris mengatakan, potensi timbulan sampah terus mengalami peningkatan. Hal itu diakibatkan jumlah populasi penduduk yang kian bertambah. Karenanya, keberadaan sampah perlu diatur dan dikendalikan. Caranya, menarik retribusi sampah di semua tempat yang menghasilkan sampah.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Pasar masuk, ini rencana kami dalam mengendalikan sampah sekaligus meningkatkan pendapatan. Sampah menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius. Karena setiap pedagang menghasilkan sampah, seperti itu sayur busuk, buah busuk, dan banyak lainnya. Akumulasi sampah setiap hari yang masuk TPA Lempeni sangat banyak,” katanya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pasar masuk kategori bisnis kecil yang tercantum dalam draf Raperda tentang Retribusi Pelayanan Persampahan atau Kebersihan. Mengenai kapan pungutan retribusi pada setiap pedagang di pasar belum ditetapkan. Sebab, masih menunggu pembahasan. Entah setiap bulan atau setiap hari.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebetulnya wacana tersebut bukan sekadar rencana tanpa aksi. Sebab, niatan itu ternyata telah dimasukkan dalam raperda mengenai persampahan yang bakal dibahas tahun ini. Pasar ini masuk kategori bisnis kecil yang harus dipungut retribusi. Sebab, setiap hari menghasilkan sampah yang tidak sedikit.

Besaran tarif retribusi sampah ditentukan menjadi lima kategori berdasar penggunaan listrik. Yaitu kategori rumah tangga, bisnis, fasilitas masyarakat milik swasta, industri, dan umum. Sekalipun pasar tidak memiliki penggunaan daya listrik, tetapi masuk sebagai kategori bisnis kecil yang harus dikendalikan sampahnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Yuli Haris mengatakan, potensi timbulan sampah terus mengalami peningkatan. Hal itu diakibatkan jumlah populasi penduduk yang kian bertambah. Karenanya, keberadaan sampah perlu diatur dan dikendalikan. Caranya, menarik retribusi sampah di semua tempat yang menghasilkan sampah.

“Pasar masuk, ini rencana kami dalam mengendalikan sampah sekaligus meningkatkan pendapatan. Sampah menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius. Karena setiap pedagang menghasilkan sampah, seperti itu sayur busuk, buah busuk, dan banyak lainnya. Akumulasi sampah setiap hari yang masuk TPA Lempeni sangat banyak,” katanya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pasar masuk kategori bisnis kecil yang tercantum dalam draf Raperda tentang Retribusi Pelayanan Persampahan atau Kebersihan. Mengenai kapan pungutan retribusi pada setiap pedagang di pasar belum ditetapkan. Sebab, masih menunggu pembahasan. Entah setiap bulan atau setiap hari.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebetulnya wacana tersebut bukan sekadar rencana tanpa aksi. Sebab, niatan itu ternyata telah dimasukkan dalam raperda mengenai persampahan yang bakal dibahas tahun ini. Pasar ini masuk kategori bisnis kecil yang harus dipungut retribusi. Sebab, setiap hari menghasilkan sampah yang tidak sedikit.

Besaran tarif retribusi sampah ditentukan menjadi lima kategori berdasar penggunaan listrik. Yaitu kategori rumah tangga, bisnis, fasilitas masyarakat milik swasta, industri, dan umum. Sekalipun pasar tidak memiliki penggunaan daya listrik, tetapi masuk sebagai kategori bisnis kecil yang harus dikendalikan sampahnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Yuli Haris mengatakan, potensi timbulan sampah terus mengalami peningkatan. Hal itu diakibatkan jumlah populasi penduduk yang kian bertambah. Karenanya, keberadaan sampah perlu diatur dan dikendalikan. Caranya, menarik retribusi sampah di semua tempat yang menghasilkan sampah.

“Pasar masuk, ini rencana kami dalam mengendalikan sampah sekaligus meningkatkan pendapatan. Sampah menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius. Karena setiap pedagang menghasilkan sampah, seperti itu sayur busuk, buah busuk, dan banyak lainnya. Akumulasi sampah setiap hari yang masuk TPA Lempeni sangat banyak,” katanya.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, pasar masuk kategori bisnis kecil yang tercantum dalam draf Raperda tentang Retribusi Pelayanan Persampahan atau Kebersihan. Mengenai kapan pungutan retribusi pada setiap pedagang di pasar belum ditetapkan. Sebab, masih menunggu pembahasan. Entah setiap bulan atau setiap hari.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/