alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Jadi Momentum Meluruskan Arah Kiblat

Ditemukan Ada yang Masih Melenceng ke Utara

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Peristiwa gerhana bulan total, Rabu malam, memang menarik. Sebab, seluruh masyarakat Lumajang dapat melihatnya secara langsung. Namun, tidak hanya itu, fenomena alam lain juga terjadi dua hari ini. Masyarakat bisa melihat posisi matahari tepat di atas Kakbah.

Hal ini hanya terjadi dua kali dalam setiap tahun. Yakni pada tanggal 27-28 Mei dan 15-16 Juli. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 16.18 WIB. “Peristiwa seperti ini disebut istiwa a’zham atau rashdul qiblah. Artinya, posisi matahari tepat di atas Kakbah. Sehingga, bayangan benda yang terkena sinar matahari bisa menjadi petunjuk arah kiblat,” kata Hidayatulloh, Ketua Lembaga Falaqiyah NU Lumajang.

Momentum tersebut dapat digunakan masyarakat Lumajang untuk memeriksa ulang arah kiblat. “Tidak perlu alat khusus. Hanya dengan tongkat yang ditancapkan ke tanah atau tongkat yang ditegakkan di atas tanah datar. Bayangan itu akan langsung menunjukkan arah kiblat yang tepat mengarah ke Kakbah. Sehingga, ini pedoman yang bisa dipegang teguh seluruh umat muslim,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menuturkan, bayangan dapat dilihat jika kondisi langit tidak mendung. Sebab, yang dibutuhkan adalah bayangan yang terbentuk dari benda di atas tanah. “Jika memakai tongkat, maka tongkatnya tidak boleh miring. Harus tegak berdiri dan langit tidak mendung. Di mana pun tempatnya, bayangan akan tetap mengarah ke kiblat,” tuturnya.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memegang pedoman itu. Sebab, sebagian masyarakat menggunakan pedoman para pendahulu. “Rata-rata memakai pedoman yang dahulu dan turun-temurun. Yakni condong 15 derajat dari barat ke arah utara. Padahal, yang tepat adalah antara 23-24 derajat,” tambahnya.

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Peristiwa gerhana bulan total, Rabu malam, memang menarik. Sebab, seluruh masyarakat Lumajang dapat melihatnya secara langsung. Namun, tidak hanya itu, fenomena alam lain juga terjadi dua hari ini. Masyarakat bisa melihat posisi matahari tepat di atas Kakbah.

Hal ini hanya terjadi dua kali dalam setiap tahun. Yakni pada tanggal 27-28 Mei dan 15-16 Juli. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 16.18 WIB. “Peristiwa seperti ini disebut istiwa a’zham atau rashdul qiblah. Artinya, posisi matahari tepat di atas Kakbah. Sehingga, bayangan benda yang terkena sinar matahari bisa menjadi petunjuk arah kiblat,” kata Hidayatulloh, Ketua Lembaga Falaqiyah NU Lumajang.

Momentum tersebut dapat digunakan masyarakat Lumajang untuk memeriksa ulang arah kiblat. “Tidak perlu alat khusus. Hanya dengan tongkat yang ditancapkan ke tanah atau tongkat yang ditegakkan di atas tanah datar. Bayangan itu akan langsung menunjukkan arah kiblat yang tepat mengarah ke Kakbah. Sehingga, ini pedoman yang bisa dipegang teguh seluruh umat muslim,” jelasnya.

Dia menuturkan, bayangan dapat dilihat jika kondisi langit tidak mendung. Sebab, yang dibutuhkan adalah bayangan yang terbentuk dari benda di atas tanah. “Jika memakai tongkat, maka tongkatnya tidak boleh miring. Harus tegak berdiri dan langit tidak mendung. Di mana pun tempatnya, bayangan akan tetap mengarah ke kiblat,” tuturnya.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memegang pedoman itu. Sebab, sebagian masyarakat menggunakan pedoman para pendahulu. “Rata-rata memakai pedoman yang dahulu dan turun-temurun. Yakni condong 15 derajat dari barat ke arah utara. Padahal, yang tepat adalah antara 23-24 derajat,” tambahnya.

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Peristiwa gerhana bulan total, Rabu malam, memang menarik. Sebab, seluruh masyarakat Lumajang dapat melihatnya secara langsung. Namun, tidak hanya itu, fenomena alam lain juga terjadi dua hari ini. Masyarakat bisa melihat posisi matahari tepat di atas Kakbah.

Hal ini hanya terjadi dua kali dalam setiap tahun. Yakni pada tanggal 27-28 Mei dan 15-16 Juli. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 16.18 WIB. “Peristiwa seperti ini disebut istiwa a’zham atau rashdul qiblah. Artinya, posisi matahari tepat di atas Kakbah. Sehingga, bayangan benda yang terkena sinar matahari bisa menjadi petunjuk arah kiblat,” kata Hidayatulloh, Ketua Lembaga Falaqiyah NU Lumajang.

Momentum tersebut dapat digunakan masyarakat Lumajang untuk memeriksa ulang arah kiblat. “Tidak perlu alat khusus. Hanya dengan tongkat yang ditancapkan ke tanah atau tongkat yang ditegakkan di atas tanah datar. Bayangan itu akan langsung menunjukkan arah kiblat yang tepat mengarah ke Kakbah. Sehingga, ini pedoman yang bisa dipegang teguh seluruh umat muslim,” jelasnya.

Dia menuturkan, bayangan dapat dilihat jika kondisi langit tidak mendung. Sebab, yang dibutuhkan adalah bayangan yang terbentuk dari benda di atas tanah. “Jika memakai tongkat, maka tongkatnya tidak boleh miring. Harus tegak berdiri dan langit tidak mendung. Di mana pun tempatnya, bayangan akan tetap mengarah ke kiblat,” tuturnya.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memegang pedoman itu. Sebab, sebagian masyarakat menggunakan pedoman para pendahulu. “Rata-rata memakai pedoman yang dahulu dan turun-temurun. Yakni condong 15 derajat dari barat ke arah utara. Padahal, yang tepat adalah antara 23-24 derajat,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/